Minggu, 16 Mei 2010

psikopat


PSIKOPAT
A. Latar Belakang
Psikopat adalah suatu gejala kelainan kepribadian yang sejak dulu dianggap berbahaya dan mengganggu masyarakat. Psikopat bukan hanya yang bersifat kriminal atau seksual, melainkan juga yang non-kriminal dan non-seksual. Justru tipe yang nampaknya tidak berbahaya, tampil seperti orang bisa, bahkan dengan prilaku yang menarik itulah yang lebih sering merugikan masyarakat. Itulah pula yang kadang-kadang menimbulkan kontroversi tentang istilah. Kebanyakan pakar menambahkan gejala ini “Psikopat” (karena yang menderita kalainan [patologik] adalah jiwa individualnya [Psyche], sementara sebagian pakar lain lebih suka menamakannya “Sosiopat” (karena melanggar norma sosial, dan masyarakat [society]-lah yang akhirnya menjadi korban).
Psikopat sebagai gejala kelainan kepribadian eksis dalam jurnal-jurnal ilmiah. Bahwa pengaruh awam besar terhadap dunia ilmu Psikopat, ternyata bukan hanya terbatas dalam pendefinisian dan pendeskripsian kelainan jiwa itu saja, melainkan juga dalam hal terapi dan pencegahannya, sebagaimana akan dibahas dalam bagian lain dari makalah ini.
Laporan lain mengenai faktor penyebab Psikopat dikemukakan oleh Kirkman (2002). Menurut Kirkman, yang penting adalah mempelajari faktor-faktor penyebab dari Psikopat-psikopat yang di luar rumah sakit atau penjara, sebab mereka ada di tangah-tangah masyarakat dan bisa langsung merugikan masyarakat. Menurut penelitiannya, mereka yang berkeperibadian Psikopat mempunyai latar belakang masa kecil yang tidak memberi peluang untuk perkembangan emosinya secara optimal. Anak-anak yang tidak dididik dan diasuh sedemikian rupa sehingga emosinya berkembang dengan baik, akan tumbuh menjadi orang-orang yang tidak bisa berempati dan tidak mempunyai kata hati (conscience). Dengan perkataan lain, mereka akan menjadi orang dengan kepribadian Psikopat.
B. Pengertian Psikopat
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit, pengidapnya disebut sosiopat karena prilakunaya anti sosial. Psikopat berasal dari kata pycopath adalah kelainan kejiwaan pada seseorang sehingga seolah-olah memusuhi masyarakat dan mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan masyarakat.
Dan ada pula yaitu psychopathic adalah reaksi seseorang yang sedang bertindak dan melanggar hukum dalam upaya mengatasi pantasi.
Atau kata dari psychopathy adalah kekalutan mental yang ditandai dengan tindak adanya pengorganisasian sosial dan pengintekrasian pribadi, pribadinya anti sosial tidak bisa bertanggung jawab secara moral, selalu konflik dengan norma-norma, karena sepanjang kehidupannya berada dalam lingkungan sosial yang in-moral. Meliputi perasaan benci, dendam, dikejar-kejar gelisah penuh ketakutan, kacau, merasa bersalah, berdosa dan tidak memiliki rasa kemanusiaan.
Psikopat adalah bentuk kekalutan mental di tandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi, orang yang tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral. Dengan adaptasi sosial yang tidak normal, dan selalu konflik dengan norma-norma sosial dan hukum, karena sepanjang hayatnya ia hidup dalam “lingkungan sosial yang abnormal dan immoral” yang diciptakan oleh angan-angan sendiri.
C. Gejala dari Psikopat
Gangguan kepribadian anti sosial adalah sebutan diagnosis untuk masalah yang akan dibicarakan dalam bagian ini, tetapi individu yang mengalami gangguan ini bisanya di sebut sebagai orang psikopat atau sosiopat, yang mengalami anti sosial adalah orang yang tidak memiliki kematangan dan rasa tanggung jawab, tidak mampu memilih akibat-akibat dari tingkah laku. Diagnosis ini mencakup tingkah laku yang secara tradisional diklasifikasikan sebagai “keadaan psikopat konstitusional” atau kepribadian psikopatik.
Ada dua aspek diagnosis yang harus di ketahui yaitu :
1. SesEorang individu harus berusiA 18 tahun sebelum di diagnosis sebagai orang yang menderita gangguan antisosial karena kita yakin bahwa individu pada usia tersebut memiliki peluang untuk mempelajari apa itu tingkah laku yang tidak tepat.
2. Tingkah laku demkuen (bersifat selalu melanggar aturan) atau kriminal melainkan peran yang sangat penting dalam menentukan diagnosis.
Pada gaibnya, orang-orang psikopat itu masa mudanya secara minim sekali bahkan hampir sama sekali tidak peRnah mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya.
Selama 5 tahun pertama dia tidak pernah merasakan kelembutan-kelembutan kemesraan kasih, sehingga untuk selama-lamanya individu yang bersangkutan kehilangan atau tidak sanggup mengembangkan kemampuan menerima dan memberikan cinta-kasih dan simpati, maka sepanjang hidup sampai usia dewasa dan tua, dia kehilangan perasaan (sosialitas) dan rasa kemanusiaannya. Dia tidak mampu menjalin relasi human dengan siapapun juga. Perasaannya selalu tidak senang dan tidak puas.
Jiwanya senantiasa diliputi rasa benci, iri, dendam, curiga, rasa dikejar-kejar dan dituduh. Sehingga jiwanya menjadi gelisah, tegang, penuh ketakutan, lalu menjadi kacau-balau, serta diliputi bayangan fikiran dan perasaan yang kegila-gilaan. Terjadilah kemudian disentegrasi dan organisasi kepribadian tanpa memiliki rasa sosial dan rasa kemanusiaan yang wajar.
D. Kriteria Diagnosis untuk Gangguan Kepribadian Anti-sosial.
1. Usia individu sekurang-kurangnya 18 tahun
2. Ada bukti gangguan tingkah laku yang timbul sebelum usia 15 tahun
3. Suatu pola sikap acuh tak acuh yang perkasif dan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain yang terjadi pada usia 18 tahun seperti yang di perlihatkan sebagai berikut :
a. Tidak mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial berkenaan dengan tingkah laku yang sesuai dengan hukum yang seperti dinyatakan dengan berkali-kali melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadi dasar untuk penahanan.
b. Sifat lekas moral dan agresif, seperti dinyatakan dengan berkali-kali mengadakan perkelahian dan penyerangan fisik.
c. Selalu tidak bertanggung jawab, seperti dinyatakan dengan ketidak mampuan mempertahankan tingkah laku yang tetap dibidang pekerjaan atau memenuhi kewajiban-kewajiban di bidang keuangan.
d. Melakukan tindakan menurut kata hati (bersifat impulsif) dan tidak mampu merencanakan sebelumnya.
e. Penipuan, seperti dinyatakan dengan berkali-kali berbohong, menggunakan nama-nama lain atau menipu orang lain untuk keuntungan atau kesenangan pribadi.
f. Kesemberonoan dengan tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri dan orang lain.
g. Tidak ada rasa penyesalan, seperti dinyatakan dengan sikap acuh tak acuh atau rasionalsasi terhadap perbuatan yang menyakiti, menganiaya, atau mencuri dari orang lain.
4. Peristiwa tingkah laku anti sosial itu tidak terjadi hanya pada waktu episode skizofrenia atau efisode mania.
E. SINTOM.
Sintom-sintom gangguan kepribadian antisocial dapat di klasifikasikan dalam 3 kelompok :
1. Sintom suasana hati
a. Yang sangat penting dalam gangguan kepribadian anti sosial adalah tidaknya kecemasan atau rasa bersalah. Juga disebut dengan tidak memiliki “suasana hati” misalnya ia tidak mengembalikan uang pinjaman atau membunuh orang dia tidak cendrung menjadi “bebas”. Impulsive, dan bersikap masa bodoh.
b. Orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial hedonistis (mencari kesenangan). Ia kelihatan dibimbing oleh ucapan, “aku akan memperoleh apa yang kuinginkan bila aku menginginkannya” dan ia sering melukai orang-orang yang ada disekitarnya.
c. Kendala perasaan-perasaan dan tidak ada cinta emosional terhadap orang lain.
2. Sintom kognitif
Sesuatu yang penting diketahui adalah orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian kelihatan sangat cerdas, memiliki keterampilan verbal dan sosial yang berkembang dengan baik dan memiliki kemampuan untuk merasionalisasikan tingkah laku yang tidak tepat sehingga kelihatan masa masuk akal dan dapat dibenarkan.
3. Sintom motor
Karena orang yang mengalami gangguan kepribdian antisocial tidak cemas, maka ia bertingkah laku impulsive. Suatu hal yang menarik yaitu tingkah lakunya mencari sensasi yang tinggi dia hanya mencari kesenangan sendiri.
Adapula sintom-sintomya antara lain.
1. Tingkah laku dan reaksi sosialnya selalu asosial eksentrik (kegila-gilaan), dan khronisnya paralogis. Dia tidak memiliki kesadaran sosial dan inteligensi-sosial. Sangat stereotipis tingkah lakunya, dan fanatic. Dia amat individualistic/egostis, dan selalu menentang lingkungan kultural serta norma-norma etis.
2. Sikap aneh-aneh, dia sering berbuat keras, bertingkah laku kegiatan-kegiatan, kurang ajar, dan ganas buas terhadap siapapun tanpa suatu sebab. Sikapnya selalu tidak menyenangkan orang lain, dan selalu kriminal, yang pada umumnya tidak bisa di perbaiki lagi
3. Dia suka ngeloyor atau mengembara kemana-mana tanpa tujuan, dan berbahaya bagi lingkungannya
4. Pribadinya tidak stabil responnya selalu tidak ada yang kuat/tepat, dia tidak bisa di percaya. Penilaiannya terhadap kehidupan dan sikap hidupnya selalu negative, dia tidak bisa belajar dari hukuman dan pengalaman-pengalaman yang lampau, dan tidak mampu memahami arti kebaikan serta kesusilaan.
5. Ada disorientasi terhadap lingkungannya, reaksi sosiapatiknya bisa berupa gejala: kekacauan pribadi yang simptomatik.ada juga reaksi psikoneorotis atau psikotis.
6. Ia tidak pernah bisa bersikap loyal terhadap seseorang, kelompok atau kode-kode etik tertentu
7. Emosinya tidak matang, sering tanpa perasaan. Dia tidak pernah bisa bertanggung jawab, dan selalu memakai makanisme rasionalisasi untuk membenarkan tingkah lakunya yang kegila-gilaan.
8. Sering kali perilakunya dicirikan dengan penyimpangan seksualitas dalam bentuk homoseksualitas, transvestitisme (nafsu patologis untuk mamakai dari jenis kelamin lawannya, dan mendapatkan kepuasan seks dengannya), fatisjisme (pemuasan nafsu seks dengan memanipulasikan satu benda sebagai pengganti-kekasih), sedisme, serangan dan perkosaan seksual, pembunuhan dan pengrusakan jasad orang lain karena motif-motif seks.
Mengingat ciri individu psikopat yang serba mengerikan dan abnormal itu, dengan sendirinya mereka mejadi masalah sosial dan bahaya aktual bagi keluarga, lingkungan dekat, dan lingkungan masyarakat pada umumnya.
F. Penyebab
Telah dikemukakan tiga pendekatan untuk menjelaskan penyebab dari gangguan kepribadian antisocial, yakni pendekatan psikodinamik, pendekatan belajar, dan pendekatan fisiologis.
1. Pendekatan Psikodinamik
Pendekatan psikodinamik tradisional memberikan dua penjelasan mengenai gangguan kepribadian antisocial (Fenichel, 1945). Pertama, dengan menggunakan pendekatan struktural dan Freud terhadap kepribadian, beberapa ahli telah mengemukakan bahwa orang yang mengalmi gangguan kepribadian antisosial adalah kurang cemas dan kurang merasa bersalah karena ia tidak mengembangkan superego yang kuat. Kedua, penjelasan psikoanalisis tantang gangguan kepribadian antisosil bertolak dari pendekatan Freud terhadap kepribadian yang mengemukakan bahwa tingkah laku-tingkah laku impulsif, hedonistis, serta kekanak-kanakan yang diperhatikan oleh orang yang menderita gangguan kepribadian antisosial terjadi karena ia telah melekat pada tahap awal perkembangan psikoseksual.
2. Pendekatan Belajar
a. Teori kekurangan dalam pengondisian klasik. Teori ini dimulai dengan gangguan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang terkondisi secara klasik, dan orang yang menderita gangguan kepribadian antisosial kurang merasa cemas karena kemampuannya untuk mengembangkan respon-respon yang terkondisi secara klasik kurang (lemah).
b. Teori pengindaran kecemasan yang terkondisi secara operan. Teori ini mulai dengan dalil bahwa selama masa kanak-kanan yang normal, anak-anak dihukum karena tingkah laku yang buruk dan dalam usaha untuk menghindari hukuman dan kecemasan yag berkaitan dengan hukuman itu, anak-ank berhenti untuk bertingkah laku buruk dan kemudian bertingkah laku dengan tepat.
3. Pendekatan Fisiologis
Teori fisiologis mengemukakan bahwa orang-orang yang menderita gangguan kepribadian antisosial disebabkan oleh ”rangsangan neurologis yang kurang” (neurological underarousal). Rangsangan neurologis yang kurang itu digunakan untuk menjelaskan kecemasan yang relatif kurang yang kelihatan pada orang-orang yang mengalami gangguan tersebut.
Rangsangan elektrokortikal. Rangsangan elektrokortikal mengacu pada tingkat-tingkat aktivitas listrik pada otak dan aktivitsas ini diukur dengan rekaman-rekaman (EEG) (electroencephalogram). Masalah-masalah mengenai abnormalitas-abnormalitas itu dapat dihubungkan dengan gambaran sintom dalam gangguan kepribadian antisosial.
1. Abnormalitas-abnormalitas EEG. EEG dari orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial telah diperiksa dalam banyak penelitian dan hasilnya menunjukkan bahwa kejadian abnormalitas-abnormalitas EEG yang tinggi diantara orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial ditemukan pada setiap penelitian yang diperoleh dari penelitian-penelitian terhadap orang-orang normal, maka kejadian abnormalitas EEG pada orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial kelihatannya tiga kali lebih besar dibandingkan dengan angka yang terdapat pada orang-orang normal.
2. Hubungan antara abnormalitas-abnormalitas EEG dengan tingkah laku. Kemungkinan lebih besar orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial memperlihatkan EEG yang abnormal dibandingkan orang-orang normal karena jika abnormalitas EEG relevan untuk gangguan tersebut maka harus ada.
G. Perawatan
1. Pendekatan Psikodinamik
Para terapis yang berorientasi pada pendekatan psikodinamik berusaha memberikan figur-figur orang tua yang sportif, kuat, dan bertingkah laku tepat untuk pasien-pasien mereka yang mengalami gangguan kepribadian antisosial. Tujuannya ialah untuk membantu pasien mengidentifikasikan diri dengan terapis, dan dengan berbuat demikian pasien dapat mengambil sifat-sifat yang tepat dan matang dari terapis. Kemudian dalam perawatan terapis yang berorientasi pada pendekatan psikodinamik berfokus pada usaha mengembangkan pematangan melalui identifikasi dan bukan pada usaha memecahkan masala-masalah melalui pemahaman seperti yang dilakukan terhadap pasien-pasien lain.
2. Pendekatan Belajar
Teori belajar mengemukakan bahwa orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial kurang mengembangkan respon-respon kecemasan yeng terkondisi secara klasik dan dengan demikian tidak belajar menghindari tingkah laku-tingkah laku yang tidak tepat. Karena itu intervensi-intervensi terapeutik yang bertolak dari pengondisian klasik tidak bermanfaat.
3. Pendekatan Fisiologis
Teori fisiologis mengemukakan bahwa gangguan kepribadian antisosial terjadi karena korteks kurang terangsang (cortical underarousal) sehingga orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial tidak mengondisikan dengan baik dan sering melakukan tingkah laku-tingkah laku yang tidak tepat untuk meningkatkan rangsangan. Bahwa pasien-pasien dapat dirawat dengan obat-obat stimulan kortikal yang akan meningkatkan kerentanan terhadap pengondisian dan mengurangi kebutuhan akan perangsangan.


