Selasa, 09 November 2010
bentuk-bentuk layanan konseling islam
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setalah dipahami pengertian, landasan, fungsi dan prisip-prinsip, serta orientasi dan ruang lingkup pelayanan bimbingan konseling.bab ini membahas tentang bentuk-bentuk layanan konseling islam. Dalam bab ini hanya memberikan wawasan yang mendasari pemahaman awal tentang masing-masing layanan.
Sebelum kita menguraikan konseling dalam kaca mata islam, ada baiknya kita memahami hakekat islam sebagai agama. Hal ini akan membantu kita menganalisis bagaimana konseling dalam kaca mata islam.
Hakekat agama itu sendiri menurut zakiah darajat, dkk (1986) adalah yang disampaikan tuhan kepada nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hokum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dengan dan tanggung jawab kepada Allah.
Agama adalah sumber system nilai yang menjadi petunjuk, pedoman dan pendorong bagi manusia untuk memecahkan berbagai masalah hidup.
BAB II
PEMBAHASAN
BENTUK-BENTUK LAYANAN KONSELING ISLAM
A. Layanan orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru dimasukinya. Layanannya adalah sebagai berikut:
1. Layanan orientasi disekolah
Allan & McKean (1984) menegaskan bahwa tanpa program-program orientasi, periode penyesuian untuk sebagian besar siswa berlangsung kira-kira tiga atau empat bulan. Dalam kaitan itu, penelitian allan dan McKean menunjukkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yaitu:
• Program orientasi yang efektif menpercepat proses adaptasi, dan juga memberikan kemudahan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
• Murid-murid yang mengalami masalah penyesuian ternyata kurang berhasil di sekolah
• Anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang rendah memerlukan waktu melebihi lama untuk menyeuaikan diri dari pada anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang lebih tinggi.
Individu yang memasuki lingkungan baru perlu segera dan secapat mungkin memahami lingkungan barunya. Hal-hal yang perlu diketahui pada garis bsarnya adalah keadaan lingkungan fisik (seperti gedung-gedung, peralatan),materi dan kondisi kegiatan (seperti jenis kegiatan, lamanya kegiatan berlangsung syarat-syarat bekerja,suasana kerja),peraturan dan berbagai ketentuan lainnnya (seperti disiplin). Untuk lingkungan sekolah misalnya materi orientasi yang mendapatkan penekanan adalah:
a. System menyelenggaraan pendidikan pada umumnya
b. Kurikulum yang ada
c. Penyelenggaraan pengajaran
d. Kegiatan belajar siswa yang diharapkan
e. System penilaian, ujian, dan kenaikan kelas
f. Fasilitas dan sumber belajar yang ada
g. Staf pengajar dan tata usaha
h. Hak dan kewajiban siswa
i. Organisasi siswa
j. Organisasi orang tua siswa
k. Orientasi sekolah secara menyeluruh
2. Metode Layanan Orientasi Sekolah
Untuk anak-anak yang segera akan memasuki SLTP, Allan dan McKnean
a. Kunjungan ke SD Pemasok
b. Kunjugan ke SLTP Pemesan
c. Malam pertemuan dengan orang tua
d. Staf konselor bertemu dengan guru membicarakan siswa baru
e. Mengunjungi kelas
f. Memamfaatkan siswa senior
3. Layanan Orientasi di Luar sekolah
cara penyajian di luar sekolah sangat tergantung pada jenis orientasi yang diperlukan dan siapa yang memerlukannya. Lembaga-lembaga seperti badan penasehat perkawinan, pusat rehabilitas narapidana, pusat orientasi tenaga kerja, dan lain-lain dapat dibentuk dan konser mejadi tenaga ahli serta penggerak lembaga bantuan khusus di masyarakat
B. Layanan informasi
Secara umum, bersama dengan layanan orientasi bermaksud memberikan pemahaman kepada individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjadi suatu tugas atau kegiatan untuk mengarah ke dalam tujuan atau rencana yang dikehendaki. Layanan orientasi dan informasi pertama-tama merupakan perwujudan dari fungsi pemahaman pelayanan bimbingan konseling.
Ada tiga alasan utama mengapa pemberian imformasi perlu diselenggarakan
1. Membekali individu dengan berbagai ilmu pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun social-budaya.
2. Memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya. “Kemana dia ingin pergi”. Syarat dasar untuk dapat menentukan arah hidup adalah apabila ia mengetahui apa (informasi) yang harus dilakuan serta bagaimana bertindak secara kreatifdan dinamis berdasarkan atas imformasi-imformasi yang ada.
3. Setiap individu adalah unik. Keunikan itu akan membawakan pola-pola pengambilan keputusan dan bertindak yang berbedabeda disesuaikan dengan aspek-aspek kepribadian masing-masing individu.
a. Jenis-jenis layanan imformasi
1. Imformasi pendidikan
Dalam bidang pendidikan banyak individu yang berstatus siswa atau calon siswa yang dihadapkan pada kemungkinan timbulnya masalah atau kesulitan. Diantaranya yaitu:
• Pemilihan program studi
• Pemilihan sekolah, fakultas dan jurusan
• Penyesuaian diri dengan program studi
• Penyesuaian diri terhadap suasana belajar
• Putus sekolah
Norris, Hatch, Engelkes & Winborn (1977) menekakan bahwa imformasi pendidikan meliputi data dan keterangan yang sahih dan berguna tentang kesempatan dan syarat-syarat berkenan dengan berbagai jenis pendidikan yang ada sekarang dan yang akan datang.
2. Imformasi jabatan
Imformasi jabatan/pekerjaan yang baik sekurang-kurangnya membuat hal-hal sebagai berikut:
• Struktur dan kelompok-kelompok jabatan/pekerjaan utama
• Uraian tugas masing-masing jabatan/pekerjaan
• Kualifikasi tenaga yang diperlukan untuk masing-masing jabatan
• Cara-cara atau prosedur penerimaan
• Kondisi kerja
• Kesempatan-kesempatan untuk pengembangan karier.
• Fasilitas penunjang untuk kesejahteraan pekerjaan, seperti kesehatan, olah raga dan rekreasi, kesempatan pendidikan bagi anak-anak , dan sebagainya.
3. Imformasi social-budaya
Dapat kita ketahui bahwa Indonesia mempunyai lambang Negara yaitu “bhineka tunggal ika”. Dikatakan dengan berbagai macam suku bangsa dan adat istiadat. Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sejak dini mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman isi imformasi tentang keadaan social-budaya berbagai daerah. Hal ini dapat dilakukan melalui penyajian imformasi social-budaya yang meliputi:
• Macam-macam suku bangsa
• Adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan
• Agama dan kepercayaan-kepercayaan
• Bahasa, terutama istilah-istilah yang dapat menimbulkan kesalahpahaman suku bangsa lainnya.
• Potensi-potensi daerah
• Kekusutan masyarakat atau daerah tertentu
b. Metode layanan imformasi disekolah
1. Ceramah
Ceramah merupakan metode pemberian imformasi yang paling sederhana, mudah dan murah, dalam arti bahwa metode ini dapat dilakukan hamir setiap petugas bimbingan disekolah.
2. Diskusi
Diskusi seperti ini dapat diorganisasi baik oleh siswa sendiri maupun oleh konselor, atau guru.
3. Karyawisata
Karyawisata merupakan salah satu merupakan bentuk kegiatan belajar mengajar yang telah dikenal secara meluas, baik oleh masyarakat sekolah maupun masyarakat umum.
4. Komferensi karier
Juga disebut dengan komferensi jabatan. Komferensi karier dilakukan dengan mengikuti salah satu pola dapat diuraikan:
• Menyediakan jadwal komferensi dengan mengadakan pertemuan sekali setiap minggu.
• Mengadakan pekan bimbingan karier selama satu minggu terus menerus.
C. Layanan bimbingan belajar
Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan di sekolah. Pengalamnan menunjukan bahwa kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya inteligensi. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.
Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap:
1. Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar
Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya, yang pada umumnya dapat digolongkan atas:
• Keterlambatan akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memilliki inteligensi yang yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memamfaatkan secara optimal.
• Ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi.
• Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus.
• Kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak malas.
• Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic antar sesama dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, dan sebagainya.
