Jumat, 26 November 2010

kehidupan perempuan dalam keluarga

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Beruntunglah bagi umat manusia yang mengaku beragama Islam, karena semua kehidupannya sudah diatur dalam sebuah pedoman yang abadi, yaitu Al-Qur’an dan al Hadits. Bahkan bagi kaum hawa diberikan tempat yang sangat mulia dan dimuliakan dalam posisi penuh makna. Bagaikan mahkota kehidupan sebagai simbul keluhuran bhudi dan ketangguhan dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Namun kelembutan dan keindahan perempuan jangan berbalik jadi kenistaan dan kesedihan yang tak berujung pangkal karena hanya dijadikan alat pemuas lawan jenisnya.

Dengan diakui ataupun tidak masih banyak kaum hawa yang berkeliaran ditengah remang-remang kehidupan malam. Bahkan di daerah perbatasan dengan Negara tetangga ada suatu komplek yang tak lajim untuk diceritakan. Maka penulis menawarkan sebuah alternative tentang Kerjasama Bina Keluarga Balita yang dimotori dan diprakarsai oleh kaum hawa. Mengapa harus kaum hawa! Bukankah saat ini sedang dikembangkan PUG dan kemitra sejajaran antara laki-laki dan perempuan. Justru perempuan muslimah yang benar, jujur dan suka bertobat akan terhindar dari keburukan dan gangguan. Maka di dalam buku Aidh Bin Abdullah Al Qorni (2004: 105) ” Jadilah anda seorang wanita yang tinggi kedudukannya, jauh dari semua urusan yang rendah, dan terpelihara dari segala sesuat yang memperdaya norma rasa malu. Bicara Anda berdzikir, Penalaran Anda adalah mengambil pelajaran dan diam Anda adalah berpikir”.

Diakui ataupun tidak, disadari ataupun tidak bahwa kiprah dan pengabdian perempuan sangat kompleks dan dinamis. Makanya harus dibekali dengan konsep diri yang sehat supaya berimplikasi pada anak balitanya menjadi generasi yang tidak rentan menghadapi situasi global yang semakin menggelinding. Walaupun disadari sepenuhnya bahwa manusia tidak diberikan kemampuan untuk menghadapi dua masalah bersamaan. Tapi dengan kesabarannya dan ketulusan hatinya perempuan lebih tahan mengahadapi konflik. Jadi tidak berlebihan bila penulis berpendapat bahwa perempuan merupakan mahkota kehidupan apabila diberi peluang yang wajar menjadi Istri yang baik dan Ibu yang telaten mengurus anak keturunannya.

Namun terkadang Allah memberi nikmat kepada suatu kaum sesudah cobaan yang besar dan menguji kaum lainnya sesudah memberi nikmat. Jadi janganlah sekali-kali berlebihan menyikapi setiap persoalan. Jangan merasa berkecukupan dengan ilmu yang telah dimiliki. Jangan merasa paling soleh dalam memaknai hidup ini. Dan kendaklah berperilaku hati-hati. Kata Nabi kenali orang, jangan ingin terkenal. Karena bila sudah merasa terkenal bisa menimbulkan fitnah, ria, dan sombong.

Perempuan yang bersahaja bisa mengumpulkan berbagai kharisma dan aura keibuan yang mampu membimbing anak balitanya. Perempuan yang baik tidak hanya ingin memuaskan untuk diri sendiri. Tetapi Harus seperti pengembala mampu mengelus ternak dengan penuh kecintaan. Dalam terik mata hari gembalaannya dibawa pada suatu lebah yang banyak air, mampu melindungi dari sergapan binatang buas. Perempuan muslimah harus mampu memberi kail pada anak remajanya. Tunjukan sungai yang ber air dan banyak ikannya. Harus merasa sakit ketika anak sakit, ketika banyak nyamuk rela untuk melindunginya dengan dekapan dan kehangatan.

BAB II

PEMBAHASAN

KEHIDUPAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA

A. Pengertian

1. Perempuan

Wanita secara harfiah disebut kaum perempuan. Kaum yang sangat dihormati dalam islam.[1] perempuan adalah makhluk yang sulit untuk dipahami, lebih sulit dari teori relativitas einstein, kalkulus integral lapis tiga, mekanika kuantum, rekayasa genetik dan programming assembler.

Perempuan ini sangat dihormati karena mengambarkan tugas yang mulia dan fungsi seorang ibu dalam pemimpin rumah tangga. Nabi bersabda, al-janatu takhta aqdamil ummahati yang artinya: “surge itu terletak di telapak kaki ibu.”

asal usul tentang yang digambarkan Allah secara umum yang terdapat dalam QS. An-nahl: 72

ª!$#ur Ÿ@yèy_ Nä3s9 ô`ÏiB ö/ä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& Ÿ@yèy_ur Nä3s9 ô`ÏiB Nà6Å_ºurø—r& tûüÏZt/ Zoy‰xÿymur Nä3s%y—u‘ur z`ÏiB ÏM»t6Íh‹©Ü9$# 4 È@ÏÜ»t6ø9$$Î6sùr& tbqãZÏB÷sムÏMyJ÷èÏZÎ/ur «!$# öNèd tbrã�àÿõ3tƒ ÇÐËÈ

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?"

a. Arti wanita dalam keluarga

Keberadaan seorang wanita sebagai istri dan ibu dalam keluarga memiliki arti yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan dia merupakan satu tiang yang menegakkan kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “orang-orang besar.” Sehingga tepat sekali bila dikatakan: “Di balik setiap orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.”[2]

2. Keluarga

Keluarga adalah yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah akad nikah.

Firman Allah dalam al-Quran: an-Nahl: 72[3]

ª!$#ur Ÿ@yèy_ Nä3s9 ô`ÏiB ö/ä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& Ÿ@yèy_ur Nä3s9 ô`ÏiB Nà6Å_ºurø—r& tûüÏZt/ Zoy‰xÿymur Nä3s%y—u‘ur z`ÏiB ÏM»t6Íh‹©Ü9$# 4 È@ÏÜ»t6ø9$$Î6sùr& tbqãZÏB÷sムÏMyJ÷èÏZÎ/ur «!$# öNèd tbrã�àÿõ3tƒ ÇÐËÈ

Artinya:“ Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?"

3. Kehidupan rumah tangga

“Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan.[4]

Sebuah keluarga, membutuhkan seorang sosok yang harus bisa meng-handle segala urusan rumah tangga yang tidak bisa diselesaikan oleh suami. Sebagai partner suami dan ibu bagi anak-anaknya, seorang wanita harus dapat kokoh dalam menjalani beban-beban dan kewajiban dalam rumah tangganya. Akan tetapi, ketangguhan itu tidak mudah untuk di raih. Kesabaran, keuletan dan kelembutan yang merupaka ciri khas wanita dalam suatu pernikahan mutlak diperlukan dalam menjalankan perannya dalam rumah tangga.

Cita-cita kehidupan yang di gariskan oleh islam bagi orang seorang, keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara adalah satu, yaitu mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Di dalam diri seorang mempunyai fitrah untuk mendapat kebahagiaan dan ketentraman bagi dirinya sendiri dan menghindarkan diri dari ancaman keselamatannya.[5]

B. Kehidupan Perempuan Sebagai Anak

Kehidupan perempuan senagai anak yaitu dengan mematuhi peraturan yang ada di rumah dan menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih kecil dari kita serta menghargai seusia kita. Perempuan sebagai anak harus menolong ibunya dalam pekerjaan rumah tangga jika dia mampu untuk melakukannya.

Beberapa pekerjaan yang bisa di lakukan perempuan dalam rumahnya:

1. Ibadah kepada Allah.

Allah berfirman dalam QS. Adz- Dzariyat: 56

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

C. Kehidupan Perempuan Sebagai Istri Dalam Keluarga

Wanita (istri) adalah pemimpin dalam urusan rumah tangga. Fungsi dan tugas ini bisa didelegasikan kepada orang lain (pembantu), namun tetap berada dalam koordinasi sang istri.

Di dalam kehidupan berumah tangga, wanita mempunyai pekerjaan di rumahnya yaitu:[6]

· Ibadah kepada Allah

Allah berfirman dalam QS. Adz- Dzariyat: 56

· $tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

· Wanita berperan memberikan sakan ( ketenangan dan ketentraman ) bagi suami dan juga bagi rumahnya.

Allah SWT berfirman QS ar-rum: 21

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷�t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbrã�©3xÿtGtƒ ÇËÊÈ

“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

- Wanita yang menjadikan bagi rumahnya bila ia menegakan taat secara sempurna kepada suaminya dala perkara yang bukan maksiat kepada Allah SWTterdapat dalam hadis HR. Al-bukhari:[7]

وعن ابى هريرة رضى الله عنه ايضا ان رسو ل الله صلى الله عليه وسلم قال: لا يحلل لامرأ ة ان ثصوم وزو جها شا هد الا باء ذنه ولا ثأ ذن فى بيته الا باذ نه.

Artinya: abu Hurairah ra. Berkata: Bersabda Rasulullah SAW, tidak dihalalkan bagi seorang istri berpuasa sunat ketika suaminya di rumah, melainkan dengan izin suaminya. Dan tidak boleh bagi istri mengizinkan orang lain masuk kerumahnya melainkan dengan izin suaminya. (Bukhari muslim)

· Mendidik anak-anak (tarbiyatul aulad )

Dalam QS at-tahrim: 6

$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdt�tBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâ�sD÷sムÇÏÈ

“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

· Mengerjakan pekerjaan yang lai didalam rumah bila ada kelapangan waktu dan kesempatan, seperti menjahit pakaian utuk keluarga dan selainnya. Dengan cara ini berhemat.

1. Citra wanita dalam Keluarga

Sebagai wanita dewasa, seperti tercitrakan dari aspek fisis dan psikisnya, salah satu peran yang menonjol dari padanya adalah peran wanita dalam keluarga. Peran wanita dalam keluarga seperti terlihat dari sajak menyangkut perannya sebagai istri, sebagai ibu ari anak-anaknya, dan sebagai anggota keluarga.[8]

Wanita sebagai istri tercitrakan perannya sebagai kekasih bagi suaminya. Sebagai seorang kekasih, wanita mencintai suaminya dalam kecintaannya yang penuh itu akibatnya rasa cemburu dapat dirasakan.

Citra wanita dalam aspek keluarga digambarkan sebagai wanita dewasa, seorang istri, dan seorang ibu rumah tangga. Peran umum wanita dewasa sebagai ibu rumah tangga dapat tergambar, dimana terjadi perubahan peran bagi wanita yang terjadi yang semula berperan sebagai gadis remaja, kemudian perannya beralih sebagai istri.