KESIMPULAN
Seorang psikopat profesional di bidangnya. Ada yang dokter, psikiater,
psikolog, penegak hukum, wartawan, pemuka agama, politikus, penggiat LSM,
pendidik, ibu rumah tangga. Tak ketinggalan, mereka juga punya banyak julukan. Mulai dari yang keren sampai menyeramkan, seperti a white collar
crime, the best actor, atau "serigala berbulu domba". Dalam kasus kriminal,
psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini
hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang
berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya
tarik luar biasa dan menyenangka
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut
sebagai Sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang
terdekatnya. Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya
integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara
moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang
hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral)
Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti
penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena
seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya..
Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang
'normal'. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara
emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar
perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan
yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal.
Pada dasarnya, psikopat adalah sebutan singkat untuk gangguan kejiwaan, yang
awalnya dikenali sebagai kenakalan remaja dan gangguan kepribadian
antisosial (emosi dangkal, gampang meledak-ledak, tak bertanggungjawab,
berpusat pada diri sendiri, serta kekurangan empati dan rasa sesal).
bila anda atau orang terdekat anda sedikitnya melakukan tiga dari tujuh
ciri khas berikut ini:
(1) gagal mengikuti norma sosial dan hukum, hingga berkali-kali ditahan
pihak berwajib,
(2) berulang-ulang berbohong, menggunakan berbagai alasan, lihai bicara,
menipu untuk keuntungan pribadi atau sekadar bersenang-senang.
(3) meledak-ledak dan tak punya perencanaan, kalau ingin sesuatu, harus saat
itu juga dilakukan,
(4) mudah tersinggung dan berangasan, sehingga sering
terlibat penyerangan atau adu jotos,
(5) tak peduli keselamatan diri sendiri atau orang lain,
(6) tak bertanggungjawab, misalnya kerja sering tak beres dan ngemplang
utang,
(7) nyaris tak punya rasa sesal dan bersalah setelah menyakiti, menganiaya
bahkan mencuri.
anda harus waspada karena ini merupakan gejala anda atau orang terdekat anda
terkena psikopat.
Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang
'normal'. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara
emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar
perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan
yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal..
Mereka kekurangan cinta, kesetiaan, kekurangan empati, dan rasa tidak
bersalah. mereka tidak bisa melakukan penilaian dan tidak bisa belajar dari
kesalahan dalam pengalaman hidup. Psikopat tidak memikirkan konsekuensi dari
perilakunya. Misalnya orang normal, ketika mendapat hukuman dari
tindakannya, akan berhenti untuk melakukan tindakan tersebut atau akan
mengulangnya tapi dalam cara agar tidak ketahuan oleh orang lain. Sedangkan
orang psikopat, akan terus mengulang lagi dan lagi, dengan cara yang sama,
meskipun mereka telah dihukum karena melakukan tindakan itu. Jadi, mungkin
jika Ryan atau siapapun adalah seorang psikopat, penjara tidak akan
membuatnya jera (tapi sepertinya kemungkinan dieksekusi lebih besar
dibandingkan ia dipenjara 20 tahun) Terakhir, para psikopat terlihat
meyakinkan dari luar. Maksudnya, karena mereka tidak memiliki perasaan cemas
dan perasaan bersalah, mereka bisa berbohong, mencuri, berbuat curang, dan
lainnya. Ini mendukung pernyataan seorang psikolog yang pernah diwawancara
(itu lho psikolog yang duduk di kursi roda) bahwa Ryan membunuh karena dia
cemburu dengan pasangan homoseksualnya itu bohong besar. Itu hanya alibi
untuk menutupi perilakunya atau trigger dari perilakunya. Dan jangan percaya
dengan tampilan kalem dan lemah lembutnya karena orang psikopat mampu
mengontrol sikapnya.
psikopat tidak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada
kisah "pwmbunuhan", Penelitian menyatakan bahwa satu persen populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya. lewat berbohong, mencurangi, mencuri, mememanipulasi, mengorbankan dan menghancurkan para rekan kerja, serta
kesemuanya tanpa rasa salah maupun penyesalan. mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, di mana kezaliman dan nafsu mereka tidak saja mereka salah-artikan sebagai ambisi dan keterampilan memimpin, namun juga sebagai sesuatu yang dihargai melalui promosi, bonus dan kenaikan upah.
gelar psikopat kadang nemplok tanpa pilih tempat. Apalagi sering
tanpa sadar masyarakat modern sendiri ikut andil melahirkan psikopat. Karena
beratnya tekanan hidup, berbagai hal yang menyimpang dari norma dan hukum,
justru menjadi aktivitas "sehari-hari". Jadi apakah anda psikopat... Saya
berharap bukan ya... coba instropeksi diri deh

