Selasa, 15 Maret 2011

menurut pendekatan behavioral

Nama : Dahlia

Nim : 10842003825

Study : Psikologi Klinis

Dosen Pembimbing : M. Fahli Zatra Hadi, S.Sos.I

MENURUT PENDEKATAN BEHAVIORISTIK

A. Latar Belakang

Terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan proseur yang berakar pada berbagai teori belajar. Terapi ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku kearah cara-cara yang lebih adaptif. Pendekatan ini, telah memberikan sumbangan-sumbangan yang berarti, baik pada bidang-bidang klinis maupun pendidikan.

Berlandasan teori belajar, modifikasi tingkah laku adalah pendekatan-pendekatan terhadap konseling dan psikoterapi yang berurusan dengan pengubahan tingkah laku. Terapi tingkah laku yang mencakup berbagai prinsip dan metode yang belum dipadukan kedalam suatu system yang dipersatukan.

Perkembangn terapi tingkah laku ditandai oleh suatu pertumbuhan yang fenomenal sejak ahir tahun 1950-an. Pada awal tahun 1960-an, laporan-laporan tentang penggunaan teknik-teknik terapi tingkah laku sekali-kali muncul dalam kepustakaan professional. Sekarang terapi tingkah laku mendapat kedudukan yang penting dalam lapangan psikoterapi dalam banyak area pendidikan.

Salah satu aspek yang paling penting dalam gerakan modifikasi tingkah laku adalah penekanannya pada tingkah laku yang bisa didefinsikan secara operasional, diamati, dan diukur.

Bahaviormemberi dorongan yang kuat kearah penyelidikan eksprimental. Tokoh utama dari pada aliran behavior adalah J.B. WASTON.

Tingkah laku latah, dilihat dari segi sosiologis dan persebaran budaya, hanya ditemui di kawasan Asia, tidak ditemukan pada orang-orang Eropa, Amerika ataupun Afrika. Latah khususnya ditemukan pada daerah Asia tenggara, yang dihuni oleh sub ras dari ras Mongoloid.

Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap secara tak terkendali setelah terjadinya reaksi kaget. Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap atau tidak terkendali, pascareaksi kaget (starled reaction). Saat latah muncul yang berkuasa alam bawah sadar (subconcious).

B. Pembahasan Pendekatan Behavioristik

  1. Hakekat manusia

Menurut teori behavioral, manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh factor-faktor luar. Manusia pada dasranya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budaya. Tingkah laku manusia dipelajarinya ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui belajar yaitu:[1]

a. Pembiasan klasik, yang ditandai dengan satu stimulus yang menghasilkan satu respon. Misalnya bayi merespon suara keras dengan takut.

b. Pembiasaan operan, ditandai dengan adanya satu stimulus yang menghasilkan banyak respon. Pengondisian operan memberikan penguatan positif yang bisa memperkuat tingkah laku. Sebaliknya penguatan negative bisa memperlemah tingkah laku.

c. Peniruan yaitu orang tidak memerlukan reinforceman agar bisa memiliki tingkah laku melainkan ia meniru. Syarat dalam meniru tingkah laku yaitu:

- Tingkah laku yang ditiru memang mampu untuk ditiru oleh individu yang bersangkutan

- Tingkah laku yang ditiru adalah perbuatan yang dinilai public positif.

Tingkah laku (behavior adalah aktivitas yang dapat diamati dan yang bersifat umum mengenai otot-otot dan kelenjar-kelenjar sekresi eksternal sebagaimana terwujudnya pada gerakan-gerakan bagian-bagian tubuh atau pada pengeluaran air mata, keringat dan seterusnya. Berjalan adalah tingkah laku begitu pun dengan suatu senyuman, seringai, kedipan mata, gigilan (menggigil), muka membara (akibat perubahan kelenjar dan aliran darah), perubahan sesuatu postur, atau istilah-istilah lain yang bersangkutan dengan gerakan yang Nampak mata.[2]

J.B. WASTON mmemandang tingkah laku tentang manusia yaitu: [3]

a. pengauh lingkungan, yang olehnya dihargai sangat berlebihan.

b. anak yang baru lahir, yang menurut J.B. Wason padanya hanya terdapat beberapa reflex dan tigamacam emosi, yaitu emosi-emosi takut, marah, dan cinta

Teori humanistic sangat menekankan pentingnya “isi” dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata laian teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya. Teori apapun dapat dimamfaatkan asal tujuan untuk memanusiakan manusia (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya itu) dapat tercapai.[4]

Premis yang mendasari terapi tingkah laku itu sederhana, yakni bahwa tingkah laku yang menyimpang itu terdapat pada individu sebagai hasil pengalaman pengondisisan yang keliru (faulty of conditioning). Oleh karena itu, tugas utama dari seorang terapeuti adalah tingkah laku yang menyimpang, dan membentuk tingkah laku baru yang layak melalui pemerkuatan atas tingkah laku baru yang layak. Jadi, tingkah laku itu merupakan perluasan yang logis dan langsung dari pengondisisan operan.