Siswa yang mengalami masalah belajar seperti di atas dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui:
a. Tes hasil belajar
Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang ditetapkan sebelumnya. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.
b. Tes kemampuan dasar
Setiap siswa mengalami kemampuan dasar atau intelegensi tertentu. Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengatministrasikan tes intelegensi yang sudah laku.
c. Skala sikap dan kebiasaan belajar
Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu factor yang penting dalam belajar. Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan yang dilakukan siswa dalam belajar.
d. Tes diagnostic
Tes diagnostic merupakan instrument untuk mengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Misalnya untyuk berhitung dijumpain kesalahn-kesalahan dalam operasi berhitung.
e. Analisi hasil belajar atau karya
Analisis hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostic. Tujuannya sama, yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. Apabila tes diagnostic disusun, dibakukan, dan diselenggarakan dalam bentuk tes baik tertulis, analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan mememriksa secara langsung materi ahsil hasil beajar yang ditampilkan siswa, baik melalui tuliasan, bentuk grafik dan lainnya serta gerak dan suara.
D. Layanan konseling perorangan
Yang dimaksud dalam layanan ini hubungan lansung tatap muka antara koselor dank lien.
1. Layanan konseling diselenggarakan secara resmi
Konseling merupakan layanan yang teratur, terarah, dan terkontrol, serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya. Sasaran (subjek penerima layanan, tujuan, kondisi dan metodologi penyelenggaraan layanan telah digaris dengan jelas.
2. Pengentasan masalah melalui konseling
a. pemahaman masalah
b. Analisis sebab-sebab timbulnya masalah
c. Aplikasi metode khusus
d. Evaluasi
e. Tindak lanjut
E. layanan bimbingan dan konseling kelompok
Apabila konseling perorangan menujukkan layanan kepada individu atau klien orang-perorangan, maka bimbingan dan konseling kelompok mengarahkan layanan kepada sekelompok individu. Dengan satu kali kegiatan, layanan kelompok itu memberikan mamfaat atau jasa kepada sejumblah orang. Kemamfaatan yang lebih meluas inilah yang paling menjadi perhatian semua pihak berkenaan dengan layanan kelompok itu.
Keunggulan yang diberikan oleh layanan kelompok ternyata bukan hanya menyangkut aspek ekonomi/efisiensi sebagaimana dituturkan diatas. Dinamika perubahan yang terjadi ketika layanan itu berlansung juga amat menarik perhatian. Dalam layanan kelompok inteaksi antar individu anggota kelompok merupakan suatu yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada konseling perorangan.
1. Ciri-ciri kelompok
Meskipun suatu kelompok terdiri dari sejumblah orang, tetapi kelompok bukan seadar kumpulan sejumblah orang. Sejumblah orang yang berkumpul itu baru merupakan “lahan” bagi terbentuknya kelompok. Unsure yang paling pokok menyangkut tujuan, keanggotaan dan kepemimipinan, serta aturan yang diikuti.
2. Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok. Gazda (1978) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok disekolah merupakan kegitan imformasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Gazda juga menyebutkan bahwa bimbingan kelompok diselenggarakan untuk memberikan imformasi yang bersifat personal, vokasional, dan social.
3. Konseling kelompok
Layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan didalam suasana kelompok. Disan ada konselor (yang jumblahnya mungkin lebih dari satu orang) dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlah paling kurang 2 orang). Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan, yaitu hangat, terbuka, permisif, dan penuh keakraban. Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah (jika perlu dengan menerapkan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.
Unsure-unsur konseling perorangan tampil secara nyata dalam konseling kelompok. Untuk memasuki konseling kelompok para anggota atau klien pada awalnya tidak memerlukan persiapan tertentu. Dengan demikian masalah yang akan mereka bawa masing-masing ke dalam kelopok besar kemungkinan berbeda-beda; atau bahkan ada diantara mereka yang ada menurut kategori Bordin “tidak bermasalah”. Masalah-masalah yang dibawa oleh masing-masing anggota itu nantinya akan dikemukakan dalam kegiatan kelompok. Oleh karena itu akan muncul sejumlah masalah yang berbeda-beda yang dibicarakan melalui dinamika interaksi social dalam kelompok itu.
F. Kegiatan Penunjang
Pelaksanaan berbagai macam layanan bimbinga dan konseling memerlukan sejumlah kegiatan penunjang.
Agaknya memang benar apabila dikatakan bahwa alat dan kelangkapan yang paling handal dimiliki oleh konselor untuk menjalankan tugas-tugas pelayanannya ialah mulut dan berbagai keterampilan berkomunikasi baik verbal maupun non-verbal. Namun, mengingat apa yang menjadi isi komunikasi itu mengjangkau wawasan yang sedemikian luas dan “multi dimensional”, serta harus sesuai dengan data dan kenyataan yang berkenaan dengan objek-objek yang dibicarakan, maka konselor perlu diperlengkapi dengan berbagai data, keterangan dan informasi, terutama dengan klien dan lingkungan.
1. Instrument Bimbingan dan Konseling
Pemahaman tentang diri klien, tentang masalah klien, dan tentang lingkungan “yang lebih” dapat dicapai dengan berbagai cara. Wawancara dan dialog yang mendalam biasanya merupakan cara yang efektif untuk mengembangkan pemahaman tentang klien dan masalahnya itu. Dalam kaitan itu konselor perlu memiliki wawasan dan keterampilan yang memadai dalam penggunaan berbagai instrument tersebut.
Instrumentasi bimbingan dan konseling memang merukan salah satu sarana yang perlu dikembangkan agar pelayanan bimbingan dan konseling terlaksana secara lebih cermat dan berdasarkan data empiric. Termasuk ke dalam instrumen yang dimaksudkan itu adalah berbagai tes, inventori, angket dan format isian. Sedang untuk pemahaman lingkungan yang “lebih luas” dapat digunakan berbagai brosur, leaflet, selebaran, model, contoh, dan lain sebagainya.
Ada beberapa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor dalam penerapan instrumentasi bimbingan dan konsseling. Antara lain ialah:
a. Instrmen yang dipakai haruslah yang sahih dan terandalkan.
b. Pemakai instrumen (dalam hal ini konselor) bertanggung jawab atas pemilihan instrumen yang akan dipakai (misalnya tes), monitoring pengadministrasiannya dan scoring, penginterpretasian skor dan penggunaannya sebagai sumber informasi bagi pengambilan keputusan tertentu (Anastasi, 1992)
c. Pemakaian instumen, misalanya, harus dipersiapkan secara matang, bukan hanya persiapan instrumennya saja, tetapi persiapan klien yang mengambil tes itu.
d. Perlu diingat bahwa tes atau instrumen apapun hanya merupakan salah satu sumber dalam rangka memahami individu secara lebih luas dan dalam.
e. Ada dan dipergunakannya berbagai instrumen lainnya bukanlah syarat mutlak bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
2. Penyelenggaraan himpunan data
Data yang terkumpul melalui berbagai teknik/prosedur untuk sejumblah individu perlu dihimpun secara cermat.
Beberapa yang perlu dalam rangka penyelenggaraan himpunan data dan pemamfaatannya secara optimal.
a. Materi himpunan data yang baik (akurat dan lengkap) sangat berguna untuk memberikan gambaran yang tepat tentang individu.
b. Data yang terkumpul disusun dalam format-format yang teratur rapi yang sesuai dengan system tertentu.
c. Data dalam himpunan data itu pada dasarnya bersifat rahasia.
G. Layanan kegiatan konseling dalam islam
Kegiatan konseling sebagai bantuan fropesional pada individu yang memerlukan pemahaman diri menuntut teknik dan metode tertentu dalam penyelenggaraan. Beberapa nilai dalam ajaran islam yang termaktub dalam kitab suci Al-Quran sebagai dasar dalam pelaksanaan konseling bagi seorang konselor diantarany, adalah sebagai berikut:
1. Perkataan yang berbekas dihati adalah perkatan yang benar-benar keluar dari lubuk hati. ini ditanam sebagai pelajaran hidup dalam Al-Quran surat Al-Nisa ayat 63 Allah berfirman:
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”
2. Berbicara yang baik saja. Yang isinya bermafaat, mengandung kebajikan, tidak menyakiti hati orang lain. Yang terdapat dalam surat An-Nisa ayat 9:
“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.
