Minggu, 11 April 2010
PSIKOSA FUNGSIONAL
Psikosa fungsional/psikosis ialah penyakit mental yang parah, dengan ciri khas adanya disorganisasi proses berfikir, gangguan emosional, disorientasi waktu, ruang dan person dan beberapa kasus disertai halusinasi dan delusi.
Psikosa fungsional merupakan penyakit mental secara fungsional yang berat dan non-organik sifatnya, ditandai oleh disentegrasi kepecahan kepribadian dan maladjustment sosial yang berat orangnya tidak mampu mengadakan relasi dengan dunia luar, sering sering terputus sama sekali dengan realitas hidup, lalu menjadi inkom peten secara sosial.
Sebab-sebab psikosa fugsional
a. konstitusi pembawaan mental dan jasmaniah yang herediter, yaitu diwarisi, yaitu diwarisi orang tua atau generasi sebelumnya yang psikotis. Jumlahnya kurang lebih 50dari semua penderita.
b. Kebiasaan-kebiasaan mental yang buruk, dan mengembangkan pola-pola kebiasaan yang salah sejak masa anak-kanak.
A. Schizofrenia
ShizofreniaAdalah nama umum untuk sekelompok reaksi-reaksi psikotis. Dicirikan oleh penarikan diri, gangguan/kekacauan pada kehidupan emosinal dan efiktif, disertai halusinasi dan delusi-delusi, tingkah laku negatifitas dan kerusakan/kemunduran jiwani yang progresif. Sizoferenia juga merupakan bentuk kegilaan dengan disentegrasi pribadi, tingkah laku emosional dan intelektual yang ambigious dan terganggu secara serius. Ada beberapa jenis shizofrenia yaitu:
a. shizofrenia Hebefrinik (penumpulan mental atau jiwa)
cirri-ciri shizofrenia hebefrenik ialah:
- reaksi sikap dan tingkah laku yang kegila-gilaan, suka tertwa, mudah tersinggung dan mengakibatkan kemarahan.
- Pikiran selalu melantur, berhalusinasi, dan sering berlagak sok dan ada regresi.
- Terjadi regresi degenerasi secara total dan kekana-kanakan.
b. shizofrenia catatonikc (kaku tertahan-tahan)
cirri-ciri shizofrenia jenis ini adalah
- urat-uratnyajadi kaku, yaitu badan jadi kaku seperti malam, cendrung kearah negativisme ekstrim.
- sering mengalami catdlepsy, yaitu dalam tidak sadar seperti kondisi trance; seluruh badanya jadi kak, tidak pejal dan tidak bisa membengkokkan.
c. Schizpfrenia paranoid
cirri-ciri schzofrenia jenis iniadalah
- penderita diliputi maca-macam delusi dan halusinasiyang terus-menerus berganti coraknya dan tidak beratur sifatnya.
- Emosi pada umumnya beku dan sangat apatis.
B. Psikosa Manis-depresif
Shizofrenia paranoid adalah bentuk ketakutan/atau penyakit mental serius berupa gangguan emosioanal dan suasana ekstrim, yang terus-menerus bergerak gembira-ria, tertawa-tawa/elation, sampai pada rasa depresi, sedih, putus asa.
C. Psikosa Paranoia
Psikosa pranoia ialah gangguan mental amat serius, dicrikan dengan timbulnya banyak delusi penyiksaan (delusion of persecution) atau delusi besaran yang “disistematiskan” dengan kemerosotan jiwani ringan dan ide fixed yang kaku dan salah.
- Agresi adalah kemarahan yang meluap-luap dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.
- regresi ialah prilaku yang surut kembali pada pola-reaksi atau tingkat perkembangan yang premitif, yang tidak adekuat, pada pola tingkah laku kekanak-kanakan, infatil, dan tidak sesuai tingkat usianya.
- fexatie (fixation)
Fikasi adalah pelekatan dan pembatasan pada suatu pola tingkah lakuresponsif yang tetap, sehingga tingkah laku menjadi stereotipis kaku.
- rasionalisasi dan self-justification (pembenaran diri)
Rasionalisasi ialah cara menolong diri sendiri secara tidak wajar tau teknik pembenaran dengan tidak rasional.
- identifikasi ialah merupakan usaha mempersamakan diri sendiri orang yang dianggap sukses dalam hidupnya.
- Narsism ialah cinta diri yang ekstrim, paham yang menganggap diri sendiri sangat superior dan amat penting.
- Sour crape Technique (teknik anggur asam) yaitu merupakan usaha memberikan atribut yang jelek, tidak berharga atau negatif pada obyek yang tidak bisa ia capaikan, sungguh pun obyek tadi sangat didinginkan.
- Sweet orange technique (tehnik jeruk manis) ialah usaha memberikan atribut yang bagus, unggul, yang berlebih-lelebihan pada suatu keggalan dan kelemahan sendiri
- Autisme adalah gejola menutup diri sendiri secara total.