DAFTAR PUSTAKA
Sudarsono, Kamus Konseling, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1997.
Kartini Kartono, Hyglene Mental, Bandung : Mandar Maju, 2000
Yustinus Semiun, Kesehatan Mental 2, Yogyakarta : Kanisius, 2006.
Sudarsono, Kamus Konseling, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1997, hal.
Kartini Kartono, Hyglene Mental, Bandung : Mandar Maju, 2000, hal. 91.
Yustinus Semiun, Kesehatan Mental 2, Yogyakarta : Kanisius, 2006, hal. 20.
Kartinbi Kartono, Op.cit, hal. 91-92.
Yustinus Semiun, Op.cit, hal. 29-31
Ibid, hal. 32.
Kartini Kartono, Op.cit, hal. 92-93

Kamis, 13 Mei 2010

KASUS HISTERIA

HISTERIA DAN BERBAGAI MACAM KASUS


Konsepsi mengenai histeria adalah salah satu dari sedikit hal yang masih sulit dipahami dalam bidang psikologi abnormal. Mulai dari masanya Hipocrates, histeria telah memiliki pengertian yang luas dan melibatkan banyak gejala. Semasa Yunani kuno, gangguan ini menjadi ciri khas wanita dan muncul akibat ada gangguan di uterus. Teori ini bertahan selama berabad-abad, meskipun demikian di abad 16 mulai diyakini bahwa sumber histeria bukan pada uterus tetapi pada otak. Sejak ini diyakini bahwa histeria tidak hanya dapat menimpa wanita namun dapat pula dialami oleh pria.

Saat ini histeria merupakan suatu reaksi neurotis dari seseorang yang berupaya mengatasi kecemasannya melalui 2 cara sbb :

1. Merupakan konversi kecemasan dalam bentuk gejala fisik.
2. Merupakan disosiasi pikiran.

Histeria konversi berhubungan dengan neuropsychological, sedangkan histerical dissociation berhubungan dengan perilaku kognitif.

a. Coversion Reaction :
Jenis neurosis ini adalah suatu bentuk kecemasan individu yang dikonversikan dalam gejala fisik. Saat gejala diekspresikan melalui sensori atau motor dari sistem syaraf pusat, maka kondisi ini disebut dengan hysterical conversion neurosis. Pada saat gejala neurotis melibatkan sistem syaraf otonomic, perilaku maladaptif yang muncul disebut dengan psychophysiological disorder.

b. Sensory Symptoms
Perilaku neurotic dapat diekspresikan melalui sensori/indra tertentu. Sebagian besar gejala dikonversikan pada perabaan kulit, penglihatan dan pendengaran. Anastesia atau mati rasa kulit adalah salah satu bentuk dari reaksi konversi yang umum. Saat kecemasan muncul secara kuat, individu akan mencoba menghindari dengan reaksi menjadi mati rasa. Akibatnya individu tersebut tidak merasa sakit. Hal ini dapat dilihat apabila mereka didekati oleh benda tajam tidak ada upaya untuk menghindarinya. Dalam satu kasus misalnya seseorang yang ditusuk jarum dijarinya, orang tersebut tidak berupaya menghindari karena mereka tidak merasa sakit.

Pada abad pertengahan histeria ini dikenal sebagai penyakit setan. Ini mungkin karena reaksi konversi yang ditunjukan. Bagian kulit menjadi tidak sensitif terhadap rasa sakit karena ada setan yang bercokol disitu. Orang yang sangat mudah tersugesti dibawah stress atau takut akan mengembangkan gejala-gejala sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Jika bukan ribuan, ratusan pria-wanita mengalami kematian saat diupayakan kembali kealam nyata pada saat menunjukan gejala neurotic dari konversi jenis ini.


Beberapa contoh dramatis adalah orang yang mengalami konversi yaitu menjadi buta selama berlangsungnya perang. Ketakutan yang amat sangat selama perang membuat prajurit tertekan dan menunjukan beberapa gejala psikologis. Dilaporkan bahwa pada saat perang dunia II sejumlah kasus konversi dimana orang mengalami kebutaan terjadi di rumah-rumah sakit Inggris. Hampir sebagian besar yang buta karena menyaksikan kekejaman yang terjadi dalam peperangan. Seorang prajurit menjadi buta setelah menyaksikan sahabat dekatnya terkena granat yang meledak secara mendadak. Pasien lain kehilangan penglihatan setelah secara sekilas melihat kakinya terputus.

Gejala-gejala konversi dapat terjadi dalam bentuk mendengar sesuatu secara berulang-ulang. Dari observasi sehar-hari terlihat bahwa banyak orang tidak mampu mendengar sesuatu karena memang mereka tidak ingin mendengarnya. Seperti anak-anak yang sedang bermain yang tidak mendengar panggilan ibunya atau siswa-siswa yang tidak dapat mendengar suara bell sekolah.

Seorang pria muda kehilangan pendengarannya menjelang terjadinya pernag dunia kedua. Ia menjadi sangat galau setiap mendengar radio yang memberitakan konflik yang cukup mengancam sehingga ia menjadi tuli sebagai upaya untuk mengatasi masalahnya. Selama perang terjadi, khususnya di London dan kota lain yang menjadi sasaran bom, kasus-kasus tuli psikogenic berkembang dan ini merupakan reaksi penolakan terhadap sesuatu yang tidak mereka sukai seperti suara ledakan, bel, sirene atau teriakan-teriakan yang memekakkan telinga.


c. Motor Symptoms
Gejala motorik dari neurosis konversi diekspresikan dalam berbagai cara. Gejala-gejala yang sedikit serius seperti gemetaran, gerakan tertentu, kram dan adanya kontraksi otot. Gejala yang lebih serius seperti – setidaknya lebih dramatis – seperti gangguan dalam berbicara, kelumpuhan anggota badan dan serangan kompulsif yang tiba-tiba. Dalam banyak kasus, gejala konversi sangat menyerupai gejala gangguan organic dan ketidakmampuan tertentu.

Kelumpuhan konversi adalah satu dari situasi yang cukup dramatis dari reaksi konversi motor. Sebetulnya dalam bahasa kita sehari-hari hal ini telah cukup dikenal. Istilah-istilah itu seperti ‘lumpuh karena takut,’ kaku mendadak,’ atau ‘terpaku,’ merupakan hal-hal yang mengindikasikan adanya konflik emosional yang dipindahkan menjadi suatu gejala fisik. Dalam beberapa kasus, kelumpuhan konversi merupakan reaksi dari kondisi stress. Seorang siswa sekolah perawat tiba-tiba merasa tangannya lumpuh pada saat membersihkan lantai ruang operasi yang dinodai oleh darah. Seorang prajurit tiba-tiba lumpuh saat mendapat tugas untuk menyerang musuh. Prajurit lainnya yang menangis karena ketakutan saat serangan tidak dapat mengatupkan mulutnya lagi atau tidak bisa berbicara. Pada saat serangan berakhir ia secara perlahan mulai dapat berbicara dan dapat mengatupkan mulutnya lagi.

d. The Problem of Diagnosis

Permasalahan diagnosis dari reaksi konversi kadang-kadang lebih membingungkan dibandingkan dengan reaksi cemas, fobia dan obsesi-kompulsi. Pada kasus reaksi konversi, gejala-gejala harus dibedakan dengan gangguan organic yang sesungguhnya, pura-pura sakit dan kondisi psikotic awal yang disertai delusi somatic. Diagnosa yang sangat sukar adalah saat membedakan antara reaksi konversi dengan gejala-gejala yang dihasilkan oleh karena adanya organ yang lemah dari sistem syaraf.