Citra wanita dalam keluarga menggambarkan wanita sebagai insane yang secara ekonomis tegantung pada laki-laki karena pekerjaan yang dilakukannya tidak menghasilkan uang. Pada citra wanita dalam keluarga tergambarkan bahwa wanita mengembangkan fungsi khusus sesuai dengan peran fisis dan psikis, yakni mendidik anak-anak karena fungsi yang ditentukan oleh alam kepadanya, yaitu melahirkan. Maka dari itu, lingkungan rumah dianggapnya lebih nyaman kerena dekat dengan anak-anak.

Citra wanita sebagai anggota keluarga seperti terlihat ari berbagai kesibukan domestiknya, tidak mempunyai nilai pasar dan nilai tukar uang, meskipun pekerjaan itu berguna. Wanita seolah-olah tergantung kepada laki-laki secara psikologis.[9]

Dalam aspek kehidupan keluarga, Seandainya para wanita dapat bergaul dengan suaminya secara baik, dan senantiasa menaati dan menyenangkan suaminya, maka ini adalah suatu kebaikan yang sangat besar. Tetapi pada zaman sekarang, jarang wanita yang dapat melakuka hal seperti itu.[10]

Pada suatu ketika, para sahabat menghadiri majelis Rasulullah SAW. Dan mereka bertanya kepada beliau SAW. “wahai Rasulullah, kami melihat orang-orang diluar bangsa arab begitu menghormati raja-raja dan pemimpin mereka dengan bersujud. Padahal engkau lebih pantasdihormati seperti itu”, Rasulullah SAW.melarang para sahabat berlaku demikian, kemudian beliau bersabda, “ seandainya seseorang di perbolehkan bersujud kepada selain Allah, niscaya aku akan memerintahkan wanita bersujud dihapan suaminya”.

Pada kesempatan lain rasulullah SAW. Bersabda, “demi Allah yang nyawaku ada dalam genggaman-Nya, seorang isteri tidak dapat memenuhi hak-hak Allah sebelum dia dapat menunaikan hak-hak suaminya”.

Ada sebuah hadis yang menceritakan bahwa suatu seketika ada seekor unta yang bersujud dihadapan Rasulullah SAW. Para sahabat r.a. berkata, “ jika binatang ini saja bersujud kepada Rasulullah SAW. Maka kami lebih pantas untuk bersujud dihadapan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah Saw. Bersabda. “ seandainya seseorang diperbolehkan bersujud kepada suaminya”. Dalam hadis lain beliau SAW. Bersabda, “ jika seorang wanita meninggal dunia, dan suaminya ridha kepadanya, niscaya dia akan masuk surge”. Suatuhadis lagi menyebutkan bahwa Rasulullah SAW, brsabda, “ jika seorang wanita marah kepada suaminya, dan berpisah tidur pada malam harinya, maka para malaikat akan melaknat wanita tersebut hingga pagi hari”.

Dalam riwayat lain rasulullah SAW. Bersabda, “ ada dua golongan manusia yang salatnya tidak akan diterima dan tidak akan diangkat kelangit walaupun sekedar melebihi kepada mereka:

· Seorang hamba sahaya yang lari dari tuannya.

· Seorang isteri yang durhaka pada suaminya.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW. Bersabda, “ keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan suaminya. Dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan suaminya.”

2. Kewajiban Isteri Kepada Suami

a. Seorang istri harus taat kepada suaminya dengan cara yang baik, mentaati perintahnya, menjaga kehormatannya, dan tidak merasa lebih tinggi atau inggi menyaingi suaminya. Supaya kehidupan rumah tangganya selalu damai sejahtera. Nabi bersabda:[11]

اذا صللث المرأة خمسها اى : اصلواث ااخمسى وحصنث فرجها – اى : عفث عن الفجوروالزنى واطا عث بعلها – اى : زوجها – دخلث من اي ابواب الجنة شاء ث.

“ Bila seorang wanita mengerjakan salat 5 waktu, menjaga kemaluannya dari perbuatan zina, dan mentaati suaminya, niscaya dia akan masuk surge dari pintu yang mana saja dia suka.” (HR. Ibnu Hibban).

Taat pada suami, melaksanakan tugas-tugas rumah tangga dan mengurus anak-anak, oleh nabi disamakan dengan jihad fi sabilillah. Makna tertinggi dari ungkapan itu ialah, Rasulullah bermaksud meniupkan angin kedamaian dalam rumah tangga.

b. Kewajiban seorang istri kepada suaminya ialah, seorang istri harus menjaga harta dan kehormatan suaminya, dan tidak mengizinkan seorangpun masuk rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Rasulullah bersabda:[12]

الا اخبر كم بخير ما يكنز الرجل ؟ المرأة الصا لحة اذ انظراليها سرثه , واذا امرهااطا عثه , واذا غاب عنها حفظثه فى ما له ونفسها.

Artinya : “ maukah anda sekalian kuberitahu sebaik-baik sesuatu yang disimpan seorang laki-laki? Yaitu istri salehah. Yang man bila suaminya, dan ia diperintah suaminya, ia akan mentaatinya, dan bila suaminya pergi meninggalkannya, ia jaga dirinya dan harta suaminya.”

c. Istri tidak menolak ajakan suaminya untuk melayaninya diatas tempat tidur. Dalam hal ini Rasulullah SAW. Bersabda: [13]

اذا عا الرجل امرأثه الى فرا شه , فأبث ان ثجي ء لعنثها الملا ء كة حثى ثصبح .

Artinya: “ apabila seorang suami mengajak istrinya di atas tempat tidur, lalu istrinya menolak, sesungguh ia akan dilaknat malaikat sampai pagi.” (HR. Bukhari).

d. Seorang istri tidak boleh mengizinkan seorang pun masuk rumah suamnya kecuali mendapat izin suaminya. Dan tidak boleh melakukan puasa sunat kecuali mendapat izin dari suaminya. Ini menurut hadis riwayat imam bukhari dari abu hurairah secara marfu’ nabi bersabda:[14]

لا يحل للر أة ان ثصوم وزوجها شا هد – اي حا ضر غير مسا فر – الا بإذ نه , ولا ثأ ذن فى بيثه الا بإذ نه.

Artinya: “ seorang wanita tidak halal puasa sedang suaminya berada di sampingny (tidak sedang pergi) kecuali mendapat izin suaminya, dan seorang wanita tidak boleh mengizinkan orang lain masuk rumahnya kecuali mendapat izin suaminya.”

e. Istri wajib menunaikan tugas-tugas didalam rumah, misalnya, memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan sebagainya menurut adat atau kebiasaan di masing-masing tempat dan masa. “Kehidupan adalah saling tolong-menolong dan saling menjamin,” sabda rasulullah.[15]

Allah berfirman dalam Q.S al-ma’idah:3

و ثعا ونوا على البر وا لثقو ىÇÌÈ

Artinya: “ dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa.

D. Kehidupan perempuan sebagai ibu dalam keluarga

Dalam perannya sebagai ibu dari anak-anak, wanita berada dalam peran yang semestinya sesuai dengan aspek biologisnya, mengasuh, mendidik, dan memelihara anak-anak. Peran wanita sebagai ibu rumah tangga yang sepenuhnya tidak diragukan, sekalipun banyak alternative sebagai perannya. Citra wanita sebagai ibu rumah tangga merupakan pilihannya tanpa ia merasa terpaksa.

Hakekatnya lebih utama, lebih berhasil dan lebih bahagia, wanita yang tinggal di rumahnya, menjaga diri dan kehormatannya, melayani suami hingga keluarganya menjadi keluarga yang sakinah, penuh cinta dan kasih sayang, dan ia mengasuh anak-anaknya hingga tumbuh menjadi anak-anak yang berbakti dan berguna bagi masyarakatnya, ataukah seorang wanita yang sibuk mengejar karier di kantor bersaing dengan para lelaki, bercampur baur dengan mereka, sementara suami dan anak-anaknya ia serahkan pengurusannya kepada orang lain? Manakah yang lebih merasakan ketentraman dan ketenangan?[16]

Hendaklah dipahami oleh para wanita bahwa pekerjaan berkhidmat pada keluarga merupakan satu ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pekerjaan di dalam rumahnya bukanlah semata-mata gerak tubuhnya, namun pekerjaan itu memiliki ruh yang bisa dirasakan oleh orang yang mengerti tujuan kehidupan dan rahasia terwujudnya insane.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, ia menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya maka ia akan masuk surga dari pintu surga mana saja ia inginkan”. (HR. Ahmad, 1/191. Dalam Adabuz Zifaf, hal. 182, Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini hasan atau shahih, ia memiliki banyak jalan.”)

Ketika suatu rumah tangga mulai dianugerahkan Allah seorang anak, maka tugas wanita yang sebelum hanya sebagai istri, mulai mendapatkan atribut baru yaitu Ibu. Ibu yang baik harus bisa menjadi madrasah pertama bagi anaknya, di mana tutur kata, perbuatan, sifat dan segala yang melekat pada seorang ibu akan menjadi “inspirasi pertama” bagi anaknya. Disinilah fungsi pendidikan berperan, dan seorang ibu dihadapkan pada seorang anak yang masih banyak memerlukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.[17]

Wawasan keislaman, pengetahuan tentang disiplin ilmu, etika serta berbagai pengetahuan harus dipelajari oleh seorang wanita, dan harus terus menerus di-upgrade, karena seorang anak akan terus tumbuh. Apalagi dengan era globalisasi dan kebudayaan modern yang cenderung hedonis ini setiap harinya akan terus menggerogoti pemikiran anak-anak. Dan disinilah peran Ibu untuk mem-filter dan me-refresh pemikiran anak-anaknya dari ancaman pemikiran-pemikiran yang dapat merusak moral anak.

Keberadaan ibu yang telah diperhatikan oleh Islam dengan sepenuh perhatian ini dan yang telah diberikan untuknya hak-hak, maka dia juga mempunyai kewajiban, yakni mendidik anak-anaknya, dengan menanamkan kemuliaan kepada mereka dan menjauhkan mereka dari kerendahan. Membiasakan mereka untuk taat kepada Allah dan mendorong mereka untuk mendukung kebenaran dan tidak menghalang-halangi mereka untuk turut berjihad karena mengikuti perasaan keibuan dalam hatinya. Sebaliknya ia harus berusaha memenangkan seruan kebenaran daripada seruan perasaan.