- Besinung ialah berfikir secara mendalam dengan wawasan tajam dan jernih, serta menggunakan akal budi dan kebijaksanaan, sehingga tersusun dari aktifitas-aktifitasnya.
- Resignation ialah tawakal dan pasrah pada ilahi “pasrah dan menerima” berarti menerima situasi dan kesulitan yang dihadapi dengan sikap rasional dan sikap ilmiah.
- Frustasi ialah penghalangan tingkah laku yang tengah berusaha mencapai suatu tujuan.
Psikosa fungsional/psikosis ialah penyakit mental yang parah, dengan ciri khas adanya disorganisasi proses berfikir, gangguan emosional, disorientasi waktu, ruang dan person dan beberapa kasus disertai halusinasi dan delusi.
Psikosa fungsional merupakan penyakit mental secara fungsional yang berat dan non-organik sifatnya, ditandai oleh disentegrasi kepecahan kepribadian dan maladjustment sosial yang berat orangnya tidak mampu mengadakan relasi dengan dunia luar, sering sering terputus sama sekali dengan realitas hidup, lalu menjadi inkom peten secara sosial.
Sebab-sebab psikosa fugsional
a. konstitusi pembawaan mental dan jasmaniah yang herediter, yaitu diwarisi, yaitu diwarisi orang tua atau generasi sebelumnya yang psikotis. Jumlahnya kurang lebih 50dari semua penderita.
b. Kebiasaan-kebiasaan mental yang buruk, dan mengembangkan pola-pola kebiasaan yang salah sejak masa anak-kanak.
A. Schizofrenia
ShizofreniaAdalah nama umum untuk sekelompok reaksi-reaksi psikotis. Dicirikan oleh penarikan diri, gangguan/kekacauan pada kehidupan emosinal dan efiktif, disertai halusinasi dan delusi-delusi, tingkah laku negatifitas dan kerusakan/kemunduran jiwani yang progresif. Sizoferenia juga merupakan bentuk kegilaan dengan disentegrasi pribadi, tingkah laku emosional dan intelektual yang ambigious dan terganggu secara serius.
a. shizofrenia Hebefrinik (penumpulan mental atau jiwa)
cirri-ciri shizofrenia hebefrenik ialah:
- reaksi sikap dan tingkah laku yang kegila-gilaan, suka tertwa, mudah tersinggung dan mengakibatkan kemarahan.
- Pikiran selalu melantur, berhalusinasi, dan sering berlagak sok dan ada regresi.
- Terjadi regresi degenerasi secara total dan kekana-kanakan.
- shizofrenia catatonikc (kaku tertahan-tahan)
cirri-ciri shizofrenia jenis ini adalah
- urat-uratnyajadi kaku, yaitu badan jadi kaku seperti malam, cendrung kearah negativisme ekstrim.
- sering mengalami catdlepsy, yaitu dalam tidak sadar seperti kondisi trance; seluruh badanya jadi kak, tidak pejal dan tidak bisa membengkokkan.
c. Schizpfrenia paranoid
cirri-ciri schzofrenia jenis iniadalah
- penderita diliputi maca-macam delusi dan halusinasiyang terus-menerus berganti coraknya dan tidak beratur sifatnya.
- Emosi pada umumnya beku dan sangat apatis.
B. Psikosa Manis-depresif
Shizofrenia paranoid adalah bentuk ketakutan/atau penyakit mental serius berupa gangguan emosioanal dan suasana ekstrim, yang terus-menerus bergerak gembira-ria, tertawa-tawa/elation, sampai pada rasa depresi, sedih, putus asa.
- Psikosa Paranoia
Psikosa pranoia ialah gangguan mental amat serius, dicrikan dengan timbulnya banyak delusi penyiksaan (delusion of persecution) atau delusi besaran yang “disistematiskan” dengan kemerosotan jiwani ringan dan ide fixed yang kaku dan salah.
- Agresi adalah kemarahan yang meluap-luap dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.
- regresi ialah prilaku yang surut kembali pada pola-reaksi atau tingkat perkembangan yang premitif, yang tidak adekuat, pada pola tingkah laku kekanak-kanakan, infatil, dan tidak sesuai tingkat usianya.
- fexatie (fixation)
Fikasi adalah pelekatan dan pembatasan pada suatu pola tingkah lakuresponsif yang tetap, sehingga tingkah laku menjadi stereotipis kaku.
- rasionalisasi dan self-justification (pembenaran diri)
Rasionalisasi ialah cara menolong diri sendiri secara tidak wajar tau teknik pembenaran dengan tidak rasional.
- identifikasi ialah merupakan usaha mempersamakan diri sendiri orang yang dianggap sukses dalam hidupnya.
- Narsism ialah cinta diri yang ekstrim, paham yang menganggap diri sendiri sangat superior dan amat penting.
- Sour crape Technique (teknik anggur asam) yaitu merupakan usaha memberikan atribut yang jelek, tidak berharga atau negatif pada obyek yang tidak bisa ia capaikan, sungguh pun obyek tadi sangat didinginkan.