e. Lack of Concern

Orang dengan gejala konversi histerical cenderung kurang menunjukan perhatian terhadap ketidakmampuan mereka. Meskipun permasalahan tersebut cukup serius dan kadang-kadang penderita percaya bahwa gejala tersebut tidak dapat diobati sehingga mereka tidak begitu memperdulikannya. Hal itu seperti seseorang yang tidak menyadari bahwa permasalahan tersebut sesungguhnya bukan permasalahan organic/fisik. Pasien dengan permasalahan organic yang serius sering menunjukkan kepedulian mengenai sakit yang ia derita, kuatir dan berupaya menanganinya dan tidak membiarkannya begiatu saja. Sedangkan orang yang neurotic tidak menunjukkan kepedulian tersebut. Ia cenderung menerima saja haltersebut dan merasa tidak ada kemungkinan untuk mengatasinya.

f. Contrariness to Anatomy

Gejala konversi histeris sering tidak berkaitan dengan kenyataan anatomis. Misalnya, kasus mati rasa kulit menunjukkan suatu batas yang jelas area mana yang sakit dan area mana yang tidak sakit. Hal ini lebih terkait dengan distribusi sistem syaraf dibandingkan dengan distribusi anatomic.

g. Sudden Onset (Serangan Tiba-Tiba)

Ciri penting lainnya dari diagnosa dari reaksi konversi adalah serangan tersebut muncul secara tiba-tiba dan gejalanya muncul secara berulang-ulang. Kontrasnya, gejala organic tersebut bersifat tipuan dan muncul secara konsisten.

Meskipun ada pedoman diagnosa dari histeria konversi, hal masih sulit untuk diidentifikasi. Suatu studi mengenai pasien di rumah sakit jiwa baru dinyatakan menderita histeria konversi setelah 7 tahun atau lebih sejak diagnosa dilakukan. Beberapa kasus lain ditemukan bahwa gangguan organik bukanlah permasalahan fisik yang sesungguhnya. Diantara pasien yang tidak memiliki gangguan organik, 2 orang diidentifikasi menderita schizoprhenia, 1 orang obsesional neurotic dan 7 menderita depresi. Setelah melakukan studi yang sama pada sejumlah pasien yang didiagnosa sebagai neurotic konversi di rumah sakit jiwa, peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat didiagnosa secara tetap. Para pasien ini dipilih secara acak dengan berbagai kondisi yang berbeda (Slater, 1961). Studi lain mengenai pasien yang didiagnosa sebagai penderita histeria konversi ditemukan hanya 13% yang benar-benar menderita histeric. Sedangkan 87% sisanya menunjukan gejala yang dapat dikelompokan dalam berbagai jenis diagnosis (Reed, 1975).


h. Theories of Conversion Neurosis

Meskipun faktanya menunjukan bahwa beberapa orang yang didiagnosa sebagai histeria konversi, hal ini bukan berarti mereka itu langsung digolongkan neurotic, sebagian besar psikolog dan psikiater sepakat bahwa reaksi konversi adalah merupakan gejala klinis sesungguhnya yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Seperti perilaku neurotic lainnya, gejala konversi umumnya muncul sebagai upaya untuk mengatasi kecemasan. Pendekatan terori perilaku menekankan bahwa ada proses pembelajaran yang alamiah, dimana keluhan fisik sebetulnya dalam banyak kasus tidaklah begitu jelas.Hal ini tidak seperti classical conditioning, operant shaping, modeling atau bentuk lain dari social learning tetapi merupakan sesuatu keluhan fisik yang muncul secara tiba-tiba. Pengertian learning dalam konteks ini adalah merupakan suatu bentuk yang kompleks dari cognitive conditioning. Sekali keluhan fisik dirasakan, maka pola-pola maladaptif dari perilaku cenderung dipertahankan dan ini berarti pasien memperoleh manfaat tertentu akibat “penyakit” yang dideritanya. Bentuk-bentuk penguatan perilaku ini cukup bervariasi dari satu kasus ke kasus lainnya.Pendekatan psikodinamika dari histeria telah diformulasikan oleh Freud, seseorang yang mengemukakan bahwa gejala fisik merupakan simbol ekspresi dan represi dari dorongan seksual. Sebagai contoh, seseorang yang mendrita gejala motor konversi seperti kejang-kejang. Freud dan pengikutnya percaya bahwa kejang-kejang ini merepresentasikan gerakan-gerakan seksual. Bertahun-tahun kemudian konsep histeria ini dikembangkan termasuk untuk mengenal bentuk-bentuk simbolisasi lainnya. Kelumpuhan neurotic pada tangan yang menimpa wanita muda pada saat ayahnya sakit diinterpretasikan sebagai keinginan untuk mempertahankan kehidupan ayahnya.

i. Dissociation : The Separation of the Self

Histerical dissosiatif neurosis adalah suatu pola dari perilaku maladaptif yang merupakan bagian dari kepribadian yang dikenal sebagai suatu kondisi kehilangan diri dan tersebar dalam dua atau lebih sistem psikologis. Pengembangan keluhan ini adalah hasil dari proses informasi karena adanya gangguan sensori yang muncul sejak masa bayi. Kemudian melalui penggunaan bahasa dan konsep abstrak, kondisi ini merasuk kedalam sistem psikologis dengan kompleksitas yang meningkat. Dalam kondisi ini gejala tersebut menjadi sesuatu yang sulit dikenali, bagian-bagian dari sistem psikologi ini mulai berfungsi dan bekerja dengan cara sendiri. Saat keluhan muncul, lebih dari satu gejala dapat terjadi. Disosiasi dari diri merupakan penyebab dari kindisi neurotik seperti amnesia, automatic behavior dan kepribadian ganda.

j. Amnesia : A Type of Psychological Sucide

Satu dari reaksi disosiatif histerical yang umum terjadi adalah amnesia atau hilangnya ingatan (lupa).Kondisi ini menggambarkan suatu ketidakmampuan untuk mengingat kembali tentang identitas dirinya. Orang-orang yang mengalami amnesia menemukan diri mereka tersasar dijalanan dan tidak mampu mengingat siapa mereka, dimana rumahnya atau tidak tahu apakah ia sudah menikah atau belum. Saat ditemukan oleh orang lain seperti polisi, penderita amnesia tampak kebingungan. Kadang-kadang penderita ini merasa seperti orang yang keracunan, meskipun misalnya petugas tidak menemukan bukti seperti itu. Dalam beberapa kasus amnesia ini bisa terjadi hanya beberapa jam saja atau bahkan sampai dengan bertahun-tahun.

Salah satu tipe dari amnesia adalah karena adanya luka di kepala. Seseorang yang mengalami kerusakan di otak akibat kecelakaan dapat mengalami kehilangan ingatan mengenai peristiwa sebelum dan sesudah kecelakaan tersebut terjadi. Sebagian besar kasus amnesia bagaimanapun memiliki sebab-sebab psikologis. Masalah ekonomi, perkawinan, seksual dan kehidupan sosial dapat menjadi lebih sulit pada saat seseorang berupaya mencari jalan keluar terhadap konflik yang ia alami dengan cara melupakannya. Seorang pria memutuskan untuk terjun ke sungai saat kehilangan tabungannya akibat penipuan. Dalam perjalanannya menuju sungai, ia mengalami kehilangan ingatan dan tersasar dijalanan sampai ia diketemukan polisi dan diantar ke rumah sakit. Beberapa bulan kemudian ingatannya pulih kembali. Bunuh diri sesungguhnya tidak terjadi karena anugerah dan disebut dengan anugerah bunuh diri psikologis.

Seorang wanita muda yang tersasar di jalanan luar kota dibawa ke rumah sakit oleh polisi. Ia mengetahui tanggal dan bahwa ia sebelumnya di Cincinnati. Ia yakin bahwa ia memiliki 2 anak dan merasa bahwa akan kembali ke mereka. Ia tidak mengetahui berapa usianya tetapi ia mengatakan tidak lebih dari 30 tahun. Di Mississippi, seorang pecandu berusia 26 tahun yang tergolek ditempat tidur rumah sakit memandang kosong pada rambut putih ibunya, yang mencoba untuk mengingatkan ketika ia masih muda dan ini sebagai upaya ibunya untuk mengembalikan ingatannya. Pecandu ini berbicara kepada ibunya “maaf, saya tidak tahu siapa kamu, tetapi saya ingin agar saya dapat mengenal kamu karena saya menyayangi lebih daripada segala sesuatu yang ada didunia ini.” Seluruh keluarga dekatnya mengitari tempat tidur, tetapi pria muda ini tetap tidak dapat mengenal segala sesuatu tentang dirinya.

k. The Fugue : Terbang Tanpa Sadar

Ini adalah bentuk amnesia dimana seseorang melarikan diri karena ada kesulitan. Fugue dapat berlangsung dalam beberapa hari sampai dengan berbulan-bulan dan korban dapat pergi ke banyak kota yang bermil-mil jauh dari rumahnya. Selama dalam keadaan fugue dapat muncul secondary personality dengan mengabaikan sama sekali basic personalitynya. Meskipun demikian selama periode fugue penderita tetap menggunakan pengalaman masa lalunya sebagai basic personality. Dalam hal ini penderita hanya mengubah namanya dan masih cukup mampu mengarahkan dirinya untuk berpakaian normal.