Sungguh Islam telah menegaskan wasiat (pesan penting) terhadap wanita dan meletakkan wasiat itu setelah wasiat untuk bertauhid kepada Allah dan beribadah kepada-Nya. Islam juga menjadikan berbuat baik kepada wanita itu termasuk sendi-sendi kemuliaan, sebagaimana telah menjadikan hak seorang ibu itu lebih kuat daripada hak seorang ayah, karena beban yang amat berat ia rasakan ketika hamil, menyusui, melahirkan dan mendidik. Inilah yang ditegaskan oleh Al Qur’an dengan diulang-ulang lebih dari satu surat agar benar-benar difahami oleh kita anak manusia. Sebagaimana firman Allah SWT:[18]

“Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnnya dalam keadaan lemah yang betambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hannya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)

“Kmi wasiatkan (perintahkan) kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah (pula). Mengandungnnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan….” (Al Ahqaf: 15)

1. Citra wanita dalam masyarakat

Bahwa dalam aspek masyarakat, citra wanita adalah makhluk social, yang berhubungannya dengan manusia lain dapat bersifat khusus maupun umum tergantung kepada bentuk hubungan itu. Hubungan wanita dalam masyarakat dimulai dengan hubungannya dengan orang seorang antar orang, sampai ke hubungan dengan masyarakat umum. Termasu ke dalam hubungan orang seorang adalah hubungan wanita dengan pria dalam masyarakat.[19]

Citra wanita dalam sikap sosialnya terbentuk karena penglaman pribadi dan budaya. Wanita menolak terhadap stereotip-stereotip tradisional yang menyudutkan ke tempat tidak bahagia. Pengalaman pribadi wanita mempengaruhi penghayatannya dan tanggapannya terhadap rangsangan social, termasuk terhadap lawan jenisnya. Tanggapan itu menjadi salah satu terbentuknya sikap wanita dalam aspek social.

Peran wanita terbatas pada peran yang ditentukan oleh alam kepadanya. Pekerjaan-pekerjaannya terbatas pada pekerjaan yang didasarkan atas perbedaan seks, yang diatur leh alam, dan yang pantas yang dijalani wanita. Sekalipun demikian, yang terjadi sebenarnya bahwa citra wanita dalam aspek masyarakat itu tercipta karena proses lingkungan.Dalam hubungan inilah wanita berada dalam system masyarakat patriarchal tempat kekuasaan laki-laki mendominasi dalam banyak kehidupan masyarakat, ada kekuasaan laki-laki atas wanita.

2. Citra social wanita

Pada dasarnya citra social wanita merupakan citra wanita yang erat hubungannya dengan norma dan system nilai yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat, tempat wanita menjadi anggota dan berhasrat mengadakan hubungan antar manusia. Kelompok masyarakat itu adalah kelompok keluarga dan kelompok masyarakat luas. Citra social wanita terbentuk pada relasinya dengan orang seorang, termasuk dengan pria, dan dengan sesama manusia.[20]

E. Fungsi Wanita Dalam Rumah Tangga

Laki-laki yang bekerja dengan susah payah memeras keringat di luar rumah memerlukan seorang istri yang dapat menyenangkan, melegakan, menenangkan, melepaskan rasa penat badan maupun pikiran dan memberikan harapan serta semangat baru untuk menunaikan tugas-tugasnya pada hari-hari berikutnya. Tugas istri semacam ini mustahil dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh wanita karir. Sebab si wanita karir yang sepanjang hari bekerja di luar rumah, juga menghadapi problem dan beban mental yang sangat besar, bahkan mungkin lebih berat dengan apa yang dialami oleh si laki- laki. Dalam keadaan semacam ini, akhirnya timbul pertanyaan: “Apakah suami yang menghibur istri, ataukah istri yang menghibur suami, ataukah kedua- duanya sibuk dengan kepenatan sendiri, sehingga sama-sama bersikap acuh? Ataukah masing-masing mencari hiburan sendiri-sendiri, atau ke luar rumah bersama-sama mencari hiburan, ataukah sebaiknya mempraktekkan cara hidup kumpul kebo, supaya jika timbul kebosanan tidak menimbulkan tanggung jawab yang lebih berat?

Jika terjadi kehidupan rumah tangga semacam ini, maka baik suami maupun istri akan sama-sama menderita pahit dan getir, dan anak-anak yang tinggal dalam rumah tangga demikian hanya akan menyaksikan kebingungan dan sandiwara yang menyesakkan nafas. Generasi baru Eropa yang hidup di bawah sistem masyarakat yang mendewakan emansipasi dan wanita karir telah mengalami keterasingan, kegelisahan, kekacauan, dan kegoncangan mental. Statistik kemelut kehidupan Barat sendiri menjadi bukti betapa besarnya dampak negatif terhadap kehidupan anak-anak, para suami dan para istri sendiri di tengah masyarakat mereka.

Padahal di dalam hadits-hadits Rasulullah disebutkan mengenai ciri-ciri istri yang shalih, yaitu sebagai berikut: [21]

1. Melegakan hati bila dilihat. Hal ini tersebut di dalam hadits Ibnu Majah dari sahabat Abu Umamah AI-Bahily.

“Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah taqwa kepada Allah,maka tidak ada sesuatu paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shaleh, yaitu; taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, nrima bila diberi janji, dan menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, ketika suaminya pergi. ” (HR. 1bnu Majah)

2. Dapat diberi amanah Halini diriwayatkan oleh sahabat Sa’ ad bin Abi Waqash bahwa Rasulullah saw bersabda:

Ada tiga macam keberuntungan, yaitu :

1. istri yang shalihah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu.

2. Kuda yang penurut dan cepat larinya sehingga dapat membawa kamu menyusul temen-temanmu.

3. Rumah besar yang banyak didatangi tamu. (HR.Hakim)

3. Memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir. Hal ini Allah firmankan di dalam QS. 30: 21

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷�t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbrã�©3xÿtGtƒ ÇËÊÈ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

4. Membantu memelihara akidah dan ibadah. Hal ini dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya:

“Barangsiapa diberi oleh Allah istri yang shalihah, maka sesungguhnya ia telah diberi pertolongan oleh Allah meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah di dalam memelihara separuh lainnya. ” (HR. Thabrani dan Hakim).

Ketentuan ilahi yang telah menempatkan laki- laki dan wanita pada fungsi masing-masing sesuai dengan fitrahnya, adalah suatu aksioma yang tidak dapat berubah. Segala sesuatu yang ada di alam ini, Allah telah berikan fungsi dan tugas yang bersifat paten. Bumi yang ditakdirkan berputar pada porosnya, begitu pula bulan dan bintang menjadikan segala yang ada di dunia berjalan dengan teratur dan nyaman untuk dihuni. Maka begitu pulalah halnya dengan fungsi dan tugas yang dibebankan kepada laki-laki dan wanita di dunia ini.

Jikalau kita mencoba untuk melanggar aksioma Ilahiyah ini, maka malapetakalah yang akan menjadi hasilnya dan kita harus siap menerima segala akibat kehancurannya. Sebaliknya, kalau kita mentaati secara tuntas apa yang sudah menjadi aksioma Ilahiyah ini, maka kesehjateraan, ketenangan, kedamaian, persaudaraan, persatuan dan kenikmatan dunia ini selalu dapat kita rasakan dengan tiada terkirakan. Karena Allah akan Melimpahkan segala rahmat-Nya kepada umat manusia yang mau patuh dan taat kepada ketentuan-Nya. Marilah kita meniti jalan mencapai kebaikan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Keberadaan perempuan/ibu dalam keluarga yang anjurkan oleh Islam dengan sepenuh memberikan perhatian untuknya hak-hak, maka dia juga mempunyai kewajiban, yakni mendidik anak-anaknya, dengan menanamkan kemuliaan kepada mereka dan menjauhkan mereka dari kerendahan. Membiasakan mereka untuk taat kepada Allah dan mendorong mereka untuk mendukung kebenaran dan tidak menghalang-halangi mereka untuk turut berjihad karena mengikuti perasaan keibuan dalam hatinya. Sebaliknya ia harus berusaha memenangkan seruan kebenaran daripada seruan perasaan.

Jadi keluarga sakinah mawadah dan warohmah merupakan impian semua insan manusia yang beriman dan bertaqwa pada Allah SWT. Dan yakin hanya Allah yang akan melindungi mahluknya dari berbagi gangguan dan bencana. Namun salah satu upaya menuju kunci sukses perempuan menjadi mahkota kehidupan, diantranya:

1. Harus punya karakter pada prinsip kebenaran, dan kejujuran.

2. Atasi sesuatu masalah sesuai dengan sumber penyebab. Misalnya masalah ekonomi tidak hanya dengan tausiah tetapi kasih nasi dulu baru tausiah. Masalah budaya, hobi, keamanan berumah tangga, pelajari timbulnya masalah. Jangan ambil keputusan bila masalah belum jelas. Jangan cepat ambil keputusan ketika dipengaruhi oleh emosi ( orang marah akan kehilangan kemampuan kritis, sistimatis, strategis) kemampuan mengendalikan diri bagi seorang perempuan sebagai modal yang ampuh dalam ketahanan keluarga. Marah akan memunculkan kebodohan.

3. Tidak boleh berdusta kepada siapapun.

4. Tidak boleh lakukan dosa.

5. Hindari perbuatan dan kebiasaan yang tidak disenangi oleh pasangan hidup.

6. Jangan jauh pada Allah SWT.

B. Saran

saya sebagai penulis hanya mampu membuat makalah dengan seperti ini, karna penulis baru tahap belajar. Dengan itu mungkin masi banyak kekurangan baik dalam makalah sebagai penulisan maupun sebagai isinya. Dari itu pemakala menerima kritik dan saran untuk kebaikan makalah ini kemasa yang selanjutnya. Dan penulis juga mengucapkan terima kasih dari dosen pembimbing, yang mana beliau telah membimbing dengan baik juga atas bantuan buku-buku yang mana telah berhasil menyelesaikan makalah ini dengan sebaik mungkin. Bagi pembaca yang budiman penulis mohon maaf atas semua kesalahan ataupun kehilafan, dan penulis berharap makalah ini dapat bermamfaat bagi semuanya. Amiiiiiin……….!

DAFTAR PUSTAKA

Shabuni, As Muhammad ali. 1996. Pernikahan dini yang islami . Jakarta: pustaka amani.

Al-Kandhalawi rah, Maulana Muhammad zakariyyah. . 2002. Kitab fadhila A’mal. bandung: pustaka ramadhan

Thalib, M. Drs. 1997. Penyebab perceraian dan penanggulangannya. Bandung: irsyad baitus salam.

Sugehastuti. 2000 Wanita di mata wanita.. Bandung: Nuansah.

Asykur, ghoni Abdul. 1992. kumpulan hadist-hadist pilihan bukhary muslim. bandung: husaini bandung.