- Sweet orange technique (tehnik jeruk manis) ialah usaha memberikan atribut yang bagus, unggul, yang berlebih-lelebihan pada suatu keggalan dan kelemahan sendiri
- Autisme adalah gejola menutup diri sendiri secara total.
- Besinung ialah berfikir secara mendalam dengan wawasan tajam dan jernih, serta menggunakan akal budi dan kebijaksanaan, sehingga tersusun dari aktifitas-aktifitasnya.
- Resignation ialah tawakal dan pasrah pada ilahi “pasrah dan menerima” berarti menerima situasi dan kesulitan yang dihadapi dengan sikap rasional dan sikap ilmiah.
- Frustasi ialah penghalangan tingkah laku yang tengah berusaha mencapai suatu tujuan.
Selasa, 06 April 2010
psikopat kesehatan mental
A. Latar Belakang
Psikopat adalah suatu gejala kelainan kepribadian yang sejak dulu dianggap berbahaya dan mengganggu masyarakat. Psikopat bukan hanya yang bersifat kriminal atau seksual, melainkan juga yang non-kriminal dan non-seksual. Justru tipe yang nampaknya tidak berbahaya, tampil seperti orang bisa, bahkan dengan prilaku yang menarik itulah yang lebih sering merugikan masyarakat. Itulah pula yang kadang-kadang menimbulkan kontroversi tentang istilah. Kebanyakan pakar menambahkan gejala ini “Psikopat” (karena yang menderita kalainan [patologik] adalah jiwa individualnya [Psyche], sementara sebagian pakar lain lebih suka menamakannya “Sosiopat” (karena melanggar norma sosial, dan masyarakat [society]-lah yang akhirnya menjadi korban).
Psikopat sebagai gejala kelainan kepribadian eksis dalam jurnal-jurnal ilmiah. Bahwa pengaruh awam besar terhadap dunia ilmu Psikopat, ternyata bukan hanya terbatas dalam pendefinisian dan pendeskripsian kelainan jiwa itu saja, melainkan juga dalam hal terapi dan pencegahannya, sebagaimana akan dibahas dalam bagian lain dari makalah ini.
Laporan lain mengenai faktor penyebab Psikopat dikemukakan oleh Kirkman (2002). Menurut Kirkman, yang penting adalah mempelajari faktor-faktor penyebab dari Psikopat-psikopat yang di luar rumah sakit atau penjara, sebab mereka ada di tangah-tangah masyarakat dan bisa langsung merugikan masyarakat. Menurut penelitiannya, mereka yang berkeperibadian Psikopat mempunyai latar belakang masa kecil yang tidak memberi peluang untuk perkembangan emosinya secara optimal. Anak-anak yang tidak dididik dan diasuh sedemikian rupa sehingga emosinya berkembang dengan baik, akan tumbuh menjadi orang-orang yang tidak bisa berempati dan tidak mempunyai kata hati (conscience). Dengan perkataan lain, mereka akan menjadi orang dengan kepribadian Psikopat.
B. Pengertian Psikopat
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit, pengidapnya disebut sosiopat karena prilakunaya anti sosial. Psikopat berasal dari kata pycopath adalah kelainan kejiwaan pada seseorang sehingga seolah-olah memusuhi masyarakat dan mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan masyarakat.
Dan ada pula yaitu psychopathic adalah reaksi seseorang yang sedang bertindak dan melanggar hukum dalam upaya mengatasi pantasi.
Atau kata dari psychopathy adalah kekalutan mental yang ditandai dengan tindak adanya pengorganisasian sosial dan pengintekrasian pribadi, pribadinya anti sosial tidak bisa bertanggung jawab secara moral, selalu konflik dengan norma-norma, karena sepanjang kehidupannya berada dalam lingkungan sosial yang in-moral. Meliputi perasaan benci, dendam, dikejar-kejar gelisah penuh ketakutan, kacau, merasa bersalah, berdosa dan tidak memiliki rasa kemanusiaan.[1]
Psikopat adalah bentuk kekalutan mental di tandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi, orang yang tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral. Dengan adaptasi sosial yang tidak normal, dan selalu konflik dengan norma-norma sosial dan hukum, karena sepanjang hayatnya ia hidup dalam “lingkungan sosial yang abnormal dan immoral” yang diciptakan oleh angan-angan sendiri.[2]
C. Gejala dari Psikopat
Gangguan kepribadian anti sosial adalah sebutan diagnosis untuk masalah yang akan dibicarakan dalam bagian ini, tetapi individu yang mengalami gangguan ini bisanya di sebut sebagai orang psikopat atau sosiopat, yang mengalami anti sosial adalah orang yang tidak memiliki kematangan dan rasa tanggung jawab, tidak mampu memilih akibat-akibat dari tingkah laku. Diagnosis ini mencakup tingkah laku yang secara tradisional diklasifikasikan sebagai “keadaan psikopat konstitusional” atau kepribadian psikopatik.