Bentuk perilaku yang cukup complicated dapat terjadi selama fugue. Penderita bisa jadi melakukan perjalanan yang cukup jauh, membeli tiket kereta atau pesawat, memesan kamar di hotel, mendapat pekerjaan dan hidup secara normal meskipun dalam setting yang berbeda. Seorang pria berusia 22 tahun hilang dari boat mancingnya di Florida. Oleh keluarga dan teman-temannya ia dikira telah mati, tetapi 6 tahun kemudian ia menelepon saudara prianya dan mengatakan bahwa ia bekerja sebagai seorang petugas kesehatan di sebuah rumah perawatan di New Orleans dan tiba-tiba ia mengingat kembali namanya. Meskipun demikian ia tidak ingat sama sekali apa yang terjadi selama periode 6 tahun saat ia menghilang.

l. Automatic Behavior : Ketidaksadaran Berbicara & Bertindak.

Tipe disosiatif histeris reaksi neurotis dapat diilustrasikan sebagai automatic behavior. Orang yang menunjukkan perilaku ini tidak sadar bahwa ia mengatakan atau melakukan sesuatu. Mereka dapat berbicara secara otomatis dan tidak percaya pada saat mereka mendengarkannya kembali. Pada kasus lain seseorang menulis atau menggambar secara otomatis.

Kadang-kadang mereka mampu menulis secara produktif. Diantara para penulis otomatis yang terkenal adalah Flammarion dan Sardou. Pasien worth of st. louis menulis beberapa novel dengan cara seperti ini. Reverend Stainton Moses menulis sejarah. Andrew Jackson Davis menulis tentang evolusi dan Elsa Barker menghasilkan Letters from a Living Dead Man.

Menulis otomatis dalam berbagai kondisi dan menunjukan suatu kekayaan ekspresi. Seringkali kata-kata awal dari tulisan mereka tampak aneh dan tidak bermakna. Secara bertahap kata-kata tersebut membentuk prase, kemudian kalimat, dan - jika ada kecenderungan kuat kearah perilaku seperti ini – penderita akan menjadi sangat terampil untuk menulis dalam aliena yang lebih panjang. Dalam beberapa kasus isi tulisannya menggambarkan konflik-konflik personal yang mereka alami.

Multiple Personality

Ini adalah suatu langkah psikologis yang mudah dari menulis otomatis. Dengan sesuatu yang terpisah, pada kondisi kepribadian ganda, hal ini merupakan segmen dissociated dari kondisi kepribadian.

Kekuatan dari dalam antara aspek yang berbeda yang ada didalam diri menjadi subyek dari sejumlah keinginan. Robert Louis Stevenson menggunakan kepribadian ganda sebagai topik dari cerita klasiknya yaitu “Dr. Jekyll & Mr. Hyde.” Tema ini juga yang diangkat dalam buku Sybil dan The Three Faces of Eye.

Kepribadian ganda mirip dengan situasi diman seseorang berjalan dan berbicara saat mereka tertidur. Mereka ini mudah untuk dihipnotis dan cenderung menunjukan tindakan yang dissociated.

Kepribadian ganda ini pertama kali dihubungkan dengan amnesia. Disamping amnesia reaksi disosiatif merupakan suatu hal yang sering muncul.


Apa Penyebab Dissosiatif ?

Beberapa bentuk dari neurosis disosiatif disebabkan oleh konflik kebutuhan dan keinginan. Pemisahan diri adalah puncak dari kegagalan yang berulang saat seseorang berupaya menyesuaikan dan mengintegrasikan kepribadiannya. Bagaimanapun, suatu ide dan emosi dapat memisahkan diri dari kepribadian utama dan mengarah kepada sesuatu keterpisahan yang semu dan menjadi suatu masalah yang tidak dapat dipecahkan.

Aspek perilaku dari disosiasi mungkin sedikit lebih penting dibandingkan dengan komponen kognitif. Beberapa jenis pembelajaran dapat digunakan dibandingkan dengan hal-hal yang bersifat biologis/fisik. Terutama berkaitan dengan hal-hal yang terjadi karena simbolisasi. Disosiatif neurosis biasanya juga menunjukan hal-hal yang didramatisasi yang berdampak kuat terhadap sistem-sistem motivasi konflik.



Gangguan jiwa hysteria

Gangguan jiwa yang sudah lama di kenal sejak dulu ialah hysteria. Pada permulan orang menyangka bahwa yang dihinggapi penyakit ini hanya kaum wanita. Akan tetapi kemudian pendapat itu berudah setelah Freud menemukan bahwa laki-laki pun dapat dihinggapi penyakit ini.

Seperti gangguan jiwa lainnya hysteria juga terjadi akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi kesukaran-kesukaran, tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan, dan pertentangan batin. Dalam menghadapi kesukaran ia tidak mampu menghadapinya dengan cara yang wajar, lalu melepaskan tanggung jawab dan lari secara tidak sadar kepada gejala-gejala hysteria. Gejala hysteria yang merupakan gejala fisik adalah :

1.Lumpuh hysteria

Lumpuhnya salah satu anggota fisik, akibat tekanan atau pertentangan batin yang tidak dapat diatasi. Biasanya penderita menggunakan gejala ini secara tidak sadar untuk membela diri dan untuk mengatasi kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. Biasanya gejala lumpuh itu terjadi tiba-tiba dan penderita sebelum itu tidak merasa apa-apa.

Contoh :

Di waktu perang, seorang anggota militer tiba-tiba mengalami lumpuh pada jari telunjuknya (tidak bis digerakkan) diwaktu ia berhadapan dengan musuh. Pada waktu dioperasi ternyata tidak terdapat apa-apa pada jarinya tersebut. Dari penelitian selanjutnya terbukti bahwa kelumpuhan telunjuk itu adalah akibat dari perasan bimbang waktu ia akan menembak musuhnya. Ia bimbang antara menembak (matinya musuh) dengan tak ingin menembaknya. Akhirnya kelumpuhan jarinya itu menolongnya dalam mengatasi problemnya.

2.Cramp hysteria

Disebabkan pula oleh tekanan perasaan, yang sering kali terjadi pada penulis yang mencari penghidupan dengan tulisan-tulisannya. Apalagi ia mengalami bahwa tulisannya tidak banyak mendapat sambutan dari orang, ia kadang-kadang dihinggapi oleh cramp pada jari-jarinya waktu menulis. Tapi untuk mengerjakan pekerjaan lain jari-jarinya masih dapat digunakan. Cramp hysteria banyak pula terjadi pada pemain biola, juru tik, tukang jam, pegawai kantor telephone. Penyakit ini terjadi karena kegelisahan dan kecemasan yang dirasakannya akibat kebosanan menghadapi pekerjaan-pekerjaan itu.

3.Kejang hysteria

Seluruh badan terasa kaku, tidak sadar akan diri, kadang-kadang sangat keras, disertai dengan teriakan-teriakan dan keluhan-keluhan, tapi tidak mengeluarkan air mata. Kejang-kejang ini biasa terjadi pada siang hari selama beberapa menit saja, tapi mungkin juga sampai beberapa hari lamanya.

Diantara tanda-tanda kejang hysteria adalah dalam pandangan matanya terlihat kebingungan. Setelah kejadian itu biasanya penderita kebingungan, tidak mau berbicara atau menjawab pertanyaan-pertanyaan. Biasanya serangan ini terjadi karena serangan emosi yang sangat menekan, seperti rasa tersinggung, tertekan perasaan, penyesalan, sedih dan sebagainya. Orang yang terserang biasanya memegang atau menarik apa yang dapat ia capai. Sebaiknya orang yang diserang kejang hysteria itu ditinggalkan saja sebagaiamana adanya.

Contoh :

Seorang calon mahasiswi berusia 20 tahun sedang menjalakan masa prabakti. Ketika apel tengah hari dengan kawan-kawannya tiba-tiba ia jatuh pingsan. Teman-teman bingung dan berusaha menolongnya, tetapi tak berhasil. Setelah akhirnya dia sadar, si gadis memandang sekelilingnya dengan mata kebingungan, dan ia minta gado-gado. Kawan-kawannya semakin bingung. Setelah penelitian, terbukti bahwa si gadis dengan ibu tirinya yang sangat membatasi kebebasan dan belanjanya. Waktu masa prabakti ia merasa sangat sedih, karena memerlukan uang jajan lebih banyak, tetapi takut memintanya pada orang tuanya. Ketika ia merasa lapar ia teringat akan kesusahan sehari-hari yang selalu dialaminya di rumah dan terlihatlah gejala-gejala itu.

Banyak ditemukan contoh-contoh seperti itu yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Orang tiba-tiba pingsan, tegang dan kaku badannya, yang disangkanya sakit ayan,sawan atau kena guna-guna. Padahal gejala ini adalah akibat dari rasa tertekan dan kegelisahan yang terlalu hebat.

4.Mutism (hilang daya bicara)

Mutism itu ada dua macam, pertama tak sanggup berbicara dengan keras dan kedua tak mampu berbicara sama sekali.

Hilangnya kemampuan untuk berbicara itu bukan disebabkan oleh kerusakan pada alat-alat percakapan seperti lidah, kerongkongan, pernapasan dan sebagainya. Alat-alat itu masih dapat melakukan fungsinya, tetapi orang tidak dapat berbicara. Biasanya gejala ini terjadi akibat tekanan perasaan, kecemasan, putus asa, merasa hina, gagal dan sebagainya. Demikian besarnya pertentangan batin sehingga menyebabkan lidah menjadi lumpuh.

5.Amnesia (hilang ingatan)

Hilang ingatan atau lupa pada kejadian-kejadian tertentu dalam hidup sangat erat hubungannya dengan emosi. Ia lupa akan sesuatu, kejadian tertentu, lupa pada orang yang dikenalnya bahkan lupa pada dirinya sendiri, namanya, rumahnya, pekerjaannya, dan sebagainya.