3. Renda hati yaitu perasaan lemah dan kecil dihadapan Allah.
4. Senyum adalah sesuatu kebajikan dan sama dengan ibadah sedekah.
5. Sabar. Bersabar dalam pergaulan adalah sifat mukmin sejati.
6. Pemaaf dan tidak pendendam.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan dalm kaca mata islam bahwa konseling merupakan bagian dari ibadah yang dilakukan oleh umat muslim guna mendapat amal disisi khaliknya Allah SWT. Nabi Muhammad SAW diciptakan Allah sebagai profil konselor ideal yang perlu di contoh oleh konselor muslim.
Dan sebenarnya Allah telah mengatur dala kitab suci Al Quran prosedur, teknik dan metode dalam pelaksanaan konseling. Hal penting lainnya dalam kaca mata islam, seorang konselor perlu menguasai nilai-nilai agama guna membantu klien yang mengalami masalah dan butuh kejelasan, pandangan dari ajaran agama tersebut.
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. priyotno, H. M.Sc.Ed. dan Drs. Amti, Erman. 1994. Dasar-dasar bombing dan konseling. Jakarta: rineka cipta
Diniaty, Amira, M.pd, kons. 2009. Teori-teori konseling. Pekanbaru: daulat riau
Selasa, 19 Oktober 2010
KARAKTERISTIK USIA MADYA
NIM : 10842003825
JURUSAN :BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM/ V
MATA KULIA :PSIKOLOGI ORANG DEWASA & LANSIA
DOSEN PEMB. :Drs.MUKHLIS, M,Si
KARAKTERISTIK USIA MADYA
1. Usia madya merupakan periode yang sangat ditakuti
Bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya semakin terasa lebih menakutkan dilihat dari seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu orang-orang dewasa tidak akan mau mengakui bahwa mereka telah mencapai usia tersebut, sampai kelender dan cermin memaksa mereka untuk mengakui hal itu. Seperti dikatakan oleh Desmond, “orang-orang amerika memasuki usia madya dengan rasa segan, susah, dan ketakutan.
Untuk takut dengan memasuki usia madya yaitu:
a. Banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan tentang usia madya, yaitu kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang diduga disertai dengan berhentinya reproduksi kehidupan serta berbagai tekanan tentang pentingnya masa muda bagi kebudayaan amerika disbanding dengan penghormatan untuk masa tersebut oleh berbagai kebudayaan Negara lain.dan mereka berharap dapat kembali ke masa-masa muda.
2. Usia madya merupakan masa transisi
Usia madia merupakan masa dimana pria dan wanita meninggalkan cirri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh cirri-ciri jasmani dan perilaku baru. Seperti periode:
a. Dia mengalami perubahan keperkasaan dan wanita dalam kesuburan.
Transisi berarti penyesuaian diri terhadap minat, nilai, dan pola perilaku yang baru.
Dimana dapat dilihat baik bagi pria maupun wanita pasti terdapat perubahan terhadap hubungan yang berpusat pada pasangannya (pair centred relationship) bila dibandingkan dengan hubungan yang berpusat pada keluarga (family centred relationship) selama tahun-tahun awal periode dewasa, ketika peran utama pria dan wanita didalam rumah adalah sebagai orang tua.
Sebagai peran dirumah, pria harus menyesuaikan diri terhadap perubahan, yang kelak masa tua akan datang dan kondisi pekerjaan perlu disesuaikan dengan kondisi fisik mereka. Selama usia madya, kimmel telah mengidentifikasi tiga bentuk krisis pengembangan yang umum dan hamper universal seperti:
• Krisi sebagai orang tuaditandai dengan sindrom yang merupakan krisis yang terjadi apabila anak-anak gagal memenuhi harapan orang tua.
• Krisis yang timbul karena oarng tua berusia lanjut, sehingga sering timbul reaksi-reaksi dari anak-anaknya.
• Krisi yang berhungan dengan kematian, khususnya pada suami istri.
3. Usia madya merupakan masa stress
Usia ini merupakan usia masa stress karena penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, cendrung merusak Homeostasis fisik dan psikologi seseorang dan membawa kemasa stress.
Marmor telah membagi sumber-sumber umum dari stress pada usia madya yaitu:
a. Stress somatic, yang disebabkan oleh keadaan jasmani yang menunjukkan usia tua.
b. Stress budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan, keperkasaan dan kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu.
c. Stress ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik anak dan memberikan status symbol bagi seluruh anngota keluarga.
d. Stress psikologi, yang diakibatkan oleh kematian suami atau istri, kepergian anak dari rumah, kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa hilangnya masa muda dan mendekati ambang kematian.
4. Usia madya merupakan usia berbahaya
Cirri ini berbahaya dalam rentang kehidupan. Cara biasa menginterprestasi “usia berbahaya” berasal dari kalangan pri yang ingin melakukan pelampiasan untuk melakukan kekerasan yang berakhir sebelum memasuki usia lanjut. Saat ini merupakan suatu masa diman aseseoarang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurang memperhatikan kehidupan.timbul penyakit jiwa datang dengan cepat dikalangan pria dan wanita, dan gangguan ini berpuncak pada suisid (bunuh diri).
5. Usia madya merupakan usia canggung
Usia madya canggung ini sama seperti pada remaja, bukan anak-anak dan juga bukan dewasa. Demikian juga pria dan wanita berusia madya, mereka bukan muda lagi, tetapi juga bukan tua.
Franzblau mengatakan bahawa “orang yang berusia madya seoalah-olah berdiri diantara generasi pemberontak yang lebih mudah dan generasi warga senior”.merasa bahwa keberadaan mereka dalam masyarat tidak dianggap, orang berusia madya berusaha untuk tidak dikenal oleh orang lain. Keinginan untuk tidak dikenal bagi pria dan wanita barusia madya Nampak dalam cara mereka berpakaian.
6. Usia madya merupakan masa berprestasi
Menurut Erikson, usia madya merupakan masa krisis dimana baik “ generasivitas” (generativity) kecendrungan untuk menghasilkan maupun stagnasi kecendrungan untuk tetap berhenti akan dominan. Selama usia madya, orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti dan tidak akan mengerjakan sesuatupun sama sekali. Dan oaring usia madya berkemauan yang kuat untuk berhasil dari masa-masa persiapan pada sebelumnya.
Biasanya, pria meraih puncak kariernya antara usia 40-50 tahun, yaitu setelah mereka puas terhadap hasil yang diperoleh dan menikmati, hasil dari kesuksesan mereka sampai mereka mencapai usia 60 tahun. Usia madya ini merupakan masa dimana peran kepemimpinan pada pria dan wanita dalam pekerjaan, perindustrian dan organisasi masyarakat merupakan imbalan atas prestasi yang dicapai.
7. Usia madya merupakan masa evaluasi
Karena usia madya pada umumnya merupakan saat pria dan wanita mencapai puncak pretasinya. Maka logislah apabila masa ini juga merupakan saat mengevaluasi prestasi tersebut berdasarkan aspirasi mereka semula dan harapan orang lain baik dari keluarga maupun temannya. Sebagaj hasil dari evaluasi diri, Archer lebih lanjut mengatakan, ”usia madya nampaknya menuntuk perkembangan perasaan yang lebih nyata dan berbeda dari orang lain. Dalam perkembangan setiap fantasi atau ilusi mengenai apa dan bagaimana dirinya. Tanggungjawab lain pada usia madya menyangkut hal fantasi dan ilusi.
8. Usia madya merupakan masa individu dievaluasi dengan standar ganda
Satu standar bagi pria dan wanita, walauppun perkembangannya cendrung mengarah kepersamaan peran antara pria dan wanita baik dirumah, perusahaan, perindustrian, profesi maupun dalam kehidupan social. Namun masi terdapat standar ganda terhadap usia. Meskipun standar ganda ini mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan pria dan wanita usia madya tetapi ada dua aspek khusus yang perlu diperhatikan:
a. Aspek yang berkaitan dengan perubahan jasmani. Contoh ketika rambut pria menjadi putih, timbul kerut-kerut dan keriput di wajah dan juga terdapat beberapa bagian otot yang mengendur. Misalnya di pinggang. Perubahan pada wanita dipandang tidak menarik lagi, dengan penekanan utama “pemakaian usia madya”.
b. Standar ganda dapat dilihat pada cara mereka (pria dan wanita) menyatakan sikap terhadap usia tua. Ada dua pandangan filosofis yang berbeda tentang bagaimana orang harus menyesuaikan diri dengan usia madya yaitu
• Mereka harus tetap merasa mudah serta aktif
• Mereka harus menua denngan anggun semakin lambat dan hati-hati dan menjalani hidup denngan nyaman.