1. SesEorang individu harus berusiA 18 tahun sebelum di diagnosis sebagai orang yang menderita gangguan antisosial karena kita yakin bahwa individu pada usia tersebut memiliki peluang untuk mempelajari apa itu tingkah laku yang tidak tepat.
2. Tingkah laku demkuen (bersifat selalu melanggar aturan) atau kriminal melainkan peran yang sangat penting dalam menentukan diagnosis.[3]
Pada gaibnya, orang-orang psikopat itu masa mudanya secara minim sekali bahkan hampir sama sekali tidak peRnah mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya.
Selama 5 tahun pertama dia tidak pernah merasakan kelembutan-kelembutan kemesraan kasih, sehingga untuk selama-lamanya individu yang bersangkutan kehilangan atau tidak sanggup mengembangkan kemampuan menerima dan memberikan cinta-kasih dan simpati, maka sepanjang hidup sampai usia dewasa dan tua, dia kehilangan perasaan (sosialitas) dan rasa kemanusiaannya. Dia tidak mampu menjalin relasi human dengan siapapun juga. Perasaannya selalu tidak senang dan tidak puas.
Jiwanya senantiasa diliputi rasa benci, iri, dendam, curiga, rasa dikejar-kejar dan dituduh. Sehingga jiwanya menjadi gelisah, tegang, penuh ketakutan, lalu menjadi kacau-balau, serta diliputi bayangan fikiran dan perasaan yang kegila-gilaan. Terjadilah kemudian disentegrasi dan organisasi kepribadian tanpa memiliki rasa sosial dan rasa kemanusiaan yang wajar.[4]
D. Kriteria Diagnosis untuk Gangguan Kepribadian Anti-sosial.[5]
1. Usia individu sekurang-kurangnya 18 tahun
2.
3. Suatu pola sikap acuh tak acuh yang perkasif dan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain yang terjadi pada usia 18 tahun seperti yang di perlihatkan sebagai berikut :
a. Tidak mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial berkenaan dengan tingkah laku yang sesuai dengan hukum yang seperti dinyatakan dengan berkali-kali melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadi dasar untuk penahanan.
b. Sifat lekas moral dan agresif, seperti dinyatakan dengan berkali-kali mengadakan perkelahian dan penyerangan fisik.
c. Selalu tidak bertanggung jawab, seperti dinyatakan dengan ketidak mampuan mempertahankan tingkah laku yang tetap dibidang pekerjaan atau memenuhi kewajiban-kewajiban di bidang keuangan.
d. Melakukan tindakan menurut kata hati (bersifat impulsif) dan tidak mampu merencanakan sebelumnya.
e. Penipuan, seperti dinyatakan dengan berkali-kali berbohong, menggunakan nama-nama lain atau menipu orang lain untuk keuntungan atau kesenangan pribadi.
f. Kesemberonoan dengan tidak memperhatikan keselamatan diri sendiri dan orang lain.
g. Tidak ada rasa penyesalan, seperti dinyatakan dengan sikap acuh tak acuh atau rasionalsasi terhadap perbuatan yang menyakiti, menganiaya, atau mencuri dari orang lain.
4. Peristiwa tingkah laku anti sosial itu tidak terjadi hanya pada waktu episode skizofrenia atau efisode mania.
E. SINTOM.[6]
Sintom-sintom gangguan kepribadian antisocial dapat di klasifikasikan dalam 3 kelompok :
1. Sintom suasana hati
a. Yang sangat penting dalam gangguan kepribadian anti sosial adalah tidaknya kecemasan atau rasa bersalah. Juga disebut dengan tidak memiliki “suasana hati” misalnya ia tidak mengembalikan uang pinjaman atau membunuh orang dia tidak cendrung menjadi “bebas”. Impulsive, dan bersikap masa bodoh.
b. Orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial hedonistis (mencari kesenangan). Ia kelihatan dibimbing oleh ucapan, “aku akan memperoleh apa yang kuinginkan bila aku menginginkannya” dan ia sering melukai orang-orang yang ada disekitarnya.
c. Kendala perasaan-perasaan dan tidak ada cinta emosional terhadap orang lain.
2. Sintom kognitif
Sesuatu yang penting diketahui adalah orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian kelihatan sangat cerdas, memiliki keterampilan verbal dan sosial yang berkembang dengan baik dan memiliki kemampuan untuk merasionalisasikan tingkah laku yang tidak tepat sehingga kelihatan masa masuk akal dan dapat dibenarkan.
3. Sintom motor
Karena orang yang mengalami gangguan kepribdian antisocial tidak cemas, maka ia bertingkah laku impulsive. Suatu hal yang menarik yaitu tingkah lakunya mencari sensasi yang tinggi dia hanya mencari kesenangan sendiri.
Adapula sintom-sintomya antara lain.[7]
1. Tingkah laku dan reaksi sosialnya selalu asosial eksentrik (kegila-gilaan), dan khronisnya paralogis. Dia tidak memiliki kesadaran sosial dan inteligensi-sosial. Sangat stereotipis tingkah lakunya, dan fanatic. Dia amat individualistic/egostis, dan selalu menentang lingkungan kultural serta norma-norma etis.