6. Kepribadian kembar (double personality)

Kepribadian kembar adalah salah satu gejala hysteria, yang disebabkan oleh kegelisahan yangamat sangat, dan dijadaikan cara untuk menghukum dirinya atau melepaskan diri dari ketegangan batin, kecemasan, atau konflik yang dirasakannya. Dalam hal ini penderita secara tidak sadar mengurung kepribadiannya yang pertama, sampai terpisah sama sekali dengan alam kenyataan. Disamping menghukum diri, hal ini digunakan sebagai penarik perhatian orang padanya.

Dalam kepribadian kembar, tindakan-tindakan yang negatif terlihat jelas sekali dimana penderitanya tidak mungkin bekerja sama dengan orang –orang yang sebelum sakit sering berhubungan dengannya. Penderita mendapat dua keuntungan yang jelas tanpa disadarinya yaitu pertama penderita menjauhkan sama sekali dari kesadarannya. Semua aspek kehidupan yang mencakup perasaan, tindakan, pengalaman,-pengalaman dan keseluruhan kepribadian yang lama, terpisah dari kesadarannya. Dalam hal kedua, salah satu kepribadian ditekan dengan jalan melupakan segala pengalaman-pengalaman yang dilaluinya dan menghapusnya dari ingatan. Hal ini dilakukan oleh kepribadian yang kedua.

7.Mengelana secara tidak sadar (fugue)

Salah satu gejala hysteria lain ialah, orang pergi mengelana berjalan tanpa tujuan, tidak tahu mengapa ia pergi dan kemana ia pergi.

8.Jalan-jalan sedang tidur (somnabulism)

Orang yang diserang gejala ini di kuasai oleh sejumlah pikiran dan kenangan-kenangan yang berhubungan satu sama lain. Meskipun ia sedang tidur, tapi masih dapat mengenal dan membedakan mana pintu yang tertutup dan mana pintu yang terbuka, dan mudah disuruh kembali ke tempat tidurnya. Waktu bangun pagi harinya, ia tidak tahu apa yan terjadi pada dirinya waktu tidur itu.

Contoh :

Seorang anak berumur 6 tahun, tiap-tiap malan sedang tidur selalu berjalan-jalan, kadang-kadang naik ke jendela, membuka pintu dan sebagainya. Setelah dperiksa terbukti bahwa si anak mempunyai watak yang keras, pendiam, dan suka mengganggu dengan suatu cara yangmenyebabkan orang tidak menyangka bahwa ia yang bersalah. Orang tua anak ini, mempunyai banyak anak, semuanya masih kecil-kecil. Dalam mendidik anak-anaknya mereka sering menggunakan kekerasan, sering memukul kadang-kadang sampai berbekas pada badan anak-anaknya, dan yang paling sering dipukul adalah anaknya yang menderita penyakit itu. Rupanya si anak yang ingin lari dari orang tua yang sangat kejam itu, akan tetapi ia tidak berani, karena tidak tahu kemana ia akan pergi. Timbul pertentangan dalam batinnya antara ingin menghindari kekerasan orang tua, dengan takut berpisah dari mereka. Akhirnya sedang tidur ia masih dikuasai oleh pikiran-pikiran ingin lari itu. Gejala-gejala itu disebabkan oleh kegoncangan jiwa, kecemasa, tekanan perasaan,. Ketakutan dan sebagainya.

Ada pula kasus yang lain yaitu:

1. tentang kesurupan
Gejala kemasukan setan kerap terjadi ketika seseorang, berada pada tempat dan waktu yang salah. Biasanya seseorang yang kemasukan setan tersebut pikirannya dalam keadaan kosong , kondisi tubuhnya sedang lelah serta iman yang kurang kuat. Keadaan ini akan

2. kasus dari flu babi.

3. Histeria Massa


Mass hysteria, histeria massa, histeria kolektif merupakan fenomena sosiopsikologi yang terjadi dalam kelompok yang menyebabkan tiap anggota dalam kelompok mempunyai gejala histeris yang sama, satu dengan yang lain. Secara teknis, histeria massa disertai gejala fisik, seperti sakit kepala, merasa muak (marah), pusing, atau gejala kerasukan.

Fenomena histeria massa agak sulit dijelaskan, karena dianggap kontroversial. Kejadian ini sering terjadi pada kelompok kecil seperti sekolah, pabrik, serta rumah sakit. Ada dua jenis histeria massa, anxiety hysteria dan motor hysteria.

Anxiety hysteria terjadi dalam durasi yang singkat. Misalnya, ada satu orang yang percaya bahwa ia mencium bau aneh, maka orang yang lain yang berada dalam ruangan yang sama cenderung percaya bahwa mereka mencium bau yang sama.

Motor hysteria

memiliki karakteristik seperti yang terlihat pada orang kerasukan. Jenis ini butuh waktu yang lebih lama untuk termanifestasi pada orang lain, serta membutuhkan waktu yang lama pula agar gejalanya hilang.
Histeria massa telah didokumentasikan dari zaman dulu, yang diartikan sebagai fenomena supernatural.

Contah histeria massa antara lain :
Dancing mania terjadi di Eropa antara abad 14 dan 18. Orang-orang menari dengan tidak terkontrol, seperti dirasuki iblis.

Tanganyika laughter epidemic tahun 1962. Terjadi di Tanzania, orang-orang tertawa tanpa henti. Kejadian ini terjadi di salah satu sekolah yang kemudian menyebar ke tempat lain.

Kerasukan satu sekolah. Berawal dari satu orang yang kerasukan, tiba-tiba yang lain juga merasa kerasukan, libur deh.

Flu Babi…karena baru bepergian dari luar negeri, maka pikirannya menganggap bahwa ia terkena flu babi. Alhasil, sakit deh. (tetapi harus hati2 juga sih, siapa tau emang bener kena.)

Histeria adalah nama yang diberikan untuk berbagai macam jenis kondisi syaraf yang mana pengidapnya mengalami gangguan emosi dalam berbagai bentuk. Mereka bisa mengalami ketakutan yang tak diketahui alasannya atau fobia, hilangnya pengendalian diri, depresi, perampasan diri, dll. Menurut sejarah, penderita histeria disebut orang yang berhalusinasi atau kena sihir. Tetapi dengan kemajuan teknologi maka histeria secara bertahap bisa diterima sebagai sebuah kondisi medis.

Gejala dan penyebab

Histeria biasanya di idap oleh orang remaja atau awal dewasa, dan lebih umum menyerang wanita. Gejala-gejala umum yang bisa dipredikasi adalah:

  • Nafas berat
  • Otot tegang
  • Pembengkakan pembuluh darah di daerah leher
  • Tenggorokan seperti ada hambatan
  • Perubahan antara tertawa dan menangis

Pada serangan yang lebih parah, pengidap akan menangis secara liar, tak bisa mengendalikan diri dan tertekan. Karena serangan sering terjadi tiba-tiba maka sulit untuk mendapatkan pertolongan sesegera mungkin. Meskipun sampai saat ini dokter tidak tahu pasti mengapa dan bagaimana histeria itu, tetapi mereka pada umumnya menerima beberapa penyebab seperti tekanan dan ketegangan mental atau fisik yang terus menerus, terlalu lama mengidap penyakit atau trauma yang bisa membawa kondisi histeris pada pengidap. Gangguan emosional yang tidak stabil sering menyebabkan histeria pada anak remaja.

Pengobatan alami

  • Makan buah-buahan selama beberapa hari seperti apel, anggur, jeruk, nanas, pepaya, jeruk besar, dll.
  • Minum susu selama sebulan untuk memberi nutrisi pada syaraf dan memperkuat syaraf.
  • Hindari merokok, alkohol, kopi, teh, gula dan tepung rafinasi.
  • Makan 1 sm madu setiap hari.



Referensi:


-Read more about stres by goblogin.com

-Gangguan Jiwa Hysteria

Prof. Dr. Zakiah Daradjat

-Spoiler for Histeria Massa Di Nikaragua:

Etika Konseling

Etika Konseling

Etika konseling berarti suatu aturan yang harus dilakukan seorang konselor dan hak-hak klien yang harus dilindungi oleh seorang konselor. Selama proses konseling berlangsung, seorang konselor harus bertanggung jawab terhadap kliennya dan dirinya sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu konselor harus bertanggung jawab untuk memberi perhatian penuh terhadap klien selama proses konseling. Konselor tidak boleh melakukan konseling ketika energi, atensi, dan motivasinya dibuyarkan oleh jadwal yang terlalu padat, masalah-masalah pribadi, dll.. Mengapa demikian? Itu pertanggungjawaban kita sebagai seorang konselor. Jika kita sedang letih, bosan, atau sedang sibuk mengerjakan sesuatu, kita sulit memberikan perhatian kepada seseorang, kecuali jika mendesak atau orang yang akan konseling tiba-tiba sudah datang.

Di dalam konseling, kita membutuhkan konsentrasi yang penuh. Jadi jika kita sedang bosan dan memunyai banyak masalah, bagaimana kita bisa berkonsentrasi secara penuh? Konseling adalah jenis pelayanan yang sangat menguras energi. Oleh karena itu, pelaksanaan pelayanan ini tidaklah mudah. Kita harus berkonsentrasi dari awal sampai akhir konseling. Pikiran kita menganalisis apa yang dikatakan oleh klien. Sebetulnya, apakah yang sedang dirasakan oleh klien? Apakah yang mengisi pikiran dan hati klien? Jika kita tidak "fully attentive", konseling itu tidak akan berlangsung dan itu berarti kita tidak bertanggung jawab. Menurut saya, konseling biasanya harus didahului "appointment" supaya saya bisa siap. Jika kita keliru dalam menghadapi seseorang, kita akan membuat dia sengsara. Artinya, itu tidak bertanggung jawab.