9. Usia madya merupakan masa sepi
Bahwa masa ini dialami sebagai masa sepi ( empaty nest), masa ketika anak-anak tidak lama lagi tinggal bersama orang tua. Contohnya anak yang mulai beranjak dewasa yang telah bekerja dan tinggal diluar kota sehingga orang tua yang terbiasa dengan kehadiran mereka dirumah akan merasa kesepian dengan kepergian mereka.
Periode masa sepi pada usia madya lebih bersifat traumatic bagi wanita dari pad bagi pria. Hal ini benar khususnya pada wanita yang telah menghabiskan masa-masa dewasa mereka dengan pekerjaan rumah tangga. Dan banyak pula yang mengalami tekanan batin karena dipensiunkan (retirement shock). Kondisi serupa juga dialami pria ketika mereka mengundurkan diri dari pekerjaan.
10. Usia madya merupakan masa jenuh
Bahwa sering kali periode ini merupakan periode kejenuhan. Banyak pria dan wanita mengalami kejenuhan pada akhir usia tiga puluhan dan empat puluhan. Para pria jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga yang hanya member sedikit hiburan. Wanita yang menghabiskan waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anakny.
Wanita yang tidak menikah yang mengabdikan hidupnya untuk bekerja atau karier, menjadi bosan dengan alasan yang sama dengan pria. Acher menerangkan tentang kejenuhan yang dialami oleh pria yaitu:
Apabila saatnya anda berusia 40 tahun, semua orng termasuk anda mengetahui bahwa anda dapat melakukan apa saja yang sedang anda kerjakan. Dan pada waktu yang sama beberapa orang pria menjadi jenuh. Beberapa orang mulai mencari kekuasaan baru, bagaimanapun juga pada umumnya keadaan ini diketahui dengan harapan semoga seseorang telah menggunakan kesempatannya yang terakhir untuk mengubah arah dan untuk memilih sasaran-sasaran baru.
Kejenuhan tidak akan mendatangkan kebahagiaan ataupun kepuasan ada usia manapun. Akibatnmya usia madya sering kali merupakan periode yang tidak menyenakan dalam hidup. Pada usia madya khususnya pada umur 40-49 tahun, mereka menemukan masa tersebut sebagai masa yang hampir tidak menyenangkan.
Terapi dan teori sigmund freud


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Nah, dalam perkembangan selanjutnya banyak tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Fruid dalam kehidupannya, yang pembaca bisa baca di buku biografi Sigmund Freud.
Psikoanalisis sering diidentikkan oleh seorang yang bernama Sigmund Freud. Dimakalah kami akan menjelaskan tentang pemahaman Sigmund Freud dengan model Psikoanalisisnya.
PEMBAHASAN
Psikoanalisa memiliki posisi unik dalam sejarah Psikologi. Freud tidak mengembangkan teory yang mencetuskan hipotesis-hipotesis yang dapat diuji atau implikasi-implikasi empiris lainnya. Namun, pada tingkat lain, Freud telah mencapai apa yang hanya dapat dicapai oleh sedikit teoris lain: ia merevolusi sikap-sikap dan menciptakan posisi baru untuk mengkaji kepribadian. Dapat dikatakan bahwa Freud dengan kekuatan observasinya menjadika benar untuk alasan yang salah. Temuan-temuan berbagai teori gangguan kepribadian lain yang lebih empiristik sering kali menegaskan banyak observasi Freud. Jika pandangan-pandangannya tidak memenuhi kriteria studi empiristik, namun pandangan-pandangan tersebut menunjukkan kejeniusan dan pencerahan Freud, yang memenuhi pemikiran manusia tentang dirinya sendiri dengan cara yang hanya dapat dilakukan oleh sedikit orang.
A. KONSEP-KONSEP UTAMA
Pada mulanya, Freud mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa. Manusia pada hakikatnya bersifat bioligis, dilahirkan dengan dorongan-dorongan instingtif, dan perilaku merupakan fungsi mereaksi secara mendalam terhadap dorongan-dorongan tersebut. Manusia bersifat tidak rasional, tidak social, dan destruktif terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Menurut Freud, teori kepribadian mencakup tiga hal, yaitu:
1. Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem, yaitu:
a. Id, adalah sistem kepribadian yang orisinil, kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id ketika lahir. Id bisa juga dikatakan sebagai tempat bersemayam naluri-naluri. Id sifatnya tidak matang, dan selalu menjadi anak manja dari kepribadian, tidak berfikir, dan hanya menginginkan atau bertindak. Sehingga id bersifat tak sadar.
b. Ego, adalah eksekutif dari kpribadian yang memerintah, mengendali, dan mengatur. Ia diangap sebagai “polisi lalu lintas” bagi id, superego, dunia eksternal. Tugas utama ego adalah mengantarai naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego adalah tempat bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan implus-implus buta dari id.
c. Superego, adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan itu pantas atau tidak dilakukan, baik atau buruk, benar atau salah. Superego berfungsi menghambat implus-implus id.
2. Pandangan Tentang Sifat Manusia
Pandangan Freudian tentang manusia pada dasarnya pesimistik, deterministik, mekanistik, dan reduksionistik. Menurut Freud, manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa-peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan. Freud menekankan peran naluri-naluri. Bersifat biologis dan bawaan. Dan naluri yang ditekankan oleh Freud adalah naluri seksual dan impuls-impuls agresif. Manusia memiliki naluri kehidupan, maupun kematian. Menurut Freud, tujuan segenap kehidupan adalah kematian, kehidupan tidak lain adalah jalan melingkar kearah kematian.
3. Kesadaran dan Ketidaksadaran
Sumbangan terbesar Freud adalah konsep tentang kesadaran dan ketidaksadaran yang merupakan kunci dalam memahami tingkah laku dan kepribadian. Ketaksadaran tidak bisa dipelajari secara langsung, melainkan dipelajari dari tingkah laku. Bagi Freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Ketaksadaran itu menyimpan pengalaman-pengalaman, ingatan-ingatan, dan bahan-bahan yang direpresi. Freud percaya bahwa sebagaian fungsi psikologi terletak diluar kawasan sadar. Oleh karena itu sasaran psikoanalitik adalah motif-motif tak sadar menjadi sadar, sebab hanya ketika menyadari motif-motifnyalah individu bisa melaksanakan pilihan: pemahaman terhadap peran ketaksadaran penting guna menangkap esensi model tingkah laku psikoanalitik.
4. Kecemasan
Kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang termotivasi kita untuk berbuat sesuatu. Fungsinya adalah memperingatkan adanya ancaman bahaya, yakni sinyal bagi ego yang akan terus meningkat jika tindakan-tindakan yang layak untuk mengatasi ancaman bahaya itu tidak diambil. Apabila tidak bisa mengendalikan kecemasan, melalui cara-cara yang rasional dan langsung, maka ego akan mengandalkan cara-cara yang tidak realistis, yakni tingkah laku yang berorientasi pada pertahanan ego.
Ada tiga macam kecemasan, yaitu:
a. Kecemasan realistis : adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal, dan taraf kecemasan sesuai dengan derajat ancaman yang datang.
b. Kecemasan neurik : adalah ketakutan terhadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan yang bisa mendatangkan hukuman bagi dirinya.
c. Kecemasan moral : adalah ketakutan terhadap hati nurani sendiri.
5. Mekanisme-mekanisme Pertahanan Ego
a. Penyangkalan, adalah pertahanan melawan kecemasan dengan “menutup mata” terhadap keberadaan yang mengancam. Individu menolak sejumlah aspek kenyataan yang membangkitkan kecemasan.
b. Proyeksi, adalah mengalamatkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego kepada orang lain. Seseorang melihat pada diri orang lain hal –hal yang tidak disukai dan ia tidak bisa menerima adanya hal-hal itu pada dirinya.
c. Fiksasi, adalah menjadi “terpaku” pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena mengambil langkah ketahap selanjutnya bisa menimbulkan kecemasan.
d. Regresi, adalah melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang tuntutannya tidak terlalu besar.
e. Rasionalisasi, adalah menciptakan alasan yang “baik” guna menghindarkan ego dari cedera, memalukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan.
f. Sublimasi, asalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya.
g. Displasement, adalah mengarahkan energi kepala objek atau orang lain apabila objek asal atau orang yang sesungguhnya, tidak dijangkau.
h. Represi, adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan kecemasan, mendorong kenyataan yang tidak bisa diterima kepada ketaksadaran, atau menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan.
i. Formal reaksi, adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar, jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar, jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka seseorang menampilkan tingkah laku yang berlawanan guna menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman itu.