2. Sikap aneh-aneh, dia sering berbuat keras, bertingkah laku kegiatan-kegiatan, kurang ajar, dan ganas buas terhadap siapapun tanpa suatu sebab. Sikapnya selalu tidak menyenangkan orang lain, dan selalu kriminal, yang pada umumnya tidak bisa di perbaiki lagi
3. Dia suka ngeloyor atau mengembara kemana-mana tanpa tujuan, dan berbahaya bagi lingkungannya
4. Pribadinya tidak stabil responnya selalu tidak ada yang kuat/tepat, dia tidak bisa di percaya. Penilaiannya terhadap kehidupan dan sikap hidupnya selalu negative, dia tidak bisa belajar dari hukuman dan pengalaman-pengalaman yang lampau, dan tidak mampu memahami arti kebaikan serta kesusilaan.
5.
6. Ia tidak pernah bisa bersikap loyal terhadap seseorang, kelompok atau kode-kode etik tertentu
7. Emosinya tidak matang, sering tanpa perasaan. Dia tidak pernah bisa bertanggung jawab, dan selalu memakai makanisme rasionalisasi untuk membenarkan tingkah lakunya yang kegila-gilaan.
8. Sering kali perilakunya dicirikan dengan penyimpangan seksualitas dalam bentuk homoseksualitas, transvestitisme (nafsu patologis untuk mamakai dari jenis kelamin lawannya, dan mendapatkan kepuasan seks dengannya), fatisjisme (pemuasan nafsu seks dengan memanipulasikan satu benda sebagai pengganti-kekasih), sedisme, serangan dan perkosaan seksual, pembunuhan dan pengrusakan jasad orang lain karena motif-motif seks.
Mengingat ciri individu psikopat yang serba mengerikan dan abnormal itu, dengan sendirinya mereka mejadi masalah sosial dan bahaya aktual bagi keluarga, lingkungan dekat, dan lingkungan masyarakat pada umumnya.
F. Penyebab
Telah dikemukakan tiga pendekatan untuk menjelaskan penyebab dari gangguan kepribadian antisocial, yakni pendekatan psikodinamik, pendekatan belajar, dan pendekatan fisiologis.
1. Pendekatan Psikodinamik
Pendekatan psikodinamik tradisional memberikan dua penjelasan mengenai gangguan kepribadian antisocial (Fenichel, 1945). Pertama, dengan menggunakan pendekatan struktural dan Freud terhadap kepribadian, beberapa ahli telah mengemukakan bahwa orang yang mengalmi gangguan kepribadian antisosial adalah kurang cemas dan kurang merasa bersalah karena ia tidak mengembangkan superego yang kuat. Kedua, penjelasan psikoanalisis tantang gangguan kepribadian antisosil bertolak dari pendekatan Freud terhadap kepribadian yang mengemukakan bahwa tingkah laku-tingkah laku impulsif, hedonistis, serta kekanak-kanakan yang diperhatikan oleh orang yang menderita gangguan kepribadian antisosial terjadi karena ia telah melekat pada tahap awal perkembangan psikoseksual.
2. Pendekatan Belajar
- Teori kekurangan dalam pengondisian klasik. Teori ini dimulai dengan gangguan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang terkondisi secara klasik, dan orang yang menderita gangguan kepribadian antisosial kurang merasa cemas karena kemampuannya untuk mengembangkan respon-respon yang terkondisi secara klasik kurang (lemah).
- Teori pengindaran kecemasan yang terkondisi secara operan. Teori ini mulai dengan dalil bahwa selama masa kanak-kanan yang normal, anak-anak dihukum karena tingkah laku yang buruk dan dalam usaha untuk menghindari hukuman dan kecemasan yag berkaitan dengan hukuman itu, anak-ank berhenti untuk bertingkah laku buruk dan kemudian bertingkah laku dengan tepat.
3. Pendekatan Fisiologis
Teori fisiologis mengemukakan bahwa orang-orang yang menderita gangguan kepribadian antisosial disebabkan oleh ”rangsangan neurologis yang kurang” (neurological underarousal). Rangsangan neurologis yang kurang itu digunakan untuk menjelaskan kecemasan yang relatif kurang yang kelihatan pada orang-orang yang mengalami gangguan tersebut.
Rangsangan elektrokortikal. Rangsangan elektrokortikal mengacu pada tingkat-tingkat aktivitas listrik pada otak dan aktivitsas ini diukur dengan rekaman-rekaman (EEG) (electroencephalogram). Masalah-masalah mengenai abnormalitas-abnormalitas itu dapat dihubungkan dengan gambaran sintom dalam gangguan kepribadian antisosial.