DR. Indra Hasbi, ma. 2004. Potrek wanita shalehah. Jakarta: penamadani

Al-Quran dan terjemahannya.

http://sabdaislam.wordpress.com/2009/12/13/53-wanita-sebagai-ibu/

http://www.pks-jaksel.or.id/Article2169.html

http://suryadhie.wordpress.com/2008/05/19/arti-wanita-dalam-keluarga/

http://alrezamittariq.wordpress.com/2010/02/14/fungsi-wanita-dalam-rumah-tangga/



[1] DR. hasbi indra, dkk. Potrek wanita sholehah. (Jakarta: penamadani. 2004) hlm 1

[3] Departemen agama RI. Al-Quran dan terjemahan

[5] [5] Drs. M. Thalib, Penyebab Perceraian dan Penanggulanggannya, (Bandung: Irsyad Bitus Salam, 1997), hlm 184

[6] http://suryadhie.wordpress.com/2008/05/19arti-wanita-dalam-keluarga

[7] Abdul ghoni asykur kumpulan hadist-hadist pilihan bukhary muslim ( bandung: husaini bandung. 1992) hlm 109

[8] Sugehastuti. Wanita di mata wanita.( Bandung: Nuansah. 2000). Hlm 122

[9] Ibid hlm 125-126

[10] Maulana Muhammad zakariyyah Al-Kandhalawi rah. Kitab fadhila A’malI (bandung: pustaka ramadhan. 2002) hal 744

[11] Muhammad ali As shabuni. Pernikahan dini yang islami (Jakarta: pustaka amani.1996). hlm 120

[12] Ibid hlm 125

[13] Ibid hlm 126

[14] Ibid hlm 127

[15] Ibid hlm 129

[18] http://sabdaislam.wordpress.com/2009/12/13/53-wanita-sebagai-ibu/

[19] Opcit sugihastuti. Hlm 142

[20] lopcip hlm 143

Selasa, 09 November 2010

bentuk-bentuk layanan konseling islam

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setalah dipahami pengertian, landasan, fungsi dan prisip-prinsip, serta orientasi dan ruang lingkup pelayanan bimbingan konseling.bab ini membahas tentang bentuk-bentuk layanan konseling islam. Dalam bab ini hanya memberikan wawasan yang mendasari pemahaman awal tentang masing-masing layanan.
Sebelum kita menguraikan konseling dalam kaca mata islam, ada baiknya kita memahami hakekat islam sebagai agama. Hal ini akan membantu kita menganalisis bagaimana konseling dalam kaca mata islam.
Hakekat agama itu sendiri menurut zakiah darajat, dkk (1986) adalah yang disampaikan tuhan kepada nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hokum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dengan dan tanggung jawab kepada Allah.
Agama adalah sumber system nilai yang menjadi petunjuk, pedoman dan pendorong bagi manusia untuk memecahkan berbagai masalah hidup.










BAB II
PEMBAHASAN
BENTUK-BENTUK LAYANAN KONSELING ISLAM

A. Layanan orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru dimasukinya. Layanannya adalah sebagai berikut:
1. Layanan orientasi disekolah
Allan & McKean (1984) menegaskan bahwa tanpa program-program orientasi, periode penyesuian untuk sebagian besar siswa berlangsung kira-kira tiga atau empat bulan. Dalam kaitan itu, penelitian allan dan McKean menunjukkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yaitu:
• Program orientasi yang efektif menpercepat proses adaptasi, dan juga memberikan kemudahan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
• Murid-murid yang mengalami masalah penyesuian ternyata kurang berhasil di sekolah
• Anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang rendah memerlukan waktu melebihi lama untuk menyeuaikan diri dari pada anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang lebih tinggi.
Individu yang memasuki lingkungan baru perlu segera dan secapat mungkin memahami lingkungan barunya. Hal-hal yang perlu diketahui pada garis bsarnya adalah keadaan lingkungan fisik (seperti gedung-gedung, peralatan),materi dan kondisi kegiatan (seperti jenis kegiatan, lamanya kegiatan berlangsung syarat-syarat bekerja,suasana kerja),peraturan dan berbagai ketentuan lainnnya (seperti disiplin). Untuk lingkungan sekolah misalnya materi orientasi yang mendapatkan penekanan adalah:
a. System menyelenggaraan pendidikan pada umumnya
b. Kurikulum yang ada
c. Penyelenggaraan pengajaran
d. Kegiatan belajar siswa yang diharapkan
e. System penilaian, ujian, dan kenaikan kelas
f. Fasilitas dan sumber belajar yang ada
g. Staf pengajar dan tata usaha
h. Hak dan kewajiban siswa
i. Organisasi siswa
j. Organisasi orang tua siswa
k. Orientasi sekolah secara menyeluruh
2. Metode Layanan Orientasi Sekolah
Untuk anak-anak yang segera akan memasuki SLTP, Allan dan McKnean
a. Kunjungan ke SD Pemasok
b. Kunjugan ke SLTP Pemesan
c. Malam pertemuan dengan orang tua
d. Staf konselor bertemu dengan guru membicarakan siswa baru
e. Mengunjungi kelas
f. Memamfaatkan siswa senior
3. Layanan Orientasi di Luar sekolah
cara penyajian di luar sekolah sangat tergantung pada jenis orientasi yang diperlukan dan siapa yang memerlukannya. Lembaga-lembaga seperti badan penasehat perkawinan, pusat rehabilitas narapidana, pusat orientasi tenaga kerja, dan lain-lain dapat dibentuk dan konser mejadi tenaga ahli serta penggerak lembaga bantuan khusus di masyarakat


B. Layanan informasi
Secara umum, bersama dengan layanan orientasi bermaksud memberikan pemahaman kepada individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjadi suatu tugas atau kegiatan untuk mengarah ke dalam tujuan atau rencana yang dikehendaki. Layanan orientasi dan informasi pertama-tama merupakan perwujudan dari fungsi pemahaman pelayanan bimbingan konseling.
Ada tiga alasan utama mengapa pemberian imformasi perlu diselenggarakan
1. Membekali individu dengan berbagai ilmu pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun social-budaya.
2. Memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya. “Kemana dia ingin pergi”. Syarat dasar untuk dapat menentukan arah hidup adalah apabila ia mengetahui apa (informasi) yang harus dilakuan serta bagaimana bertindak secara kreatifdan dinamis berdasarkan atas imformasi-imformasi yang ada.
3. Setiap individu adalah unik. Keunikan itu akan membawakan pola-pola pengambilan keputusan dan bertindak yang berbedabeda disesuaikan dengan aspek-aspek kepribadian masing-masing individu.
a. Jenis-jenis layanan imformasi
1. Imformasi pendidikan
Dalam bidang pendidikan banyak individu yang berstatus siswa atau calon siswa yang dihadapkan pada kemungkinan timbulnya masalah atau kesulitan. Diantaranya yaitu:
• Pemilihan program studi
• Pemilihan sekolah, fakultas dan jurusan
• Penyesuaian diri dengan program studi
• Penyesuaian diri terhadap suasana belajar
• Putus sekolah
Norris, Hatch, Engelkes & Winborn (1977) menekakan bahwa imformasi pendidikan meliputi data dan keterangan yang sahih dan berguna tentang kesempatan dan syarat-syarat berkenan dengan berbagai jenis pendidikan yang ada sekarang dan yang akan datang.
2. Imformasi jabatan
Imformasi jabatan/pekerjaan yang baik sekurang-kurangnya membuat hal-hal sebagai berikut:
• Struktur dan kelompok-kelompok jabatan/pekerjaan utama
• Uraian tugas masing-masing jabatan/pekerjaan
• Kualifikasi tenaga yang diperlukan untuk masing-masing jabatan
• Cara-cara atau prosedur penerimaan
• Kondisi kerja
• Kesempatan-kesempatan untuk pengembangan karier.
• Fasilitas penunjang untuk kesejahteraan pekerjaan, seperti kesehatan, olah raga dan rekreasi, kesempatan pendidikan bagi anak-anak , dan sebagainya.
3. Imformasi social-budaya
Dapat kita ketahui bahwa Indonesia mempunyai lambang Negara yaitu “bhineka tunggal ika”. Dikatakan dengan berbagai macam suku bangsa dan adat istiadat. Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sejak dini mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman isi imformasi tentang keadaan social-budaya berbagai daerah. Hal ini dapat dilakukan melalui penyajian imformasi social-budaya yang meliputi:
• Macam-macam suku bangsa
• Adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan
• Agama dan kepercayaan-kepercayaan
• Bahasa, terutama istilah-istilah yang dapat menimbulkan kesalahpahaman suku bangsa lainnya.
• Potensi-potensi daerah
• Kekusutan masyarakat atau daerah tertentu
b. Metode layanan imformasi disekolah
1. Ceramah
Ceramah merupakan metode pemberian imformasi yang paling sederhana, mudah dan murah, dalam arti bahwa metode ini dapat dilakukan hamir setiap petugas bimbingan disekolah.
2. Diskusi
Diskusi seperti ini dapat diorganisasi baik oleh siswa sendiri maupun oleh konselor, atau guru.
3. Karyawisata
Karyawisata merupakan salah satu merupakan bentuk kegiatan belajar mengajar yang telah dikenal secara meluas, baik oleh masyarakat sekolah maupun masyarakat umum.
4. Komferensi karier
Juga disebut dengan komferensi jabatan. Komferensi karier dilakukan dengan mengikuti salah satu pola dapat diuraikan:
• Menyediakan jadwal komferensi dengan mengadakan pertemuan sekali setiap minggu.
• Mengadakan pekan bimbingan karier selama satu minggu terus menerus.

C. Layanan bimbingan belajar
Bimbingan belajar merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting diselenggarakan di sekolah. Pengalamnan menunjukan bahwa kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya inteligensi. Sering kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.
Layanan bimbingan belajar dilaksanakan melalui tahap-tahap:
1. Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar
Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya, yang pada umumnya dapat digolongkan atas:
• Keterlambatan akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memilliki inteligensi yang yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memamfaatkan secara optimal.
• Ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi.
• Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus.
• Kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak malas.
• Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic antar sesama dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, dan sebagainya.
Siswa yang mengalami masalah belajar seperti di atas dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan melalui:
a. Tes hasil belajar
Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang ditetapkan sebelumnya. Siswa-siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.
b. Tes kemampuan dasar
Setiap siswa mengalami kemampuan dasar atau intelegensi tertentu. Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengatministrasikan tes intelegensi yang sudah laku.
c. Skala sikap dan kebiasaan belajar
Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu factor yang penting dalam belajar. Sebagian dari hari belajar ditentukan oleh sikap dan kebiasaan yang dilakukan siswa dalam belajar.
d. Tes diagnostic
Tes diagnostic merupakan instrument untuk mengungkapkan adanya kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Misalnya untyuk berhitung dijumpain kesalahn-kesalahan dalam operasi berhitung.
e. Analisi hasil belajar atau karya
Analisis hasil belajar atau karya merupakan bentuk lain dari tes diagnostic. Tujuannya sama, yaitu mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa dalam mata pelajaran tertentu. Apabila tes diagnostic disusun, dibakukan, dan diselenggarakan dalam bentuk tes baik tertulis, analisis hasil belajar merupakan prosedur yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan mememriksa secara langsung materi ahsil hasil beajar yang ditampilkan siswa, baik melalui tuliasan, bentuk grafik dan lainnya serta gerak dan suara.