6. Perkembangan Kepribadian
a. Pentingnya perkembangan awal
Model psikoanalitik adalah pelukisan tahap-tahap perkembangan psikososial dan psikoseksual individu dari lahir hingga dewasa. Menurut Gerald Corey, pemahaman psikoanalitik tentang perkembangan adalah hal yang esensial jika seseorang konselor menangani kliennya secara mendalam. Ia mengatakan masalah-masalah yang paling khas yang dibawa orang-orang, baik ke dalam situasi-situasi konseling individual maupun kelompok, terdiri dari:
- Ketidakmampuan menaruh kepercayaan pada diri sendiri dan pada orang lain.
- Ketidakmampuan mengakui dan mengungkapkan perasaan-parasaan benci dan marah, penyangkalan terhadap kekuatan sendiri sebagai pribadi, dan kekurangan perasaan-perasaan otonom.
- Ketidakmampuan menerima sepenuhnya seksualitas dan perasaan-perasaan seksual diri sendiri.
b. Tahun Pertama: fase oral
Dari lahir hingga akhir usia satu tahun seseorang bayi menjalani fase oral. Masalah-masalah yang kepribadian yang muncul akibat yang bersumber dari fase oral adalah: pengembangan pandangan terhadap dunia yang didasari oleh ketidakpercayaan, ketakutan untuk menjangkau orang lain, penolakan terhadap afeksi, ketakutan untuk mencintai dan mempercayai rasa harga diri yang rendah, isolasi dan penarikan diri, dan ketidakmampuan membangun atau memlihara hubungan yang akrab.
Fase oral adalah memperoleh rasa percaya kepada orang lain, kepada dunia, dan kepada diri sendiri. Efek penolakan pada fase oral adalah kecenderungan di masa kanak-kank selanjutnya untuk menjadi penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri, agresif, benci, dan kesepian.
c. Usia satu sampai tiga tahun: fase anal
Tugas penting yang harus diselesaikan di fase ini adalah belajar mandiri, memiliki kekuatan pribadi dan otonom, serta belajar bagaimana mengakui dan menangani perasaan-perasaan yang agresif. Bermula dari tahun kedua hingga tahun ketiga, fase anal memiliki arti penting bagi pembentukan kepribadian. Masalah-masalah kepribadian yang muncul kemudian, seperti kompulsi, berakar pada cara para orang tua memperlakukan anak-anaknya selama fase anal ini.
d. Usia tiga sampai lima tahun: fase falik
Fase falik adalah fase ketika kesanggupan-kesanggupan untuk berjalan, berbicara, berfikir, dan mengendalikan otot-otot berkembang pesat. Selama fase ini, aktivitas seksual menjadi lebih intens dan perhatian dipusatkan pada alat-alat kelamin.
Pada fase falik, masturbasi meningkat frekuensinya. Anak-anak menjadi lebih ingin tahu tentang tubuhnya, mereka berhasrat untuk mengeksplorasi tubuh sendiri dan untuk menemukan perbedaan-perbedaan di antara kedua jenis kelamin. Banyak sikap seksualitas ini bersumber dari fase falik, sehingga perlunya penanganan dorongan seksualitas pada fase ini.
Fase falik adalah periode perkembangan hati nurani, suatu masa ketika anak-anak belajar mengenal standar-standar moral. Selama fase falik anak perlu belajar menerima perasaan-perasaan seksual sebagai hal yang ilmiah dan belajar memandang tubuhnya sendiri secara sehat. Pada fase falik ini anak membentuk sekap-sikap mengenai kesenangan fisik, mengenai yang benar dan yang salah, mengenai mana yang maskulin dan mana yang feminim.
B. ADAPTASI ADAPTASI-ADAPTASI PSIKOANALISIS: PARA NEO FREUDIAN
1. Carl Jung
a. Pandangan tentang sifat manusia
Jung menekankan peran maksud dalam pengembangan manusia. Jung memiliki pandangan yang optimis dan kreatif tentang manusia, menekankan tujuan aktualisasi diri.
b. Kesadaran personal
Kesadaran personal meliputi pengalaman-pengalaman yang ada suatu saat disadari tetapi kemudian direpsi dan terlupakan. Gagasan-gagasan yang menyakitkan dan pemikiran-pemikiran yang tidak matang bagi kesadaran detekan dan diabaikan.
c. Kesadaran kolektif
Kesadaran kolektif adalah himpunan ingatan-ingatan terpendam yang diwariskan dari nenek moyang.
d. Persona
Persona adalah topeng yang digunakan dalam merespons situasi-situasi dan tuntutan-tuntutan sosial. Persona juga marupakan diri publik, sisi yang dipertunjukkan oleh seseorang kepada dunia, atau wajah sosial.
e. Animus dan anima
Manusia memiliki karakteristik-karakteristik feminin maupun maskulin. Sisi feminin yang dimiliki pria adalah anima, yang memungkinkan pria mampu memahami wanita. Sedangkan sisi maskulin yang dimiliki oleh wanita adalah animus, yang memungkinkan wanita mampu memahami pria.
f. Dua sikap: ekstraversi dan introversi
Sikap ekstravert mengarahkan seseorang kepada dunia internal dan objektif. Sedangkan sikap introvert mengarahkan seseorang kepada dunia internal dan subjektif.
g. Empat fungsi psikologis dasar
- Tipe berfikir
- Tipe perasa
- Tipe pengecap
- Tipe intuitif
2. Alfred Adler
a. Pandangan tentang pada manusia
Adler menekankan determinan-determinan sosial kepribadian, bukan determinan seksual. Pusat kepribadiannya adalah kesadaran, bukan ketaksadaran.
b. Inferioritas dasar dan kompensasi
Tujuan hidup adalah kesempurnaan, bukan kesenangan. Adler menekankan bahwa setiap orang memiliki perasaan rendah diri.
c. Usaha untuk mencapai superioritas
Dengan berusaha untuk mencapai superioritasnya, ia ingin mengubah kelemahan dengan kekuatan atau mencoba mancapai keunggulan pada suatu bidang sebagai kompensasi bagi kekurangannya dibidang-bidang lain.
d. Gaya hidup
Gaya hidup menerangkan keunikan individu. Gaya individu dibentuk pada masa kanak-kanak sebagai kompensasi bagi inferioritasnya dalam hal tertentu.
e. Pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak
Adler menekankan jenis-jenis pengaruh awal yang menyebabkan anak mengembangkan gaya hidup yang keliru.
C. PROSES TERAPEUTIK
1. Tujuan-tujuan Terapeutik
Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari di dalam diri klien. Proses terapeutik difokuskan pada pengalaman-pengalaman –masa kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman masa lampau direkonstrusi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekontruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi afaktif dari upaya menjadi ketaksadaran diketahui.
2. Fungsi dan peran terapis
Analisis terutama berurusan dengan usaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal, dalam menangani kecemasan secara realistis, serta dalam memperoleh kendali atas tingkah laku yang impulsif dan irasional. Pengorganisasian proses-proses terapeutik dalam konteks pemahaman terhadap struktur kepribadian dan psikodinamik-psikodenamik itu memungkinkan analisis bisa merumuskan sifat sesungguhnya dari masalah klien. Salah satu fungsi utama analisis adalah mengajarkan arti proses-proses ini kepada klien sehingga klien mampu memperoleh pemahaman terhadap masalah-masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara untuk berubah.
3. Pengalaman klien dalam terapi
Klien harus bersedia melibatkan diri ke dalam proses terapi yang intensif dan berjangka panjang. Biasanya klien mendatangi terapi beberapa kali seminggu dalam masa tiga sampai lima tahun, yang dalam pertemuan biasanya berlangsung satu jam. Setelah beberapa kali tatap muka, kemudian klien diminta berbaring melakukan asosiasi bebas, yakni mengatakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Proses asosiasi bebas diketahui sebagai “aturan yang fundamental”. Pada saat berbaring, klien melaporkan perasaan-perasaan, pengalaman-pengalaman, asosiasi-asosiasi, ingatan-ingatan, dan fantasi-fantasinya.