Konselor harus dapat mengukur kekuatannya supaya dapat melakukan konseling dengan baik. Mengukur kekuatan berarti ia benar-benar mengetahui sekuat apa dia dalam berkonseling. Kita tidak boleh terlalu memaksakan diri. Jika hari ini saya bisa mengonseling 3 orang, jangan dipaksakan untuk mengonseling 5 orang. Setiap konselor memunyai kekuatan yang berbeda. Semakin ahli seseorang, semakin mudah dia berkonsentrasi dalam konseling. Tetapi, dia pun harus tetap mengukur kekuatannya. Anda juga harus menyadari kompetensi Anda dan tidak melakukan konseling di luar kompetensi Anda meskipun ia sangat tertarik. Etika ini sangat penting. Misalnya, saya tidak akan mengonseling anak penyandang autisma karena itu bukanlah keahlian saya. Sangat tidak bertanggung jawab jika saya mengonseling anak tersebut. Jadi, kita harus melihat hingga sejauh mana keahlian kita.

Hubungan konselor dan klien adalah hubungan yang menyembuhkan. Sekalipun profesional, kita tidak boleh menghilangkan relasi personal, misalnya berelasi sebagai teman. Kita harus mengetahui batasnya. Jika relasi kita sebatas personal, kita hanya menjadi pendengar curahan hati. Relasi antara konselor dan klien tidak boleh terlalu personal yang menjadikan klien "over dependent", atau terjadi relasi yang saling memanfaatkan. Jika demikian, mengingat konselor adalah penanggungjawabnya, ia harus menghentikan proses konseling itu.

Konselor sebaiknya berhati-hati juga ketika menyikapi hubungan pribadi dengan klien. Kedekatan yang berlebihan dengan klien sering menjadikan dia sangat bergantung kepada kita. Oleh sebab itu, kita harus bisa menjaga jarak. Kita harus mengetahui tanda-tanda klien mulai bergantung kepada kita. Jika itu sudah terjadi, kita bisa tidak objektif lagi. Kita akan kesulitan dalam melihat masalah klien dan merefleksikan perasaannya ketika relasi tersebut sudah menjadi terlalu personal. Jadi, relasi yang dibangun di antara konselor dan klien haruslah bersifat terapeutik.

Karakteristik Terapis yang Efektif

1. Beritikad baik: prihatin terhadap keadaan orang lain dan bersedia membantunya (termasuk memperhadapkan dia dengan hal-hal yang belum disadarinya).

2. Bersedia dan dapat hadir bersama klien dalam pengalaman hidupnya, entah suka maupun duka.

3. Menyadari dan menerima kelebihannya bukan dengan maksud untuk menguasai atau mendominasi orang lain atau mengecilkan orang lain.

4. Menggunakan metode dan gaya berkonseling yang sesuai dengan kepribadiannya sendiri.

5. Bersedia menanggung risiko, rela menjadi contoh, dalam hal ini bagi kliennya. Bersedia disentuh secara emosional dan menyampaikannya kepada klien pada saat itu diperlukan.

6. Menghargai diri sendiri sehingga mampu berhubungan dengan orang lain. Menggunakan kelebihannya dalam hal berhubungan dengan orang lain.

7. Bersedia menjadi contoh bagi klien dan tidak menuntut klien melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak mampu lakukan. Dituntut kejujuran, keterbukaan, dan kesediaan mengoreksi diri sendiri.

8. Berani mengambil risiko untuk membuat kekeliruan dan berani mengakuinya pula. Bersedia belajar dari kekeliruan itu tanpa mencela diri sendiri.

9. Berorientasi pada pertumbuhan: tidak menganggap diri telah memiliki segalanya.

Seorang konselor harus memunyai spiritualitas yang sehat supaya dia bisa menolong kliennya bergumul bersama Tuhan. Banyak klien sering tidak mengetahui apakah arti bergumul dengan Tuhan. Jika konselor tidak memerhatikan kerohanian dirinya sendiri, dia akan kesulitan untuk memberikan konseling.

Siapa yang bisa mengubah hati manusia? Tidak ada! Kita juga tidak bisa, meskipun kita seorang konselor. Hanya Tuhan yang bisa mengubah manusia. Jadi, kita harus sangat memerhatikan pertumbuhan rohani kita. Pilar pelayanan konseling adalah doa. Kita kadang-kadang menemukan orang yang begitu sulit, masalah yang sangat rumit, tetapi Tuhan memberikan pencerahan tentang bagaimana kita bisa menolong orang tersebut. Secara ilmu pengetahuan, analisis kita mungkin baik, tetapi orang kadang-kadang membutuhkan faktor lain. Jika kita tidak melihat pertumbuhan rohani kita, sebaiknya kita tidak memberikan konseling. Itu adalah wujud tanggung jawab kita.

Kita juga perlu membangun kehidupan emosional yang sehat. Artinya, kita memunyai relasi yang baik dengan orang lain, dan kita belajar menyelesaikan masalah-masalah kita sendiri. Jika emosi kita tidak sehat, klien mungkin menjadi sasaran kita. Bukan tidak mungkin kita akan marah atas ketidaksehatan klien.

Bagaimana pembangunan emosi yang sehat? Syarat utama konselor adalah ia seorang yang sudah lebih dahulu dilayani konseling. Saya sudah bertahun-tahun dilayani konseling supaya siap menjadi konselor. Jika kita tidak sehat secara emosi, kita bisa saja kolaps.

Masalah-Masalah Etis dalam Konseling

1. Tanggung jawab profesional.

Apakah saya orang yang tepat untuk menolongnya atau saya harus merujuk konselor lain untuk dia. Apakah saya konsisten pada prinsip dan tujuan selama proses terapi itu, atau saya mulai berkompromi dengan kepentingan atasan?

Konselor harus bersedia merujuk konselor lain untuk klien apabila ia merasa tidak mampu menangani seorang klien yang datang kepadanya. Sebagai konselor, kita dituntut untuk mampu bersikap demikian. Seorang konselor tidak bisa menangani konselinya karena beberapa alasan, misalnya jika kasusnya atau akibatnya bisa menimbulkan sesuatu yang tidak baik (misalnya pada kasus-kasus histeria), atau kita merasa bahwa dia akan lebih baik ditangani seorang konselor wanita, dan sebagainya.

Dengan keahlian yang ada, kita bisa melihat bahwa klien ini sebaiknya kita "refered" ke orang lain. Itu tindakan profesional. Misalnya, jika saya melihat klien ini tidak bisa maju-maju sepanjang konseling dengan saya (konseling juga menyangkut soal kecocokan) atau sukses konseling itu kecil, saya wajib mengarahkan dia ke konselor lain. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban seorang konselor. Walaupun kita begitu tertarik pada kasusnya, janganlah merasa kecewa sekiranya kita tidak bisa menangani dia. Dia mungkin tidak cocok dengan kita. Setiap konselor harus memprediksi sukses suatu konseling, hingga sejauh mana bisa berhasil. Kita harus membangun sikap profesional, bukan semata-mata karena keinginan untuk membantu atau tertarik.

2. Menjadi diri sendiri (otentik dan membuka diri).

Bila ketertarikan klien sudah termasuk proses "transference" (pemindahan), perlukah konselor terbuka kepada klien dan mengatakan, "... bahwa saya tidak bisa konseling dengan Anda, karena... " (misalnya kasus klien naksir konselor)? Apakah seorang konselor perlu mengemukakan alasannya secara transparan atau mengetahui keadaan yang sebenarnya?

Ini bergantung pada kesiapan dan kematangan klien. Misalnya, pada kasus klien yang terobsesi pada konselor. Jika perlu, kita bisa mengeksplorasi ketertarikan klien kepada kita, misalnya "Apa yang kamu sukai pada saya?", "Apa yang timbul dalam hatimu ketika kamu saya perhatikan?" Bila klien menjawab, "Saya merasa Anda seperti Ayah saya." Konselor bisa menjawab, "O, jadi kamu sangat merindukan figur Ayahmu yang selama ini hilang dari hidupmu?" (Jadi, jangan tergesa-gesa melepaskan si klien).

Adakalanya terapis ingin menekankan persahabatan. Hati-hati! Jika hanya menekankan persahabatan, kita tidak dapat menekankan sesuatu kepada si klien. Jika kita sedikit menjaga jarak, tekanan itu akan lebih efektif. Hindari berbasa-basi, seperti mengatakan, "Kita kan teman, jangan segan-segan."

Contoh lain, bila klien memang tidak punya teman, lalu kita menawarkan diri menjadi temannya, namun ternyata dia menyebalkan kita. Kita justru menjadi sulit untuk berteman dengannya. Jadi, pelihara bobot pertemanan dan profesionalitas kita. Jangan mengobral kalimat, "Anggap saja kita berteman." Juga hati-hati, jangan berjanji kepada klien "Saya tidak akan meninggalkan engkau", "Saya tidak akan marah kepadamu" sebab dengan berbuat demikian kita sudah membatasi diri kita sendiri.

Sikap membuka diri juga berkaitan dengan gejala pemindahan. Kita akan lebih suka berbicara dengan klien tertentu, namun berbicara seperlunya dengan klien kita yang lain. Adakalanya kita berbicara melucu dan "ngalor ngidul" dengan klien tertentu. Ini adalah gejala "tranference" pada diri konselor. Gejala ini perlu disadari dan ditanyakan pada diri sendiri: demi kepentingan siapa saya berbicara melantur seperti ini? Apakah itu berfaedah bagi klien? Ini menolong kita untuk lebih menguasai diri.