D. Layanan konseling perorangan
Yang dimaksud dalam layanan ini hubungan lansung tatap muka antara koselor dank lien.
1. Layanan konseling diselenggarakan secara resmi
Konseling merupakan layanan yang teratur, terarah, dan terkontrol, serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya. Sasaran (subjek penerima layanan, tujuan, kondisi dan metodologi penyelenggaraan layanan telah digaris dengan jelas.
2. Pengentasan masalah melalui konseling
a. pemahaman masalah
b. Analisis sebab-sebab timbulnya masalah
c. Aplikasi metode khusus
d. Evaluasi
e. Tindak lanjut
E. layanan bimbingan dan konseling kelompok
Apabila konseling perorangan menujukkan layanan kepada individu atau klien orang-perorangan, maka bimbingan dan konseling kelompok mengarahkan layanan kepada sekelompok individu. Dengan satu kali kegiatan, layanan kelompok itu memberikan mamfaat atau jasa kepada sejumblah orang. Kemamfaatan yang lebih meluas inilah yang paling menjadi perhatian semua pihak berkenaan dengan layanan kelompok itu.
Keunggulan yang diberikan oleh layanan kelompok ternyata bukan hanya menyangkut aspek ekonomi/efisiensi sebagaimana dituturkan diatas. Dinamika perubahan yang terjadi ketika layanan itu berlansung juga amat menarik perhatian. Dalam layanan kelompok inteaksi antar individu anggota kelompok merupakan suatu yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada konseling perorangan.
1. Ciri-ciri kelompok
Meskipun suatu kelompok terdiri dari sejumblah orang, tetapi kelompok bukan seadar kumpulan sejumblah orang. Sejumblah orang yang berkumpul itu baru merupakan “lahan” bagi terbentuknya kelompok. Unsure yang paling pokok menyangkut tujuan, keanggotaan dan kepemimipinan, serta aturan yang diikuti.
2. Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok. Gazda (1978) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok disekolah merupakan kegitan imformasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Gazda juga menyebutkan bahwa bimbingan kelompok diselenggarakan untuk memberikan imformasi yang bersifat personal, vokasional, dan social.
3. Konseling kelompok
Layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan didalam suasana kelompok. Disan ada konselor (yang jumblahnya mungkin lebih dari satu orang) dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlah paling kurang 2 orang). Disana terjadi hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan sama seperti dalam konseling perorangan, yaitu hangat, terbuka, permisif, dan penuh keakraban. Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah (jika perlu dengan menerapkan metode-metode khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.
Unsure-unsur konseling perorangan tampil secara nyata dalam konseling kelompok. Untuk memasuki konseling kelompok para anggota atau klien pada awalnya tidak memerlukan persiapan tertentu. Dengan demikian masalah yang akan mereka bawa masing-masing ke dalam kelopok besar kemungkinan berbeda-beda; atau bahkan ada diantara mereka yang ada menurut kategori Bordin “tidak bermasalah”. Masalah-masalah yang dibawa oleh masing-masing anggota itu nantinya akan dikemukakan dalam kegiatan kelompok. Oleh karena itu akan muncul sejumlah masalah yang berbeda-beda yang dibicarakan melalui dinamika interaksi social dalam kelompok itu.

F. Kegiatan Penunjang
Pelaksanaan berbagai macam layanan bimbinga dan konseling memerlukan sejumlah kegiatan penunjang.
Agaknya memang benar apabila dikatakan bahwa alat dan kelangkapan yang paling handal dimiliki oleh konselor untuk menjalankan tugas-tugas pelayanannya ialah mulut dan berbagai keterampilan berkomunikasi baik verbal maupun non-verbal. Namun, mengingat apa yang menjadi isi komunikasi itu mengjangkau wawasan yang sedemikian luas dan “multi dimensional”, serta harus sesuai dengan data dan kenyataan yang berkenaan dengan objek-objek yang dibicarakan, maka konselor perlu diperlengkapi dengan berbagai data, keterangan dan informasi, terutama dengan klien dan lingkungan.
1. Instrument Bimbingan dan Konseling
Pemahaman tentang diri klien, tentang masalah klien, dan tentang lingkungan “yang lebih” dapat dicapai dengan berbagai cara. Wawancara dan dialog yang mendalam biasanya merupakan cara yang efektif untuk mengembangkan pemahaman tentang klien dan masalahnya itu. Dalam kaitan itu konselor perlu memiliki wawasan dan keterampilan yang memadai dalam penggunaan berbagai instrument tersebut.
Instrumentasi bimbingan dan konseling memang merukan salah satu sarana yang perlu dikembangkan agar pelayanan bimbingan dan konseling terlaksana secara lebih cermat dan berdasarkan data empiric. Termasuk ke dalam instrumen yang dimaksudkan itu adalah berbagai tes, inventori, angket dan format isian. Sedang untuk pemahaman lingkungan yang “lebih luas” dapat digunakan berbagai brosur, leaflet, selebaran, model, contoh, dan lain sebagainya.
Ada beberapa pertimbangan yang perlu mendapat perhatian para konselor dalam penerapan instrumentasi bimbingan dan konsseling. Antara lain ialah:
a. Instrmen yang dipakai haruslah yang sahih dan terandalkan.
b. Pemakai instrumen (dalam hal ini konselor) bertanggung jawab atas pemilihan instrumen yang akan dipakai (misalnya tes), monitoring pengadministrasiannya dan scoring, penginterpretasian skor dan penggunaannya sebagai sumber informasi bagi pengambilan keputusan tertentu (Anastasi, 1992)
c. Pemakaian instumen, misalanya, harus dipersiapkan secara matang, bukan hanya persiapan instrumennya saja, tetapi persiapan klien yang mengambil tes itu.
d. Perlu diingat bahwa tes atau instrumen apapun hanya merupakan salah satu sumber dalam rangka memahami individu secara lebih luas dan dalam.
e. Ada dan dipergunakannya berbagai instrumen lainnya bukanlah syarat mutlak bagi pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
2. Penyelenggaraan himpunan data
Data yang terkumpul melalui berbagai teknik/prosedur untuk sejumblah individu perlu dihimpun secara cermat.
Beberapa yang perlu dalam rangka penyelenggaraan himpunan data dan pemamfaatannya secara optimal.
a. Materi himpunan data yang baik (akurat dan lengkap) sangat berguna untuk memberikan gambaran yang tepat tentang individu.
b. Data yang terkumpul disusun dalam format-format yang teratur rapi yang sesuai dengan system tertentu.
c. Data dalam himpunan data itu pada dasarnya bersifat rahasia.

G. Layanan kegiatan konseling dalam islam
Kegiatan konseling sebagai bantuan fropesional pada individu yang memerlukan pemahaman diri menuntut teknik dan metode tertentu dalam penyelenggaraan. Beberapa nilai dalam ajaran islam yang termaktub dalam kitab suci Al-Quran sebagai dasar dalam pelaksanaan konseling bagi seorang konselor diantarany, adalah sebagai berikut:
1. Perkataan yang berbekas dihati adalah perkatan yang benar-benar keluar dari lubuk hati. ini ditanam sebagai pelajaran hidup dalam Al-Quran surat Al-Nisa ayat 63 Allah berfirman:
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”
2. Berbicara yang baik saja. Yang isinya bermafaat, mengandung kebajikan, tidak menyakiti hati orang lain. Yang terdapat dalam surat An-Nisa ayat 9:
“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.
3. Renda hati yaitu perasaan lemah dan kecil dihadapan Allah.
4. Senyum adalah sesuatu kebajikan dan sama dengan ibadah sedekah.
5. Sabar. Bersabar dalam pergaulan adalah sifat mukmin sejati.
6. Pemaaf dan tidak pendendam.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan dalm kaca mata islam bahwa konseling merupakan bagian dari ibadah yang dilakukan oleh umat muslim guna mendapat amal disisi khaliknya Allah SWT. Nabi Muhammad SAW diciptakan Allah sebagai profil konselor ideal yang perlu di contoh oleh konselor muslim.
Dan sebenarnya Allah telah mengatur dala kitab suci Al Quran prosedur, teknik dan metode dalam pelaksanaan konseling. Hal penting lainnya dalam kaca mata islam, seorang konselor perlu menguasai nilai-nilai agama guna membantu klien yang mengalami masalah dan butuh kejelasan, pandangan dari ajaran agama tersebut.




B. SARAN







DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. priyotno, H. M.Sc.Ed. dan Drs. Amti, Erman. 1994. Dasar-dasar bombing dan konseling. Jakarta: rineka cipta
Diniaty, Amira, M.pd, kons. 2009. Teori-teori konseling. Pekanbaru: daulat riau

tugas perkembangan pada masa dewasa

ht: 150%;">

Selasa, 19 Oktober 2010

KARAKTERISTIK USIA MADYA

NAMA : DAHLIA
NIM : 10842003825
JURUSAN :BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM/ V
MATA KULIA :PSIKOLOGI ORANG DEWASA & LANSIA
DOSEN PEMB. :Drs.MUKHLIS, M,Si
KARAKTERISTIK USIA MADYA
1. Usia madya merupakan periode yang sangat ditakuti
Bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya semakin terasa lebih menakutkan dilihat dari seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu orang-orang dewasa tidak akan mau mengakui bahwa mereka telah mencapai usia tersebut, sampai kelender dan cermin memaksa mereka untuk mengakui hal itu. Seperti dikatakan oleh Desmond, “orang-orang amerika memasuki usia madya dengan rasa segan, susah, dan ketakutan.
Untuk takut dengan memasuki usia madya yaitu:
a. Banyaknya stereotip yang tidak menyenangkan tentang usia madya, yaitu kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang diduga disertai dengan berhentinya reproduksi kehidupan serta berbagai tekanan tentang pentingnya masa muda bagi kebudayaan amerika disbanding dengan penghormatan untuk masa tersebut oleh berbagai kebudayaan Negara lain.dan mereka berharap dapat kembali ke masa-masa muda.