Klien mencapai kesepakatan dengan analisis mengenai pembayaran biaya terapi, mendatangi pertemuan terapi pada waktu tertentu, dan bersedia terlibat dalam proses intensif. Klien sepakat untuk berbicara karena produksi verbal klien merupakan esensi terapu psikoanalitik. Klien secara khusus diminta untuk mengubah gaya hidupnya selama periode analisis.
Selama terapi klien bergerak melalui tahap-tahap tertentu: mengembangkan hubungan dengan analisis, mengalami krisis treatment, memperoleh pemahaman atas masa lampaunya yang tak disadari, mengembangkan resistansi-resistansi untuk balajar lebih banyak tentang diri sendiri, mengembangkan suatu hubungan transferensi dengan analisis, memeperdalam terapi, menangani terapi, menangani resistansi-resistansi dan masalah yang tersingkap, dan mengakhiri terapi.
4. Hubungan antara terapis dan klien
Hubungan klien dengan analisis dikonseptualkan dalam proses transfernsi yang menjadi inti pendekatan psikoanalitik. Jika terapi diinginkan memiliki pengaruh menyembuhkan, maka hubungan transferensi harus digarap. Dimensi utama dari proses penggarapan adalah hubungan transferensi, yang membutuhkan waktu untuk membangunnya serta membutuhkan tambahan waktu untuk memahami dan melarutkannya, maka penggarapannya memerlukan jangka waktu yang panjang bagi keseluruhan proses terapeutik.
Jika analisis mengembangkan pandangan-pandangan yang tidak selaras yang berasal dari konflik-konfliknya sendiri, maka akan terjadi kontratransferensi. Kontratransferensi bisa terdiri dari perasaan tidak suka atau keterikatan dan keterlibatan yang berlebihan. Kontratranferensi dapat mengganggu kemajuan terapi karena reaksi-reaksi dan masalah-masalah analisis sendiri akan menghambat penanganan masalah-masalah klien.
Analisis dianggap telah berkembang mencapai taraf dimana konflek-konflik utamanya sendiri terselesaikan, dan karenanya dia mampu memisahkan kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalahnya sendiri dari situasi terapi. Jika analisis tidak mampu mengatasi kontratranferensi, maka dia menganjurkan agar kembali menjalankan analisis pribadi.
D. PENERAPAN: TEKNIK-TEKNIK DAN PROSEDUR-PROSEDUR TERAPEUTIK
1. Asosiasi bebas
Teknik utama terapi psikoanalitik adalah asosiasi bebas. Disini klien diminta melaporkan segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Klien diminta untuk mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya, seperti pikiran, harapan, dan lain-lain, walaupun kelihatannya hal-hal tersebut tidak penting, tidak logis, menyakitkan, ataupun menggelikan. Freud memikirkan bahwa asosiasi bebas ini ditentukan oleh suatu sebab, bukan hal yang acak. Tugas analislah untuk melacak asosiasi ini sampai kesumbernya dan mengidentifikasi suatu pola sebenarnya yang tadinya hanya terlihat sebagai rangkaian kata yang tidak pasti. Terlepasnya emosi yang kuat, yang selama ini ditekan pada situasi terapeutik inipun kemudian disebut sebagai katarsis.
Cara yang khas ialah klien berbaring diatas balai-balai sementara analisis duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi-asosiasinya mengalir bebas.
Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau, yang dikenal dengan sebutan katarsis. Hal ini dilakukan guna membantu klien dalam memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif, analis menafsirkan makna-makna utama dari asosiasi bebas ini.
Selama asosiasi bebas berlangsung, tugas analis adalah mengenali bahan yang direpres dan dikurung di dalam ketaksadaran. Analisis menafsirkan peristiwa-peristiwa yang dialaminya dan menyampaikannya kepada klien, membimbing klien kearah peningkatan pemahaman atas dinamika-dinamika yang mendasarinya yang tidak disadari oleh klien.
2. Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam meganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan tranferensi-transferensi. Prosedurnnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran-penafsiran analisis menyebabkan pemahaman dan tidak terhalangi bahan tak sadar pada pihak klien.
3. Analisis mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan mengistimewa menuju ketaksadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari, diungkapkan.
Analisa terhadap mimpi ini biasanya dilandasi oleh konsep psikoseksual, serta termuat isu gender. Contohnya adalah mimpi mengenai sebuah pohon dapat diinterpretasikan sebagai keinginan untuk mengekspresikan dorongan seksual apabila diimipikan oleh laki-laki, atau representasi dari keinginan untuk memiliki superioritas laki-laki bila dimimpikan oleh perempuan. Dalam hal ini, pohon dipandang sebagai representasi dari alat kelamin laki-laki.
4. Analisis dan penafsiran resistensi
Resistensi merupakan sebuah konsep yang fundamental dalam praktek psikoanalitik adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Sebagai pertahanan terhadap kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalitik dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran klien.
5. Analisis dan penafsiran transferensi
Sama halnya dengan resistensi, transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Analisis transferensi yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi.
Transference adalah saat pasien mengembangkan reaksi emosional keterapis. Hal ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis sebagai seseorang dimasa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive transference apabila perasaan itu adalah perasaan saying atau kekaguman, serta negative transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan dan kecemburuan.
E. DAMPAK PSIKOANALISIS PADA MASA KINI
Psikoanalitis adalah gerakan unik dalam psikologi. Gerakan ini berkembang dari modal aktifitas mental yang juga menghasilkan psikologi aksi dan gerakan Gestalt di Jerman. Dan juga mengembangkan pandangan dari kebutuhan-kebutuhan para penderita penyakit mental.
Psikoanalisis berpengaruh besar dalam seni, sastra, dan filsafat. Pengaruh ini mencerminkan konstribusi besar Freud: analisis komprehansifnya tentang ketidak sadaran. Sesuai dengan itu, karya sastra dan musik di interprestasi berkaitan dengan aktivitas ketidaksadaran sang seniman, serta kesan ketidaksadaran si peminat.
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sejarah pemikiran dan pandangan Freud tentang naluri agresifatau naluri destruktif ini sangatlah rumit. Kekurangan tertentu dalam kapasitas psikis kita yang karakteristik umumnya masih perlu deselidiki lebih lanjut dan beberapa tindakan yang tampaknya tidak disengaja ternyata dapat dibuktikan memiliki motivasi yang kuat setelah diteliti secara psikoanalisis dan motivasi itu dapat diketahui dengan melakukan penyadaran terhadap motif-motif yang tidak sadar.
Gerakan psikoanalitik memperkenalkan studi tentang proses-proses ketidaksadaran yang mempengaruhi aktivitas manusia, gerakan tersebut sangat konsisten dengan model aktivitas mental di Jerman yang berasal dari tulisasan-tulisan Leibniz dan Kant. Psikoanasisis menekankan tujuan keseimbangan homeostatik energi-energi ketidak sadaran dalam kepribadian.
Teknik yang dipakai oleh teori psikoanalisis yang digunakankan oleh Sigmund freud yaitu teknik asosiasi bebas, transperensi, analisis mimpi, penapsiran dan resistensi.
Para teoritis lain memodifikasi teori Freud dan memasukkan teori budaya serta kebutuhan sosial. Selain itu, para cendikiawan mengintegrasikan model psikoanalitik dengan pendekatan lapangan dan asumsi eksistensial.
B. SARAN
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kebenarannya, maka penulis menyarankan kepada pembaca untuk selanjutnya agar lebih baik lagi.
- Brennan, James F. 2006, Sejarah dan Sistem Psikologi, Jakatra: PT RajaGrafindo Persada.
- Corey, Gerald, 2009, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung: PT Refika Aditama.
- Freud, Sigmund, 2002, civization and its Discontents, Yogyakarta: Penerbit Jendela.
- Freud, Sigmund, 2005, Psikopatologi dalam kehidupan sehari-hari, Pajuruan: Penerbit Pendati.
- McLEOD, John, 2006, Pengantar Konseling, Jakarta: Kencana.
- http://sil-lmg.com/article-category/psikologi-a-pendidikan/20-psikoanalisis-freud
- http://apadefenisinya.blogspot.com/2009/02/teori-konseling-psikoanalisa.html
Kamis, 12 Agustus 2010
manajemen pembalajaran
PEMBAHASAN
STRATEGI PENCAPAIAN TUJUAN MANAJEMEN KELAS
A. Pengertian Manajemen Kelas
Manajemen dari kata “ Management “. Diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan. Maksud manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif.