1. Abnormalitas-abnormalitas EEG. EEG dari orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial telah diperiksa dalam banyak penelitian dan hasilnya menunjukkan bahwa kejadian abnormalitas-abnormalitas EEG yang tinggi diantara orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial ditemukan pada setiap penelitian yang diperoleh dari penelitian-penelitian terhadap orang-orang normal, maka kejadian abnormalitas EEG pada orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial kelihatannya tiga kali lebih besar dibandingkan dengan angka yang terdapat pada orang-orang normal.
2. Hubungan antara abnormalitas-abnormalitas EEG dengan tingkah laku. Kemungkinan lebih besar orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial memperlihatkan EEG yang abnormal dibandingkan orang-orang normal karena jika abnormalitas EEG relevan untuk gangguan tersebut maka harus ada.
G. Perawatan
1. Pendekatan Psikodinamik
Para terapis yang berorientasi pada pendekatan psikodinamik berusaha memberikan figur-figur orang tua yang sportif, kuat, dan bertingkah laku tepat untuk pasien-pasien mereka yang mengalami gangguan kepribadian antisosial. Tujuannya ialah untuk membantu pasien mengidentifikasikan diri dengan terapis, dan dengan berbuat demikian pasien dapat mengambil sifat-sifat yang tepat dan matang dari terapis. Kemudian dalam perawatan terapis yang berorientasi pada pendekatan psikodinamik berfokus pada usaha mengembangkan pematangan melalui identifikasi dan bukan pada usaha memecahkan masala-masalah melalui pemahaman seperti yang dilakukan terhadap pasien-pasien lain.
2. Pendekatan Belajar
Teori belajar mengemukakan bahwa orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial kurang mengembangkan respon-respon kecemasan yeng terkondisi secara klasik dan dengan demikian tidak belajar menghindari tingkah laku-tingkah laku yang tidak tepat. Karena itu intervensi-intervensi terapeutik yang bertolak dari pengondisian klasik tidak bermanfaat.
3. Pendekatan Fisiologis
Teori fisiologis mengemukakan bahwa gangguan kepribadian antisosial terjadi karena korteks kurang terangsang (cortical underarousal) sehingga orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial tidak mengondisikan dengan baik dan sering melakukan tingkah laku-tingkah laku yang tidak tepat untuk meningkatkan rangsangan. Bahwa pasien-pasien dapat dirawat dengan obat-obat stimulan kortikal yang akan meningkatkan kerentanan terhadap pengondisian dan mengurangi kebutuhan akan perangsangan.
DAFTAR PUSTAKA
Sudarsono, Kamus Konseling, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1997.
Kartini Kartono, Hyglene Mental, Bandung : Mandar Maju, 2000
Yustinus Semiun, Kesehatan Mental 2, Yogyakarta : Kanisius, 2006.
[1]Sudarsono, Kamus Konseling,
[2]Kartini Kartono, Hyglene Mental, Bandung : Mandar Maju, 2000, hal. 91.
[3]Yustinus Semiun, Kesehatan Mental 2, Yogyakarta : Kanisius, 2006, hal. 20.
[4] Kartinbi Kartono, Op.cit, hal. 91-92.
[5]Yustinus Semiun, Op.cit, hal. 29-31
[6]Ibid, hal. 32.
[7] Kartini Kartono, Op.cit, hal. 92-93
Minggu, 21 Maret 2010
RESPONDING AND PROBING

RESPONDING AND PROBING
BY: DAHLIA
A. RESPONDING
Responding asalah suatu tanggapan atau respon dalam proses bimbingan dan konseling, dimana antara konselor dank lien memberikan suatu respon untuk melatih dan mengawasi dalam rangka memaksimalkan frekuensi dalam suasana konseling.
Clara Hill dan para koleganya telah menyusun daftar panjang respon konselor maupun klien (Jhon McLEOD, 2008, 385) yaitu:
Kategori Respon Verbal Terapis
- Persetujuan: respon ini dapatmenimbulkan simpati atau kcenderungan menenangkan dengan cara meminimalisasi masalah klien. Memeberikan dukungan emosional, persetujuan, penegasan, dan pengukuhan.
- Informasi: suplay informasi dalam berntuk data, fakta, atau sumber daya. Hal ini bisa jadi terkait dengan proses terapi, perilaku terapis, atau kesepakatan terapi (waktu, honor, tempat).
- Bimbingan langsung: ini adalah arahan atau saran yang diberikan terapis keada kllien berkenaan dengan apa yang harus dilakukan baik didalam sesi maupun di luar sesi konseing.
- Pertanyaan tertutup: mengumpulkan data atau informasi yang spesifik respon klien akan menjadi terbatas dan spesifik.
- Pertanyaan terbuka: pertanyaan untuk mendapatkan klarifikasi atau penjelasan oleh klien.
- Parafrasa: mencerminkan atau meringkas apa yang telah dikomunikasikan oleh klien baik secara verbal maupun non verbal. Tidak melampau apa-apa yang diucap klien atau menambahkan perspektif baru atau mengganti pertanyaan klien atau memberi penjelasan apapun untuk prilaku klien.