Sebaliknya, jangan menjadi profesional canggung, kaku, dan tidak bisa bercanda (kecuali jika kita berkarakter demikian). Bercanda pun jangan demi kepentingan diri kita, tetapi demi kepentingan si klien.

3. Hati-hati, jangan menyentuh klien.

Tidak semua orang suka disentuh. Tetapi, jika dia yang ingin memeluk kita, tanggapi dia secara tepat (sejenis). Namun, terhadap lawan jenis, jika kita tidak bisa, sampaikan secara terus terang kepada klien. Bisa dengan cara lain, misalnya Anda mengatakan, "Mau nggak jari (jari kelingking) kita berpelukan sebagai tanda kita saling menguatkan satu terhadap yang lain." Tindakan ini akan dikenang lama oleh klien.

4. Dalam hal berdoa.

Apakah doa yang kurang etis (karena tidak terapeutik) dalam konseling? Amati motivasi kita mendoakan klien: untuk apa? Ada waktunya kita tidak perlu mendoakan klien. Misalnya dia, sedang marah kepada Tuhan.

Pemindahan dan Kontra-Pemindahan

Pemindahan (transference) merupakan sebuah proses alam bawah sadar (unconscious) yang diproyeksikan klien kepada terapisnya mengenai perasaan-perasaan, atau sikap/reaksi terhadap tokoh-tokoh penting dalam kehidupan masa lalunya. Pemindahan sering terjadi karena pengalaman masa lalu yang membekas dalam hidup kita.

Dalam proses terapi, pemindahan ini memunyai nilai tersendiri, karena melalui proses inilah klien akan dapat mengungkapkan perasaan-perasaannya yang telah terdistorsi. Sedangkan reaksi yang didapatnya adalah respons terapis dan bukan tokoh-tokoh dalam hidupnya dahulu. Ketika klien memilih terapis A, B, atau C, ini pun suatu pemindahan.

Jadi, prinsip utamanya ialah terapis tidak boleh membiarkan dirinya masuk/terjerat ke dalam proyeksi kliennya. Jika terapis sudah terjerat, hakikatnya ia telah memuaskan kebutuhan neurotik klien, yang akhirnya akan melestarikan kebutuhan-kebutuhan neurotik si klien. Jika klien memproyeksikan figur ayahnya yang galak pada diri terapis, si terapis tidak perlu bereaksi marah atau tersinggung. Dengan demikian, klien menyadari bahwa tidak semua orang seperti ayahnya yang galak itu.

Kontra Pemindahan (Counter Transference) adalah proses pemindahan yang dilakukan terapis terhadap kliennya. Ini terjadi apabila kebutuhan pribadi terapis bercampur aduk hubungannya dengan si klien. Akhirnya, ini dapat merusak objektivitasnya.

Beberapa pertanyaan dapat diajukan kepada diri sendiri untuk mengetahui apakah terapis sedang melakukan kontra pemindahan.

1. Apakah saya senantiasa membutuhkan pujian dan pengakuan klien? Adakalanya terapis perlu menegur pola pikir klien yang irrasional (ini berisiko).

2. Apakah saya melihat diri saya pada si klien? Apakah saya makin terserap (karena menyukai), atau makin menjauh (karena melihat karakteristik tertentu pada klien yang Anda tidak sukai). Misalnya, dalam terapi pernikahan atau kelompok, saya lebih menyukai salah satu klien dibanding klien lainnya.

3. Apakah saya mulai tertarik kepada klien, baik secara romantik atau seksual? Penting untuk Anda ketahui bagaimana menghadapinya secara sadar tanpa merusak proses terapi. Misalnya, jangan menanyakan sesuatu berkaitan seksual yang tidak perlu.

4. Apakah saya terdorong untuk segera memberikan nasihat kepada klien? Terapis terjebak perasaan diri lebih tinggi dari klien; terlalu khawatir bahwa klien akan mengambil keputusan yang keliru sehingga tidak membiarkan klien mandiri.

5. Apakah muncul keinginan untuk menjalin persahabatan dalam diri saya? Masih beranikah?

6. Apakah ada perasaan tidak ingin kalah terhadap klien (menang sendiri)?

7. Apakah Anda merasa marah melihat klien tidak maju, atau ketika klien kurang menghargai terapi?

8. Apakah ada dorongan untuk menggunakan kekuasaan saya sebagai terapis?

9. Jika saya meminta klien datang lebih dari seminggu, untuk kepentingan siapakah itu? Apakah itu untuk reputasi?

Kerahasiaan

Apakah istrinya perlu diberitahu bahwa suaminya telah menyeleweng? Sebaiknya, mintalah si suami sendiri yang menyampaikan. Jika menyangkut anak remaja, ceritakan garis besarnya. Ini pun atas izin dari remaja tersebut. Mintalah dia memberitahukan yang manakah harus dirahasiakan. Jadi, ceritakan gambaran secara umum saja kepada orang tuanya.

Sebaiknya, terapis tidak menceritakan masalah klien kepada siapa pun yang dikenal klien maupun terapis. Ini berbahaya, sebab orang akan mengatakan kita suka bergosip. Semuanya harus dengan persetujuan klien jika memang perlu diceritakan.

Nilai Kehidupan

Tak bisa dihindari, terapi melibatkan nilai kehidupan terapis. Ia tidak mungkin 100% netral ketika bertindak dan bereaksi terhadap klien, yang dipengaruhi nilai kehidupannya. Tanpa sadar ia sudah mengkomunikasikan nilai itu kepada kliennya. Misalnya, ketika ia mengatakan, "Untuk apa ke kamu ke disko, nggak baik itu!" "Tidak boleh berpacaran sebelum 20 tahun, lho!" "Mengapa kamu tidur berdua bersama dengannya (teman sejenis)."

Tanpa disadari sang terapis, ia sering menebarkan nilai hidup tertentu yang dilandasi kepentingan pribadi. Berhati-hatilah, jangan sampai berlebihan dan prematur ketika memberikan nilai kehidupan pribadi, apalagi bukan sesuatu yang prinsip. Waspadalah juga agar tidak menekankan sesuatu yang hanya untuk menyenangkan pribadi klien atau terapis.

Prinsip Etika Psikolog (Konselor)

A. Competence (Kemampuan)

Psikolog harus benar-benar melakukan tugasnya sebaik mungkin (sebaik-baiknya). Ia menyadari bahwa batasan dirinya bergantung pada bidang yang sudah dipelajari dan diterimanya. Ia menyadari bahwa kelompok yang berbeda membutuhkan penanganan secara berbeda pula. Ia harus senantiasa bersedia belajar.

B. Integrity (Integritas)

Ia perlu memelihara integritas pribadi: jujur, adil, dan menghormati orang lain, mengerti nilai-nilai kehidupan, keinginan-keinginan, dan keterbatasan diri pribadinya.

C. Profesional and Scientific Responsibility (Tanggung Jawab Profesional dan Ilmiah)

Ia harus memiliki tanggung jawab profesional. Tidak bertindak sembarangan. Perlu berkonsultasi dengan orang-orang atau lembaga yang berpengalaman dan lebih profesional. Tentang moralitas, psikolog boleh meyakini nilai-nilai itu tetapi tidak boleh merusak terapi. Nilai hidup pribadinya tidak boleh merusak kualitas pekerjaannya. Misalnya, jika ia seorang lesbian, ia tidak boleh memaksakan kliennya agar bersikap permisif terhadap perilaku lesbian. Setiap psikolog harus memerhatikan rekan sekerjanya. Jika ia mengetahui ada yang nakal, ia harus melaporkan rekannya untuk diproses pencabutan izin bekerjanya.

Standar Etika

Prinsip Umum

1. Boundaries of Competence: Kita hanya memberikan layanan yang sesuai dengan training dan pendidikan yang kita terima dan pelajari.

2. Describing the Nature and Results of Psychological Services:

(a) Beritahukan klien apa yang akan kita berikan dan lakukan kepadanya. Setelah selesai, kita wajib memberitahukan kepadanya, supaya ia tidak merasa dirugikan.

(b) Jika kita bekerja untuk suatu lembaga dan diwajibkan melapor kepada lembaga itu, kita harus meminta izin kepada klien.

3. Sexual Harrasment (pelecehan seksual):

(a) Tidak boleh melakukan pelecehan seksual, memikat klien secara seksual, dan atau berperilaku yang bermuatan seksual.

(b) Kita tidak boleh membedakan klien berdasarkan jenis kelamin.

4. Personal Problems and Conflics:

(a) Kita tidak boleh membahayakan klien karena masalah diri kita sendiri (misalnya, kita sedang marah kepada istri di rumah, lalu marah kepada klien).

(b) Jika memunyai masalah pribadi, segera cari pertolongan (jangan terlalu lama). Sementara itu, berhentilah sementara sebagai konselor.

5. Avoiding Harm: Kita tidak boleh merugikan klien. Harus menghindari gangguan.

6. Misuse of Psychologists' Influence: Kita tidak boleh memberikan pengaruh untuk menekan klien. Misalnya, memberi pertimbangan yang keliru demi kepentingan kita.

7. Multiple relationships: Kita tidak bisa menghindari persahabatan dengan klien, namun jangan sampai persahabatan itu mengganggu dan merugikan proses terapi kita. Bila perlu, jagalah jarak dengan klien.

8. Barter (With Patient or Clients): Dalam terapi yang serius, jangan menerima kado atau hadiah dalam bentuk apa pun. Pemberian yang bersifat tidak anti-teraupetik (membangun) boleh diterima dan harus dijaga agar tidak mengekploitasi hubungan itu.