Terdapat beberapa defenisi tentang manajemen kelas berikut ini :
1. Berdasarkan Konsepsi Lama Dan Modern
Menurut konsepsi lama, manajemen kelas diartikan sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Menurut konsepsi modern manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tetap terhadap problem dan situasi manajemen kelas (Lois V. Jhonson dan Mary Bany, 1970)
2. Berdasarkan Pandangan Pendekatan Operasional Tertentu ( Disarikan dari Wilford A. Weber 1986 )
- Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin (Pendekatan Otoriter).
- Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi (Pendekatan Intimidasi).
- Seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa (Pendekatan Permisif).
- Seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk/resep yang telah disajikan (Pendekatan Masak).
- Seperangkat kegiataan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik (Pendekatan Instruksional).
- Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan (Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku).
- Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersional yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif (Pendekatan Penciptaan Iklim Sosioemosional).
- Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif (Pendekatan Sistem Sosial)
B. Tujuan, Aspek, Fungsi, dan Masalah Manajemen Kelas
1. Tujuan Manajemen Kelas
Tujuan manajemen kelas adalah :
- Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, bai sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
- Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
- Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan social, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
- Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya ( Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen tahun 1996 : 2 )
2. Aspek, Fungsi, dan Masalah Manajemen Kelas
Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiaknosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajenen kelas adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan seleksi dan kreatif ( Lois V.Johnson dan Mary A.Bany, 1970 ).
- Manajenen kelas selain memberi makna penting bagi tercipta dan terpeliharanya kondisi kelas yang optimal, manajenen kelas berfungsi :
Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas seperti : membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerjasama dalam menemukan tujuan-tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerjasama dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, merubah kondisi kelas. - Memelihara agar tugas – tugas itu dapat berjalan lancar.
Masalah manajenen kelas dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu : masalah individual dan masalah kelompok.
Munculnya masalah individual disebabkan beberapa kemungkinan tindakan siswa seperti :
- Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain.
- Tingkah laku yang ingin menujukkan kekuatan.
- Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain.
- Peragaan ketidakmampuan.
Sedangkan masalah-masalah kelompok yang mungkin muncul dalam kelas :
- Kelas kurang kohesif lantaran alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya.
- Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakai sebelumnya.
- Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
- “Membombang” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
- Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari yang tengah digarap, semangat kerja rendah, kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru seperti gangguan jadwal guru terpaksa diganti sementara oleh guru lain. ( Lois V.Johnson dan Mary A.Bany, dalam M.Entang dan T.Raka Joni1983 ).
C. Prinsip-prinsip dalam Manajemen Kelas
“Secara umum faktor yang mempengaruhi manajemen kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern siswa.” (Djamarah 2006:184). Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Kepribadian siswa denga ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya sacara individual. Perbedaan sacara individual ini dilihat dari segi aspek yaitu perbedaan biologis, intelektual, dan psikologis.
Faktor ekstern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa, dan sebagainya. Masalah jumlah siswa di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah siswa di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik. Sebaliknya semakin sedikit jumlah siswa di kelas cenderung lebih kecil terjadi konflik.
Djamarah (2006:185) menyebutkan “Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan.” Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut.
1. Hangat dan Antusias
Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2. Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3. Bervariasi
Penggunaan alat atau media,
4. Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajarmengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
5. Penekanan pada Hal-Hal yang Positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
6. Penanaman Disiplin Diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.
D. Pendekatan dalam Manajemen Kelas
Manajemen kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan siswa baik secara berkelompok maupun secara individual.
Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama diantara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.(Djamarah 2006:179)
Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian berikut:
1. Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.
2. Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
3. Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
4. Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
5. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
6. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral.
Program atau kegiatan yang yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan menghindarinya sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari tingkah laku siswa atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas.
Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.
7. Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terrciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.
8. Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan in, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
9. Pendekatan Elektis atau Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dabn inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dan atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dan peng
D. KONSEP-KONSEP MANAJEMEN KELAS
1. Konsep Dasar Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat pokok untuk mencapai tujuan instruksional yang efektif. Pengelolaan kelas yang dipandang sebagai salah satu aspek penyelenggaraan sistem instruksional yang fundamental. Pengelolaan kelas berupaya menciptakan kondisi belajar mengajar yang optimal sehingga diharapkan siswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan, kondusif, efektif, dan efisien untuk mencapai tujuan pengajaran. Manajemen Kelas berperan penting dalam pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang baik akan menunjang pencapaian tujuan pendidikan sekolah dan peningkatan mutu pendidikan nasional. Dengan demikian diperlukan proses kerja sama yang baik antara sekolah, siswa, orang tua siswa, dan lingkungan sekolah untuk mengelola kelas.
Manajemen Kelas merupakan seperangkat tindakan guru di dalam membantu pembentukan tingkah laku siswa, menghindari atau mengurangi gejala tingkah laku siswa yang tidak sesuai dengan tujuan sekolah dan memelihara organisasi kelas yang efektif dan efisien dalam rangka proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran. Manajemen Kelas erat hubungannya dengan persoalan pengajaran, Namun keduanya dapat dibedakan atas dasar tujuannya. Manajemen Kelas menitikberatkan pada kegiatan menciptakan, mempertahankan, dan mengembalikan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.
Kegiatan pengelolaan kelas ditujukan pada kegiatan yang menciptakan dan menjaga kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar siswa, seperti membina hubungan baik antara siswa dengan guru, reinforcement, punisment, dan pengaturan tugas. Pengajaran menitikberatkan pada kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan khusus pengajaran, seperti menyusun rencana pelajaran, memberi pengajaran yang efektif, dan melakukan evaluasi formatif dan sumatif.
Terdapat
1. Pandangan otoriter, menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah proses mengontrol tingkah laku siswa, bersifat otoratif, dan merupakan seperangkat aktivitas guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas,
2. Pandangan permisif, memberikan kebebasan kepada siswa untuk berbuat apa saja yang diinginkannya dan merupakan seperangkat aktivitas guru untuk mengoptimalkan kebebasan siswa,
3. Pandangan tingkah laku, sebagai seperangkat aktivitas pengajaran untuk mengembangkan perilaku siswa yang tidak diinginkan dan mengurangi atau meniadakan perilaku siswa yang tidak diinginkan,
4. Pandangan hubungan interpersonal, pengelolaan kelas merupakan proses penciptaan iklim sosioemosional yang positif di dalam kelas,
5. Pandangan sistem sosial, pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajaran untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Dari uraian diatas simpulan pengertian dari Manajemen Kelas ialah suatu proses atau upaya yang dilakukan oleh sekolah untuk menciptakan dan memelihara kondisi yang kondusif dan optimal bagi terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien.
2. Ruang Lingkup Manajemen Kelas
Manajemen Kelas memiliki ruang lingkup yang dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Fisik, pengelolaan kelas yang memfokuskan pada hal-hal yang bersifat fisik mencakup pengaturan siswa dalam belajar, ruang belajar, dan perabot kelas,
2. Nonfisik, pengelolaan kelas yang memfokuskan pada aspek interaksi siswa dengan siswa lainnya, siswa dengan guru dan lingkungan kelas atau sekolahnya sebelum, selama, dan setelah pembelajaran. Atas dasar ini asapek psikologis, sosial, dan hubungan interpersonal perlu diperhatikan.
3. Ketatausahaan Kelas
Ketatausahaan kelas merupakan kegiatan mencatat dan melaporkan secara sistematis mengenai keterangan dan informasi tentang kelas. Tata usaha kelas yang dikerjakan dengan tertib dan teratur merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadinya kondisi yang optimal bagi proses belajar mengajar yang efektif. Catatan kelas merupakan catatan aktivitas ke dalam yang berhubungan dengan diri siswa. Catatan kelas berfungsi sebagai bimbingan dan penyuluhan bagi siswa secara individual ataupun klasikal. Tujuan pencatatan ialah:
1. Membantu dalam penempatan setiap siswa,
2. Mempertimbangkan bahan dan jam pelajaran,
3. Mengkaji tentang pembiayaan, kebutuhan tentang bangunan, perlengkapan kelas, dan penelitian,
4. Menginterpretasikan sebab atau kondisi yang tidak diinginkan.
Laporan kelas menyangkut aktivitas keluar sekolah. Laporan ini misalnya laporan kepada pimpinan sekolah, yayasan, dan Departemen Pendidikan Nasional. Laporan kepada orang tua siswa yaitu laporan administratif (buku raport) yang berisi laporan kemajuan atau kemunduran prestasi siswa secara periodik.