- Interprestasi: melampau apa yang telah dikenal oleh klien secara terbuka dan memberikan alasan, makna alternatif, atau kerangka kerja batu untuk perasaan, perilaku kepribadian
- Konfrontasi: menguak diskrepansi atau kontraksi tapi tidak menghadirkan alasan untuk diskrepansi tersebut.
- Menbuka Diri: berbagi perasaan atau pengalaman pribadi.
Kategori Respons Verbal Klien
- Renspons Sederhana: frasa pendek, terbatas, yang dapat sja mengindikasikan kesepakatan, pengumuman persetujuan apa yang telah diucapkan terapis, mengindikasikan ketidaksetujuan atau ketidak sepakatan atau merespons secara singkat pertanyaan terapis dengan informasi atau fakta tertentu.
- Permintaaan: percobaan untuk mendapatkan informasi atau saran atau untuk meletakkan tanggung jawab yang berat sebagai solusi permasalahan dari pihak terapis.
- Deskripi: mendiskusikan sejarah, peristiwa atau kecelakaan yang berhubungan dengan problem dengan menggunaka gaya narasi atau bercerita.
- Pengalaman: secara efektif mengeksplorasi perasaan, perilaku atau reaksi berkenaan dengan diri atau masalah, tapi tidak mencakup pemahaman kausalitas.
- Mengeksplorasi Hubungan Klien-Terapis: mengindikasikan perasaan, reaksi, sikap atau perilaku yang berkaitan dengan terapis atau situasi terapeutik.
- Pemahaman: mengindikasikan kemampuan klien untuk memahami atau mamapu meliha tema, pola atau hubungan kausalitas salam perilaku atau kepribadiannya, atau dalam perilaku atau kepribadian orang lain.
- Diskusi Rencana: merujuk kepada rencana berorientai aksi, keputusan, target masa depan dan perkiraan hasil dari rencana tersebut.
- Diam: diam sekitar empat atau lima detik antara pernyataan terapis dan pernyataan klien , atau segera setelah respons sederhana klien.
- Yang Lain: pernyataan yang tak berkaitan dengan masalah klien seperti percakapan singkat atau komentar berkenaan dengan cuaca atau peristiwa.
B. PROBING
Probing dalam konseling Yaitu dengan menggali informasi yang berhubungan dengan konseling. Dimana seorang konselor ingin mendapatkan metode dari seorang klien yang dapat dipergunakan dalam merealisasi bimbingan dan konseling. (Bimo Walgito, 2005, 63-86).
- Observasi
Observasi merupakan salah satu metode khusus untuk mendapatkan fakta. Observasi ini merupakan suatu penelitian yang dijalani secara sistematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indra atas kejadian-kejadian yang langsung dapat ditanggap pada waktu kejadian itu terjadi. Oleh karena itu observasi menyangkut masalah yang sangat kompleks, dan observer dalam hal ini pembimbing harus sensitif dalam menangkap data itu.
- Kuesioner
Kuesioner sering disebut angket merupakan suatu daftar yang berisi pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang / anak yang ingin diselidiki, yang juga disebut responden. Dengan kuesioner ini dapat memperoleh fakta-fakta atau opini.
Pada umumnya didalam kuesioner terdapat dua bagian pokok yaitu:
a. bagian yang mengandung data identitas.
b. Bagian yang mengandung pertanyaan yang ingin diperoleh jawabannya.
Jenis kuesioner:
a. Pertanyaan tertutup, yaitu responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan
b. Pertanyaan terbuka, yaitu memeberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi responsen untuk memberi jawaban.
c. Pertanyaaan terbuka dan tertutup, yaitu kombinasi antara pertanyaan terbuka dan tertutup.
- Interviu (Wawancara)
Interviu merupaka salah satu metode untuk mendapatkan data tentang anak atau individu lain dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan.
- Sosiomerti
Dikemukakan oleh Moreni dalam buku Who shall suvive bahwa sosiometri menunjikkan sesuatu yaitu tentang ”ukuran berteman”. Kriteria hubungan sosial.
a. frekuensi hubungan
b. intensitas hubungan
c. popularitas hubungan
Sabtu, 20 Maret 2010
KODE ETIK SECARA UMUM
KODE ETIK SECARA UMUM
By : Dahlia
Implikasi pengabdosian perspektif kebajikan terhadap konseling di eksplorasikan dengan lebih mendetail oleh Meara et al (1996). Kerangka etiak praktik yang secara eksplosit bersumber dari perspektif “kebijakan” dengan mengidentifikasikan serangkain kualitas personal yang harus dimiliki oleh semua praktisi.