2. Usia madya merupakan masa transisi
Usia madia merupakan masa dimana pria dan wanita meninggalkan cirri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh cirri-ciri jasmani dan perilaku baru. Seperti periode:
a. Dia mengalami perubahan keperkasaan dan wanita dalam kesuburan.
Transisi berarti penyesuaian diri terhadap minat, nilai, dan pola perilaku yang baru.
Dimana dapat dilihat baik bagi pria maupun wanita pasti terdapat perubahan terhadap hubungan yang berpusat pada pasangannya (pair centred relationship) bila dibandingkan dengan hubungan yang berpusat pada keluarga (family centred relationship) selama tahun-tahun awal periode dewasa, ketika peran utama pria dan wanita didalam rumah adalah sebagai orang tua.
Sebagai peran dirumah, pria harus menyesuaikan diri terhadap perubahan, yang kelak masa tua akan datang dan kondisi pekerjaan perlu disesuaikan dengan kondisi fisik mereka. Selama usia madya, kimmel telah mengidentifikasi tiga bentuk krisis pengembangan yang umum dan hamper universal seperti:
• Krisi sebagai orang tuaditandai dengan sindrom yang merupakan krisis yang terjadi apabila anak-anak gagal memenuhi harapan orang tua.
• Krisis yang timbul karena oarng tua berusia lanjut, sehingga sering timbul reaksi-reaksi dari anak-anaknya.
• Krisi yang berhungan dengan kematian, khususnya pada suami istri.
3. Usia madya merupakan masa stress
Usia ini merupakan usia masa stress karena penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, cendrung merusak Homeostasis fisik dan psikologi seseorang dan membawa kemasa stress.
Marmor telah membagi sumber-sumber umum dari stress pada usia madya yaitu:
a. Stress somatic, yang disebabkan oleh keadaan jasmani yang menunjukkan usia tua.
b. Stress budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan, keperkasaan dan kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu.
c. Stress ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik anak dan memberikan status symbol bagi seluruh anngota keluarga.
d. Stress psikologi, yang diakibatkan oleh kematian suami atau istri, kepergian anak dari rumah, kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa hilangnya masa muda dan mendekati ambang kematian.
4. Usia madya merupakan usia berbahaya
Cirri ini berbahaya dalam rentang kehidupan. Cara biasa menginterprestasi “usia berbahaya” berasal dari kalangan pri yang ingin melakukan pelampiasan untuk melakukan kekerasan yang berakhir sebelum memasuki usia lanjut. Saat ini merupakan suatu masa diman aseseoarang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurang memperhatikan kehidupan.timbul penyakit jiwa datang dengan cepat dikalangan pria dan wanita, dan gangguan ini berpuncak pada suisid (bunuh diri).
5. Usia madya merupakan usia canggung
Usia madya canggung ini sama seperti pada remaja, bukan anak-anak dan juga bukan dewasa. Demikian juga pria dan wanita berusia madya, mereka bukan muda lagi, tetapi juga bukan tua.
Franzblau mengatakan bahawa “orang yang berusia madya seoalah-olah berdiri diantara generasi pemberontak yang lebih mudah dan generasi warga senior”.merasa bahwa keberadaan mereka dalam masyarat tidak dianggap, orang berusia madya berusaha untuk tidak dikenal oleh orang lain. Keinginan untuk tidak dikenal bagi pria dan wanita barusia madya Nampak dalam cara mereka berpakaian.
6. Usia madya merupakan masa berprestasi
Menurut Erikson, usia madya merupakan masa krisis dimana baik “ generasivitas” (generativity) kecendrungan untuk menghasilkan maupun stagnasi kecendrungan untuk tetap berhenti akan dominan. Selama usia madya, orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti dan tidak akan mengerjakan sesuatupun sama sekali. Dan oaring usia madya berkemauan yang kuat untuk berhasil dari masa-masa persiapan pada sebelumnya.
Biasanya, pria meraih puncak kariernya antara usia 40-50 tahun, yaitu setelah mereka puas terhadap hasil yang diperoleh dan menikmati, hasil dari kesuksesan mereka sampai mereka mencapai usia 60 tahun. Usia madya ini merupakan masa dimana peran kepemimpinan pada pria dan wanita dalam pekerjaan, perindustrian dan organisasi masyarakat merupakan imbalan atas prestasi yang dicapai.
7. Usia madya merupakan masa evaluasi
Karena usia madya pada umumnya merupakan saat pria dan wanita mencapai puncak pretasinya. Maka logislah apabila masa ini juga merupakan saat mengevaluasi prestasi tersebut berdasarkan aspirasi mereka semula dan harapan orang lain baik dari keluarga maupun temannya. Sebagaj hasil dari evaluasi diri, Archer lebih lanjut mengatakan, ”usia madya nampaknya menuntuk perkembangan perasaan yang lebih nyata dan berbeda dari orang lain. Dalam perkembangan setiap fantasi atau ilusi mengenai apa dan bagaimana dirinya. Tanggungjawab lain pada usia madya menyangkut hal fantasi dan ilusi.

8. Usia madya merupakan masa individu dievaluasi dengan standar ganda
Satu standar bagi pria dan wanita, walauppun perkembangannya cendrung mengarah kepersamaan peran antara pria dan wanita baik dirumah, perusahaan, perindustrian, profesi maupun dalam kehidupan social. Namun masi terdapat standar ganda terhadap usia. Meskipun standar ganda ini mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan pria dan wanita usia madya tetapi ada dua aspek khusus yang perlu diperhatikan:
a. Aspek yang berkaitan dengan perubahan jasmani. Contoh ketika rambut pria menjadi putih, timbul kerut-kerut dan keriput di wajah dan juga terdapat beberapa bagian otot yang mengendur. Misalnya di pinggang. Perubahan pada wanita dipandang tidak menarik lagi, dengan penekanan utama “pemakaian usia madya”.
b. Standar ganda dapat dilihat pada cara mereka (pria dan wanita) menyatakan sikap terhadap usia tua. Ada dua pandangan filosofis yang berbeda tentang bagaimana orang harus menyesuaikan diri dengan usia madya yaitu
• Mereka harus tetap merasa mudah serta aktif
• Mereka harus menua denngan anggun semakin lambat dan hati-hati dan menjalani hidup denngan nyaman.
9. Usia madya merupakan masa sepi
Bahwa masa ini dialami sebagai masa sepi ( empaty nest), masa ketika anak-anak tidak lama lagi tinggal bersama orang tua. Contohnya anak yang mulai beranjak dewasa yang telah bekerja dan tinggal diluar kota sehingga orang tua yang terbiasa dengan kehadiran mereka dirumah akan merasa kesepian dengan kepergian mereka.
Periode masa sepi pada usia madya lebih bersifat traumatic bagi wanita dari pad bagi pria. Hal ini benar khususnya pada wanita yang telah menghabiskan masa-masa dewasa mereka dengan pekerjaan rumah tangga. Dan banyak pula yang mengalami tekanan batin karena dipensiunkan (retirement shock). Kondisi serupa juga dialami pria ketika mereka mengundurkan diri dari pekerjaan.
10. Usia madya merupakan masa jenuh
Bahwa sering kali periode ini merupakan periode kejenuhan. Banyak pria dan wanita mengalami kejenuhan pada akhir usia tiga puluhan dan empat puluhan. Para pria jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga yang hanya member sedikit hiburan. Wanita yang menghabiskan waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anakny.
Wanita yang tidak menikah yang mengabdikan hidupnya untuk bekerja atau karier, menjadi bosan dengan alasan yang sama dengan pria. Acher menerangkan tentang kejenuhan yang dialami oleh pria yaitu:
Apabila saatnya anda berusia 40 tahun, semua orng termasuk anda mengetahui bahwa anda dapat melakukan apa saja yang sedang anda kerjakan. Dan pada waktu yang sama beberapa orang pria menjadi jenuh. Beberapa orang mulai mencari kekuasaan baru, bagaimanapun juga pada umumnya keadaan ini diketahui dengan harapan semoga seseorang telah menggunakan kesempatannya yang terakhir untuk mengubah arah dan untuk memilih sasaran-sasaran baru.
Kejenuhan tidak akan mendatangkan kebahagiaan ataupun kepuasan ada usia manapun. Akibatnmya usia madya sering kali merupakan periode yang tidak menyenakan dalam hidup. Pada usia madya khususnya pada umur 40-49 tahun, mereka menemukan masa tersebut sebagai masa yang hampir tidak menyenangkan.

Terapi dan teori sigmund freud

Terapi dan teori sigmund freud

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sigmund Freud (1856-1939) lahir pada tanggal 6 mei, 1856 di Freiberg, Moravia, yang pada masa itu merupaka propinsi di bagian utara kekaisaran Austro-Hongaria dan sekarang adalah wilayah Republik Ceska. Freud adalah anak tertua dari delapan bersaudara, dan ayahnya adalah pedagang wol yang relatif miskin dan kurang berhasil. Ketika bisnis ini gagal maka mereka sekeluarga pindah ke Leipzig, kemudian ke Wina.
Sejak kecil, keluarga freud telah mengetahui bahwa ia memiliki kecerdasan yang tinggi dibanding saudara-saudaranya, sehingga ia lebih banyak perhatian oleh orang tuanya dibandingkan saudaranya yang lain. Contohnya, Freud mendapat lampu lebih terang untuk membaca pada malam hari, dan ketika ia belajar tidak boleh ada suara bising agar ia tidak terganggu.
Nah, dalam perkembangan selanjutnya banyak tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Fruid dalam kehidupannya, yang pembaca bisa baca di buku biografi Sigmund Freud.
Psikoanalisis sering diidentikkan oleh seorang yang bernama Sigmund Freud. Dimakalah kami akan menjelaskan tentang pemahaman Sigmund Freud dengan model Psikoanalisisnya.








BAB II
PEMBAHASAN

Psikoanalisa memiliki posisi unik dalam sejarah Psikologi. Freud tidak mengembangkan teory yang mencetuskan hipotesis-hipotesis yang dapat diuji atau implikasi-implikasi empiris lainnya. Namun, pada tingkat lain, Freud telah mencapai apa yang hanya dapat dicapai oleh sedikit teoris lain: ia merevolusi sikap-sikap dan menciptakan posisi baru untuk mengkaji kepribadian. Dapat dikatakan bahwa Freud dengan kekuatan observasinya menjadika benar untuk alasan yang salah. Temuan-temuan berbagai teori gangguan kepribadian lain yang lebih empiristik sering kali menegaskan banyak observasi Freud. Jika pandangan-pandangannya tidak memenuhi kriteria studi empiristik, namun pandangan-pandangan tersebut menunjukkan kejeniusan dan pencerahan Freud, yang memenuhi pemikiran manusia tentang dirinya sendiri dengan cara yang hanya dapat dilakukan oleh sedikit orang.