4. Keefektifan Kelas
Tingkat keefektifan kelas dipengaruhi oleh kinerja guru dalam mengelola kelas. Keefektifan guru berpengaruh terhadap pengajaran, sehingga diperukan guru yang termotivasi dan kompeten dalam mengelola kelas. Keefektifan kelas dipengaruhi oleh supervisor dalam memberikan supervisi kepada. Dengan demikian supervisor harus tanggap untuk memberi bantuan kepada guru yang mempunyai masalah atau problema yang berhubungan dengan masalah mengajar ataupun masalah pribadi. Problema yang dihadapi guru misalnya guru yang belum berpengalaman, yang kurang aktif, waspada terhadap guru yang merasa superior (senior dan berhasil dalam pengajaran), dan selalu menentang.
Perencanaan dan pengorganisasian pengajaran memegang peran penting dalam keefektifan kelas. Perencanaan pengajaran yang dipersiapkan guru disusun sesempurna mungkin untuk pedoman dalam kegiatan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru dalam menyusun rencaa pengajaran harus mengetahui informasi dan latar belakang siswa, sehingga dalam penyampaian pelajaran disesuaikan dengan kemampuan dan faktor perbedaan siswa.
Pengorganisasian pengajaran yang diterapkan di sekolah harus memperhatikan faktor perbedaan kemampuan dan latar belakang siswa. Sehingga sekolah dalam pengorganisasian kelas tidak salah mengelompokkan siswa ke dalam kelompok atau kelas. Pengajaran yang dapat diterapkan oleh sekolah ialah pengajaran secara individual dan klasikal.
5. Pembinaan Disiplin Kelas
Di lembaga sekolh perlu adanya kode etik atau norma yang mengatur tingkah laku orang yang berada di lingkungan tersebut dan menjadi pedoman dalam bertindak. Tujuan kode etik siswa ialah:
1. Agar terdapat suatu standar tingkah laku tertentu yang dijadikan pedoman bagi siswa di sekolah,
2. Agar terdepan kesamaan bahasa da gerak langkah antara sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat dalam siswa,
3. Agar dapat menjunjung tinggi citra siswa dan sekolah dimata masyarakat,
4. Agar tercipta suatu aturan yang ditaati bersama khususnya siswa dan personalia sekolah.
Disiplin siswa ialah suatu keadaan tertib dan teratur yang dimiliki siswa di sekolah, tanpa ada pelanggaran yang merugikan baik secara langsung ataupun tidak langsung terhadap siswa dan sekolah secara keselruhan. Konsep tentang timbulnya disiplin ialah:
1. Kontrol otoriter, manakala siswa duduk tenang meperhatikan guru karena ada tekanan. Guru harus keras agar siswa disiplin,
2. Kebebasan liberal (permissive), siswa diberi kebebasan sebebas-bebasnya sesuai dengan perkembangannya, siswa dibiarkan berbuat apa saja sepanjan menurutnya baik,
3. Kebebasan terbimbing, siswa diberi kebebasan untuk berbuat tetapi dengan konsekuensi dari perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan.
Pengendalian dan pengarahan untuk menciptakan dan memelihara disiplin siswa perlu diperhatikan. Adapun teknik pembinaan disiplin kelas ialah:
1. External Control, teknik dimana disiplin siswa dikendalikan di luar siswa. Konsep ini menyakini teori X yang mengasumsikan tidak baik mengenai manusia sehingga perlu diawasi dan dikontrol agar tidak melanggar. Teknik dapat berupa bimbingan dan penyuluhan,
2. Internal Control, teknik yang mengupayakan agar siswa dapat mendeskripsikan diri mereka sendiri dengan menyadarkan arti pentingnya disiplin. Dengan kesadaran akan norma dan tata tertib yang diterapkan, siswa dapat mengendalikan dirinya (self control),
3. Cooperatife control, dalam penegakan disiplin ada kerjasama antara guru dan siswa secara harmonis, respektif, dan efektif. Biasanya antara siswa dan guru membuat kontrak perjanjian berisi aturan dan sangsi atas pelanggaran yang harus ditaati bersama,
Hukuman merupakam sangsi yang diberikan kepada pelanggar baik secara moral, material, ataupun badan dari pelanggaran yang dilakukan atas aturan yang telah ditetapkan. Tujuan dari diberikannya hukuman ialah sebagai alat pendidikan daam usaha mendidik dan menyadarkan siswa atas kesalahannya.
6. Pendekatan Pengelolaan Kelas
Sebelum memutuskan untuk berbuat sesuatu memilih, menetapkan, dan kemudian melaksanakan guru harus memahami terlebih dahulu konsepsi dan kerangka acuan pendekatan pengelolaan kelas. Pendekatan yang dipilih disesuaikan dengan hakikat masalah dan merupakan alternatif yang terbaik. Pendekatan pengelolaan kelas yang dapat diterapkan guru adalah:
1. Pendekatan Behavior Modification
Dasar pendekatan ini adalah psikologi tingkah laku. Psikologi ini mengemukakan bahwa semua perilaku merupakan hasil belajar dan terdapat proses psikologi yang dapat digunakan untuk menerangkan terjadinya proses belajar seperti penguatan, hukuman, dan penghapusan. Untuk mencapai efektifitas dengan pendekatan modifikasi tingkah laku ini perlu diperhatikan antara lain:
a. jika siswa tidak atau belum tahu bahwa tingkah lakunya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tetapi menunjukkan kemauan untuk menyesuaikan, ini merupakan kondisi awal yang efektif untuk mencapai kegiatan belajar yang lebih optimal lagi,
b. jika siswa mendukung tingkah laku yang dikehendaki maka diharapkan kegiatan belajar selanjutnya dapat diperoleh secara efektif.
2. Pendekatan Socioemotional Climate
Dasar pendekatan ini adalah psikologi klinis dan konseling. Asumsinya bahwa pengelolaan kelas dan pengajaran yang efektif merupakan fungsi hubungan antara pengajar dan siswa serta siswa dengan siswa lainnya, sedangkan pengajar menduduki posisi sentral bagi terciptanya iklim sosioemosionl yang baik. Guru bersikap tulus, menerima, menghargai, dan memahami siswa dari sudut siswa itu sendiri. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk meningkatkan hubungan interpersonal yang baik antara siswa dengan siswa lainnya dan siswa dengan guru.
3. Pendekatan Group Process
Pendekatan ini berdasarkan pada psikologi sosial dan dinamika kelompok. Asumsinya bahwa pengalaman belajar sekolah berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru terutama dalam pengelompokan kelas adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan efektif. Di dalam kelompok sosial, termasuk juga kehidupan kelas terdapat aspek penting yang menyebabkan kelangsungan eksistensi dari kelompok itu. Aspek-aspek tersebut ialah interaksi, kepemimpinan, tujuan kelompok, perasaan kelompok, dan norma.
PENUTUP
Kesimpulan
Pengelolaan kelas menunjukkan pada aspek fisik, biasanya cenderung tidak menajadi sesuatu yang berkepanjangan. Kemampuan sekolah dalam pengelolaan kelas secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga hal tersebut merupakan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut standar yang berlaku.
Manajemen Kelas merupakan bagian dari pengelolaan sekolah seperti halnya pengelolaan peserta didik, sarana dan prasarana, sumber daya manusia, dan hubungan masyarakat yang dipandang ikut menentukan mutu pendidikan. Tercapainya mutu pendidikan didukung oleh pengelolaan kelas yang baik dalam artian yang luas. Oleh karena itu pembinaan pendidikan pada kelas dan konsekuensinya kelas dikelola secara baik dan optimal.
Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan. Belajar adalah sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Perubahan perilaku dalam proses belajar adalah akibat dari interaksi dengan lingkungan.
Jenis-jenis keterampilan mengajar terbatas, mempunyai rentangan dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang mengimplementasikan guru sebagai pusat keaktifan sampai kepada penciptaan situasi
DAFTAR PUSTAKA
http://mat.um.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=60&Itemid=95
http://fandi4tarakan.wordpress.com/2010/01/01/pemahaman-manajemen-kelas-classroom-management/
http://www.sabda.org/pepak/pustaka/030214/
http://meilanikasim.wordpress.com/2010/04/12/makalah-manajemen-kelas/
http://masimamgun.blogspot.com/2009/05/manajemen-kelas.html