- Empati
Kemampuan untuk mengomunikasikan pemahaman terhadap pengalaman orang lain dari perspektif orang itu sendiri
- Ketulusan
Adalah komitmen pribadi konsisten terhadap ap yang dinyatakan dan apa yang dilakukan
- Integritas
Adalahk esederhanaan, kejujuran, kohenri pribadi
- Fleksibilitas
Adalah kemampuan untuk menangani apa yang menjadi perhatian kalien tanpa harus mengacuhkannya secara personal
- Rasa Hormat
Adalah menunjukkan keyakinan diri yang ssma kepad orang lain dan pemahaman mereka terhadap mereka sendiri
- Kesederhanaan
Adalah kemampuan untuk menilai dan memahami kekuatan dan kelemahan seseorang
- Kompentensi
Adalah keterampilan dan pengetahuan efektif yang dibutuhkan untuk melakukan apa yang dipersyaratkan
- Keadi\lan
Adalah aplikasi criteria yang dapat secara konsisten untuk menginformasika keputusan dan tindakan
- Kebijakan
Adalah memiliki kemampuan untuk menilai sebagai dasar untuk bertindak
- Keberanian
Adalah keberanian untuk bertindak tanpa terpengaruh rasa tkut,risiko, dan ketidakpastian
Kerangka metika menambahkan bahwa kualitas-kualitas tersebut harus “mendarah daging dalam diri seseorang, dikaitkan dan dikembangkan dari komitmen pribadi, bukan karena persyaratan atoritas personal’.
- Etika Tanggung Jawab
- Keadilan
- Otonomi adalah diberikan kebebasan dalam profesi
Drs. H> Burhanuddin Salam. 1996 Etika Sosial.
- Bimo Walgito dalam bukunya Bimbingan dan Konseling, mengemukakan beberapa kode etik dalam bimbingan dan konseling. (Bimo Walgito, 2005, 36)
- 1. Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan dan konseling harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan konseling.
- 2. Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau kewenangannya. Karena itu pembimbing jangan sampai mencampuri wewenang serta tanggung jawab yang bukan wewenang serta tanggung jawabnya.
- 3. Oleh karena itu pekerjaan pembimbing berhubungan langsung dengan kehidupan pribadi orang maka seorang pembimbing harus:
- a. Dapat memegang atau memegang rahasia klien dengan sebaik-baiknya.
- b. Menunjukkan sikap hormat kepada klien.
- c. Menghargai sama terhadap bermacam-macam klien. Jadi didalam menghadapi klien pembimbing harus menghadapi klien dalam derajat yang sama.
- 4. Pembimbing tidak diperkenankan:
- a. Menggunakan tenaga pembantu yang tidak ahli atau tidak terlatih.
- b. Menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggung-jawabkan.
- c. Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klien.
- d. Mengalihkan klien kepada konselor lain tanpa persetujuan klien.
- 5. Meminta bantuan kepada ahli dalam bidang lain di luar kemampuan atau di luar keahliannya ataupun di luar keahlian stafnya yangdiperlukan dalam bimbingan konseling.
- 6. Pembimbing haruslah menyadari akan tanggung jawabnya yang berat memerlukan pengabdian sepenuhnya.
Teknik umum konseling
- Ettending
- Empati
- Repleksi
- Eksplarasi
Gunanya mengembangkan membagun hubungan. Ini adalah teknik IVY
- Attending
Posisi yang turun / dimana konselor menghampiri klien yang di dalam bahasa, bahasa lisan, bahasa tubuh tahu tatapan mata.
Berguna untuk membangun keprcayaan klien kepada konselor. Meningkatkan rasa dank lien merasa tidak dihargai. Yang mencakup dalam
- pasing adalah menyamakan antara koselor dank lien
- Tding adalah pemimpin
- Nasihat adalah meningkatkan rasa nyaman juga klien merasa dihargai
- Memberikan
- Empati
Adalah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien berfikir
Kita mersakan apa yang dirasakan klien.Tapi tidak merasakan ulah klien.
- Ampati primer adalah
Contoh:
Saya merasaka, pa yang dirasakan
Saya memahami apa yang terjadi
Tingkat primer ini sering dibuat-buat.
- Empati Tinngi
Konselor merasakan mendalam dan merasakan terlibat dan emosional
Konselor masuk dalam perjalanan klien dank lien termasuk dan dapat dirasakan oleh konselor.
ContohL:
Saya sangat memasuki dapat memahami dan juga
Klau ini biar-biar merasakan,(empati tinggi)
- Repleksi
Suatu teknik dengan dipantulkan perasaan kepada klien pemahaman kembali kata dari klien sebagai hasil dari ferbal dan non ferbal.
- Perasaan
- Pemikiran
- Pengalaman
- Teknik untuk pemantulan perasaan klien sebagai hasil pengamatan dari perbal mampu non perbal. Contoh:
- Memantulkan ide pikiran terhadap yang didatangkan klien terhadap perbal dan non perbal
- Memantulkan pengalamn terhadap yang da dating klien terhadap perbal dan non perbal.
4.Eksplorasi
Teknik untuk menggali perasaan, pemikiran, dan pengalaman klien. Sedangkan kata buruh
- data
- Perasaan
- Menggaliperasaan dari dalam diri kita
- Sedih
- Pikiran adalah menggali ide dari dalam diri klien.
Saya tidak nyaman
Setiap masuk saya terus ngantuk.