A. KONSEP-KONSEP UTAMA
Pada mulanya, Freud mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa. Manusia pada hakikatnya bersifat bioligis, dilahirkan dengan dorongan-dorongan instingtif, dan perilaku merupakan fungsi mereaksi secara mendalam terhadap dorongan-dorongan tersebut. Manusia bersifat tidak rasional, tidak social, dan destruktif terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Menurut Freud, teori kepribadian mencakup tiga hal, yaitu:
1. Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem, yaitu:
a. Id, adalah sistem kepribadian yang orisinil, kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id ketika lahir. Id bisa juga dikatakan sebagai tempat bersemayam naluri-naluri. Id sifatnya tidak matang, dan selalu menjadi anak manja dari kepribadian, tidak berfikir, dan hanya menginginkan atau bertindak. Sehingga id bersifat tak sadar.
b. Ego, adalah eksekutif dari kpribadian yang memerintah, mengendali, dan mengatur. Ia diangap sebagai “polisi lalu lintas” bagi id, superego, dunia eksternal. Tugas utama ego adalah mengantarai naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego adalah tempat bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan implus-implus buta dari id.
c. Superego, adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan itu pantas atau tidak dilakukan, baik atau buruk, benar atau salah. Superego berfungsi menghambat implus-implus id.
2. Pandangan Tentang Sifat Manusia
Pandangan Freudian tentang manusia pada dasarnya pesimistik, deterministik, mekanistik, dan reduksionistik. Menurut Freud, manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa-peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan. Freud menekankan peran naluri-naluri. Bersifat biologis dan bawaan. Dan naluri yang ditekankan oleh Freud adalah naluri seksual dan impuls-impuls agresif. Manusia memiliki naluri kehidupan, maupun kematian. Menurut Freud, tujuan segenap kehidupan adalah kematian, kehidupan tidak lain adalah jalan melingkar kearah kematian.
3. Kesadaran dan Ketidaksadaran
Sumbangan terbesar Freud adalah konsep tentang kesadaran dan ketidaksadaran yang merupakan kunci dalam memahami tingkah laku dan kepribadian. Ketaksadaran tidak bisa dipelajari secara langsung, melainkan dipelajari dari tingkah laku. Bagi Freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Ketaksadaran itu menyimpan pengalaman-pengalaman, ingatan-ingatan, dan bahan-bahan yang direpresi. Freud percaya bahwa sebagaian fungsi psikologi terletak diluar kawasan sadar. Oleh karena itu sasaran psikoanalitik adalah motif-motif tak sadar menjadi sadar, sebab hanya ketika menyadari motif-motifnyalah individu bisa melaksanakan pilihan: pemahaman terhadap peran ketaksadaran penting guna menangkap esensi model tingkah laku psikoanalitik.
4. Kecemasan
Kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang termotivasi kita untuk berbuat sesuatu. Fungsinya adalah memperingatkan adanya ancaman bahaya, yakni sinyal bagi ego yang akan terus meningkat jika tindakan-tindakan yang layak untuk mengatasi ancaman bahaya itu tidak diambil. Apabila tidak bisa mengendalikan kecemasan, melalui cara-cara yang rasional dan langsung, maka ego akan mengandalkan cara-cara yang tidak realistis, yakni tingkah laku yang berorientasi pada pertahanan ego.
Ada tiga macam kecemasan, yaitu:
a. Kecemasan realistis : adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal, dan taraf kecemasan sesuai dengan derajat ancaman yang datang.
b. Kecemasan neurik : adalah ketakutan terhadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan yang bisa mendatangkan hukuman bagi dirinya.
c. Kecemasan moral : adalah ketakutan terhadap hati nurani sendiri.
5. Mekanisme-mekanisme Pertahanan Ego
a. Penyangkalan, adalah pertahanan melawan kecemasan dengan “menutup mata” terhadap keberadaan yang mengancam. Individu menolak sejumlah aspek kenyataan yang membangkitkan kecemasan.
b. Proyeksi, adalah mengalamatkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego kepada orang lain. Seseorang melihat pada diri orang lain hal –hal yang tidak disukai dan ia tidak bisa menerima adanya hal-hal itu pada dirinya.
c. Fiksasi, adalah menjadi “terpaku” pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena mengambil langkah ketahap selanjutnya bisa menimbulkan kecemasan.
d. Regresi, adalah melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang tuntutannya tidak terlalu besar.
e. Rasionalisasi, adalah menciptakan alasan yang “baik” guna menghindarkan ego dari cedera, memalukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan.
f. Sublimasi, asalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya.
g. Displasement, adalah mengarahkan energi kepala objek atau orang lain apabila objek asal atau orang yang sesungguhnya, tidak dijangkau.
h. Represi, adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan kecemasan, mendorong kenyataan yang tidak bisa diterima kepada ketaksadaran, atau menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan.
i. Formal reaksi, adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar, jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar, jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka seseorang menampilkan tingkah laku yang berlawanan guna menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman itu.
6. Perkembangan Kepribadian
a. Pentingnya perkembangan awal
Model psikoanalitik adalah pelukisan tahap-tahap perkembangan psikososial dan psikoseksual individu dari lahir hingga dewasa. Menurut Gerald Corey, pemahaman psikoanalitik tentang perkembangan adalah hal yang esensial jika seseorang konselor menangani kliennya secara mendalam. Ia mengatakan masalah-masalah yang paling khas yang dibawa orang-orang, baik ke dalam situasi-situasi konseling individual maupun kelompok, terdiri dari:
- Ketidakmampuan menaruh kepercayaan pada diri sendiri dan pada orang lain.
- Ketidakmampuan mengakui dan mengungkapkan perasaan-parasaan benci dan marah, penyangkalan terhadap kekuatan sendiri sebagai pribadi, dan kekurangan perasaan-perasaan otonom.
- Ketidakmampuan menerima sepenuhnya seksualitas dan perasaan-perasaan seksual diri sendiri.
b. Tahun Pertama: fase oral
Dari lahir hingga akhir usia satu tahun seseorang bayi menjalani fase oral. Masalah-masalah yang kepribadian yang muncul akibat yang bersumber dari fase oral adalah: pengembangan pandangan terhadap dunia yang didasari oleh ketidakpercayaan, ketakutan untuk menjangkau orang lain, penolakan terhadap afeksi, ketakutan untuk mencintai dan mempercayai rasa harga diri yang rendah, isolasi dan penarikan diri, dan ketidakmampuan membangun atau memlihara hubungan yang akrab.
Fase oral adalah memperoleh rasa percaya kepada orang lain, kepada dunia, dan kepada diri sendiri. Efek penolakan pada fase oral adalah kecenderungan di masa kanak-kank selanjutnya untuk menjadi penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri, agresif, benci, dan kesepian.
c. Usia satu sampai tiga tahun: fase anal
Tugas penting yang harus diselesaikan di fase ini adalah belajar mandiri, memiliki kekuatan pribadi dan otonom, serta belajar bagaimana mengakui dan menangani perasaan-perasaan yang agresif. Bermula dari tahun kedua hingga tahun ketiga, fase anal memiliki arti penting bagi pembentukan kepribadian. Masalah-masalah kepribadian yang muncul kemudian, seperti kompulsi, berakar pada cara para orang tua memperlakukan anak-anaknya selama fase anal ini.
d. Usia tiga sampai lima tahun: fase falik
Fase falik adalah fase ketika kesanggupan-kesanggupan untuk berjalan, berbicara, berfikir, dan mengendalikan otot-otot berkembang pesat. Selama fase ini, aktivitas seksual menjadi lebih intens dan perhatian dipusatkan pada alat-alat kelamin.
Pada fase falik, masturbasi meningkat frekuensinya. Anak-anak menjadi lebih ingin tahu tentang tubuhnya, mereka berhasrat untuk mengeksplorasi tubuh sendiri dan untuk menemukan perbedaan-perbedaan di antara kedua jenis kelamin. Banyak sikap seksualitas ini bersumber dari fase falik, sehingga perlunya penanganan dorongan seksualitas pada fase ini.
Fase falik adalah periode perkembangan hati nurani, suatu masa ketika anak-anak belajar mengenal standar-standar moral. Selama fase falik anak perlu belajar menerima perasaan-perasaan seksual sebagai hal yang ilmiah dan belajar memandang tubuhnya sendiri secara sehat. Pada fase falik ini anak membentuk sekap-sikap mengenai kesenangan fisik, mengenai yang benar dan yang salah, mengenai mana yang maskulin dan mana yang feminim.

B. ADAPTASI ADAPTASI-ADAPTASI PSIKOANALISIS: PARA NEO FREUDIAN
1. Carl Jung
a. Pandangan tentang sifat manusia
Jung menekankan peran maksud dalam pengembangan manusia. Jung memiliki pandangan yang optimis dan kreatif tentang manusia, menekankan tujuan aktualisasi diri.
b. Kesadaran personal
Kesadaran personal meliputi pengalaman-pengalaman yang ada suatu saat disadari tetapi kemudian direpsi dan terlupakan. Gagasan-gagasan yang menyakitkan dan pemikiran-pemikiran yang tidak matang bagi kesadaran detekan dan diabaikan.
c. Kesadaran kolektif
Kesadaran kolektif adalah himpunan ingatan-ingatan terpendam yang diwariskan dari nenek moyang.
d. Persona
Persona adalah topeng yang digunakan dalam merespons situasi-situasi dan tuntutan-tuntutan sosial. Persona juga marupakan diri publik, sisi yang dipertunjukkan oleh seseorang kepada dunia, atau wajah sosial.
e. Animus dan anima
Manusia memiliki karakteristik-karakteristik feminin maupun maskulin. Sisi feminin yang dimiliki pria adalah anima, yang memungkinkan pria mampu memahami wanita. Sedangkan sisi maskulin yang dimiliki oleh wanita adalah animus, yang memungkinkan wanita mampu memahami pria.
f. Dua sikap: ekstraversi dan introversi
Sikap ekstravert mengarahkan seseorang kepada dunia internal dan objektif. Sedangkan sikap introvert mengarahkan seseorang kepada dunia internal dan subjektif.
g. Empat fungsi psikologis dasar
- Tipe berfikir
- Tipe perasa
- Tipe pengecap
- Tipe intuitif
2. Alfred Adler
a. Pandangan tentang pada manusia
Adler menekankan determinan-determinan sosial kepribadian, bukan determinan seksual. Pusat kepribadiannya adalah kesadaran, bukan ketaksadaran.
b. Inferioritas dasar dan kompensasi
Tujuan hidup adalah kesempurnaan, bukan kesenangan. Adler menekankan bahwa setiap orang memiliki perasaan rendah diri.
c. Usaha untuk mencapai superioritas
Dengan berusaha untuk mencapai superioritasnya, ia ingin mengubah kelemahan dengan kekuatan atau mencoba mancapai keunggulan pada suatu bidang sebagai kompensasi bagi kekurangannya dibidang-bidang lain.
d. Gaya hidup
Gaya hidup menerangkan keunikan individu. Gaya individu dibentuk pada masa kanak-kanak sebagai kompensasi bagi inferioritasnya dalam hal tertentu.
e. Pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak
Adler menekankan jenis-jenis pengaruh awal yang menyebabkan anak mengembangkan gaya hidup yang keliru.

C. PROSES TERAPEUTIK
1. Tujuan-tujuan Terapeutik
Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari di dalam diri klien. Proses terapeutik difokuskan pada pengalaman-pengalaman –masa kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman masa lampau direkonstrusi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekontruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi afaktif dari upaya menjadi ketaksadaran diketahui.
2. Fungsi dan peran terapis
Analisis terutama berurusan dengan usaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal, dalam menangani kecemasan secara realistis, serta dalam memperoleh kendali atas tingkah laku yang impulsif dan irasional. Pengorganisasian proses-proses terapeutik dalam konteks pemahaman terhadap struktur kepribadian dan psikodinamik-psikodenamik itu memungkinkan analisis bisa merumuskan sifat sesungguhnya dari masalah klien. Salah satu fungsi utama analisis adalah mengajarkan arti proses-proses ini kepada klien sehingga klien mampu memperoleh pemahaman terhadap masalah-masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara untuk berubah.
3. Pengalaman klien dalam terapi
Klien harus bersedia melibatkan diri ke dalam proses terapi yang intensif dan berjangka panjang. Biasanya klien mendatangi terapi beberapa kali seminggu dalam masa tiga sampai lima tahun, yang dalam pertemuan biasanya berlangsung satu jam. Setelah beberapa kali tatap muka, kemudian klien diminta berbaring melakukan asosiasi bebas, yakni mengatakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Proses asosiasi bebas diketahui sebagai “aturan yang fundamental”. Pada saat berbaring, klien melaporkan perasaan-perasaan, pengalaman-pengalaman, asosiasi-asosiasi, ingatan-ingatan, dan fantasi-fantasinya.
Klien mencapai kesepakatan dengan analisis mengenai pembayaran biaya terapi, mendatangi pertemuan terapi pada waktu tertentu, dan bersedia terlibat dalam proses intensif. Klien sepakat untuk berbicara karena produksi verbal klien merupakan esensi terapu psikoanalitik. Klien secara khusus diminta untuk mengubah gaya hidupnya selama periode analisis.
Selama terapi klien bergerak melalui tahap-tahap tertentu: mengembangkan hubungan dengan analisis, mengalami krisis treatment, memperoleh pemahaman atas masa lampaunya yang tak disadari, mengembangkan resistansi-resistansi untuk balajar lebih banyak tentang diri sendiri, mengembangkan suatu hubungan transferensi dengan analisis, memeperdalam terapi, menangani terapi, menangani resistansi-resistansi dan masalah yang tersingkap, dan mengakhiri terapi.
4. Hubungan antara terapis dan klien
Hubungan klien dengan analisis dikonseptualkan dalam proses transfernsi yang menjadi inti pendekatan psikoanalitik. Jika terapi diinginkan memiliki pengaruh menyembuhkan, maka hubungan transferensi harus digarap. Dimensi utama dari proses penggarapan adalah hubungan transferensi, yang membutuhkan waktu untuk membangunnya serta membutuhkan tambahan waktu untuk memahami dan melarutkannya, maka penggarapannya memerlukan jangka waktu yang panjang bagi keseluruhan proses terapeutik.
Jika analisis mengembangkan pandangan-pandangan yang tidak selaras yang berasal dari konflik-konfliknya sendiri, maka akan terjadi kontratransferensi. Kontratransferensi bisa terdiri dari perasaan tidak suka atau keterikatan dan keterlibatan yang berlebihan. Kontratranferensi dapat mengganggu kemajuan terapi karena reaksi-reaksi dan masalah-masalah analisis sendiri akan menghambat penanganan masalah-masalah klien.
Analisis dianggap telah berkembang mencapai taraf dimana konflek-konflik utamanya sendiri terselesaikan, dan karenanya dia mampu memisahkan kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalahnya sendiri dari situasi terapi. Jika analisis tidak mampu mengatasi kontratranferensi, maka dia menganjurkan agar kembali menjalankan analisis pribadi.

D. PENERAPAN: TEKNIK-TEKNIK DAN PROSEDUR-PROSEDUR TERAPEUTIK
1. Asosiasi bebas
Teknik utama terapi psikoanalitik adalah asosiasi bebas. Disini klien diminta melaporkan segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Klien diminta untuk mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya, seperti pikiran, harapan, dan lain-lain, walaupun kelihatannya hal-hal tersebut tidak penting, tidak logis, menyakitkan, ataupun menggelikan. Freud memikirkan bahwa asosiasi bebas ini ditentukan oleh suatu sebab, bukan hal yang acak. Tugas analislah untuk melacak asosiasi ini sampai kesumbernya dan mengidentifikasi suatu pola sebenarnya yang tadinya hanya terlihat sebagai rangkaian kata yang tidak pasti. Terlepasnya emosi yang kuat, yang selama ini ditekan pada situasi terapeutik inipun kemudian disebut sebagai katarsis.
Cara yang khas ialah klien berbaring diatas balai-balai sementara analisis duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi-asosiasinya mengalir bebas.
Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau, yang dikenal dengan sebutan katarsis. Hal ini dilakukan guna membantu klien dalam memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif, analis menafsirkan makna-makna utama dari asosiasi bebas ini.
Selama asosiasi bebas berlangsung, tugas analis adalah mengenali bahan yang direpres dan dikurung di dalam ketaksadaran. Analisis menafsirkan peristiwa-peristiwa yang dialaminya dan menyampaikannya kepada klien, membimbing klien kearah peningkatan pemahaman atas dinamika-dinamika yang mendasarinya yang tidak disadari oleh klien.
2. Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam meganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan tranferensi-transferensi. Prosedurnnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran-penafsiran analisis menyebabkan pemahaman dan tidak terhalangi bahan tak sadar pada pihak klien.
3. Analisis mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan mengistimewa menuju ketaksadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari, diungkapkan.
Analisa terhadap mimpi ini biasanya dilandasi oleh konsep psikoseksual, serta termuat isu gender. Contohnya adalah mimpi mengenai sebuah pohon dapat diinterpretasikan sebagai keinginan untuk mengekspresikan dorongan seksual apabila diimipikan oleh laki-laki, atau representasi dari keinginan untuk memiliki superioritas laki-laki bila dimimpikan oleh perempuan. Dalam hal ini, pohon dipandang sebagai representasi dari alat kelamin laki-laki.
4. Analisis dan penafsiran resistensi
Resistensi merupakan sebuah konsep yang fundamental dalam praktek psikoanalitik adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Sebagai pertahanan terhadap kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalitik dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran klien.
5. Analisis dan penafsiran transferensi
Sama halnya dengan resistensi, transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Analisis transferensi yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi.
Transference adalah saat pasien mengembangkan reaksi emosional keterapis. Hal ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis sebagai seseorang dimasa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive transference apabila perasaan itu adalah perasaan saying atau kekaguman, serta negative transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan dan kecemburuan.

E. DAMPAK PSIKOANALISIS PADA MASA KINI
Psikoanalitis adalah gerakan unik dalam psikologi. Gerakan ini berkembang dari modal aktifitas mental yang juga menghasilkan psikologi aksi dan gerakan Gestalt di Jerman. Dan juga mengembangkan pandangan dari kebutuhan-kebutuhan para penderita penyakit mental.
Psikoanalisis berpengaruh besar dalam seni, sastra, dan filsafat. Pengaruh ini mencerminkan konstribusi besar Freud: analisis komprehansifnya tentang ketidak sadaran. Sesuai dengan itu, karya sastra dan musik di interprestasi berkaitan dengan aktivitas ketidaksadaran sang seniman, serta kesan ketidaksadaran si peminat.
























BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Sejarah pemikiran dan pandangan Freud tentang naluri agresifatau naluri destruktif ini sangatlah rumit. Kekurangan tertentu dalam kapasitas psikis kita yang karakteristik umumnya masih perlu deselidiki lebih lanjut dan beberapa tindakan yang tampaknya tidak disengaja ternyata dapat dibuktikan memiliki motivasi yang kuat setelah diteliti secara psikoanalisis dan motivasi itu dapat diketahui dengan melakukan penyadaran terhadap motif-motif yang tidak sadar.
Gerakan psikoanalitik memperkenalkan studi tentang proses-proses ketidaksadaran yang mempengaruhi aktivitas manusia, gerakan tersebut sangat konsisten dengan model aktivitas mental di Jerman yang berasal dari tulisasan-tulisan Leibniz dan Kant. Psikoanasisis menekankan tujuan keseimbangan homeostatik energi-energi ketidak sadaran dalam kepribadian.
Teknik yang dipakai oleh teori psikoanalisis yang digunakankan oleh Sigmund freud yaitu teknik asosiasi bebas, transperensi, analisis mimpi, penapsiran dan resistensi.
Para teoritis lain memodifikasi teori Freud dan memasukkan teori budaya serta kebutuhan sosial. Selain itu, para cendikiawan mengintegrasikan model psikoanalitik dengan pendekatan lapangan dan asumsi eksistensial.

B. SARAN
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kebenarannya, maka penulis menyarankan kepada pembaca untuk selanjutnya agar lebih baik lagi.





DAFTAR PUSTAKA

- Brennan, James F. 2006, Sejarah dan Sistem Psikologi, Jakatra: PT RajaGrafindo Persada.
- Corey, Gerald, 2009, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung: PT Refika Aditama.
- Freud, Sigmund, 2002, civization and its Discontents, Yogyakarta: Penerbit Jendela.
- Freud, Sigmund, 2005, Psikopatologi dalam kehidupan sehari-hari, Pajuruan: Penerbit Pendati.
- McLEOD, John, 2006, Pengantar Konseling, Jakarta: Kencana.
- http://sil-lmg.com/article-category/psikologi-a-pendidikan/20-psikoanalisis-freud
- http://apadefenisinya.blogspot.com/2009/02/teori-konseling-psikoanalisa.html