Pengembangan dari apa yang disebut token economy mengmabarkan satu penerapan terapi tingkah laku. Dalam token economy, pasien yang biasanya dirawat dirumah sakit karena mengalami beberapa gangguan atau penyimpangan tingkah laku, diberi hadiah berupa tanda-tanda tertentu bagi keterlibatannya dalam aktivitas-aktivitas yang diadakan oleh terapeut yang bekerja sama dengan staf rumah sakit seperti membereskan tempat tidurnya sendiri, membersihkan ruangan, dan berhubungan dengan sesama pasien. Tanda-tanda itu berupa koin atau kartu plastic dan nilai-nilai. Hadiah tanda-tanda tersebut bisa ditukarkan dengan permen, rokok, baju, dan izin untuk berjalan-jalan atau izin secara pribadi dengan terapeut.

Atthowe dan Krasner dengan study mereka menunjukkan bahwa terapi dengan cara token economy itu telah membawa hasil yang positif. Kedua terapeut ini menjalankan program terapinya yang pertama dirumah sakit Veteran di palo Alto, California. Tujuan dari terapi yang mereka jalankan adalah mengubah tingkah laku menyimpang yang kronis dari para pasien, terutama mengubah tingkah laku ketergantungan, seperti, tingkah laku merusakkan atau merugikan orang lain. Pasien dalam program terapi ini berusia rata-rata 57 tahun dan telah dirawat rata-rata 20 tahun.kebanyakan dari mereka adalah penderita skizoprenia kronis, sebagian diantaranya diduga mengalami kerusakan pada otak.

Program terapi dilaksanakan dalam jangka 20 bulan yang dibagi kedalam tiga tahapan. Tujuh bulan pertama disediakan sebagai tahapan permulaan atau periode peran. Dalam periode itu para terapeut membuat catatan harian mengenai perubahan tingkah laku yang ditargetkan. Periode ini di ikuti oleh periode pembentukan yang lamanya tiga bulan. Dalam periode tersebut para pasien secara perlahan dipersiapkan pada partisipasi dalam aktivitas-aktivitas yang telah diterapkan.

Hasil dari program terapi ini menunjukan adanya peningkatan yang berarti dalam tingkah laku yang diharapkan, dan terdapat perbaikan umum pada para pasien dalam hal inisiatif, tanggung jawab, dan interaksi social. Dengan demikian, bahwa metode pemberian perkuatan bisa memperbaiki tingkah laku psikotik dalam cara konstruktif dilingkungan rumah sakit,. Lebih dari itu, praktek terapi tingkah laku merupakan pengujian yang menarik dan berhasil atas validasi konsep-konsep skinner dalam konstek salah satu masalah manusia yang terbesar. Bahwa pengguanaan metode perkuatan, tidak terbatas dilingkunnag rumah sakit jiwa, tetapi juga digunakan secara luas dalam situasi kelas yang melibatkan, baik anak-anak normal, menyimpang, ataupun anak-anak terbelakang mental.

Behavior therapy memusatkan perhatian pada tingkah laku yang dapat diobservasi dan tidak mencari determinan-determinan didalam diri individu, melainkan mencari determinan-determinan luar tingkah laku patologis.[5]

Dalam kehidupan sehari-hari kita semua tahu bahwa perilaku dan fikiran kita berubah akibat pengalaman.Salah satu perkembangan yang penting adalah social learning theory (teori belajar social). Pendekatan ini banyak mendasarkan diri pada konsep modeling (peniuan) terhadap perilaku yang diobservasi, yang dieksplorasi dan dielaborasi oleh Allbert Bandura (1970).

Subjek yang mengamati (mengobsevasi) apa yang sedang dilakukan orang lain belajar untuk meniru perilaku itu. Gerald (1997) membangun sebuah sitem ekstensif dari konsep-konsep belajar social dan berbagai prosedur berdasarkan pengamatan terhadap perilaku dalam pertemuan-pertemuan antara anak-anak dan orang tuanya. [6]

Riber mendefinisikan behavior therapy (terapi tingkah laku) yaitu psikoterapi yang berusaha mengubah pola perilaku abnormal atau maladaftif dengan menggunakan proses extinction (penghilangan) atau inhibitory(pembatasan) dan atausituasi-situasi klinis dan operant conditioning. Jadi semua gangguan perilaku diasumsikan merupakan akibat dari kontingensi yang kurang menguntungkan dalam kehidupan individu. Tidak perlu mengexplorasi konflik-konflik yang mendasarinya. Terapi yang efektif mestinya diarahkan pada modifikasi perilaku yang saat ini dimanifestasikan oleh klien.

Ada sejumlah prinsip yang banyak mendasari pendekatan behavioral untuk interfensi klinis (margraff, 1998). Pendekatan ini banyak menyandarkan dari pada tradisi psikologi empiris. Dalam intervensi klinis, ini diterjemahkan menjadi kebutuhan untuk mengoperasionasikan masalah klien (yaitu mensifikasikan dangan jelas tindakan yang akan diambil diseputar kesulitan yang dimaksud) dan penyadaran diri terhadap pengumpulan dan terinfertasi data, yang dapat dikumpulkan melalui pengukuran langsung, opservasi, atau self-tracking dilakukan oleh klien.

Keriga macam ini biasanya dikumpulkan secara rutin. Terapis meminta pengumpulan data selama periode basiline (garis basal) sebelum menerapkan sebuah intervensi dan terus melanjutkannya selama intervensi dilakukan. Intervensi behavioral sejauh mungkin disesuaika dengan individu tertentu dan dengan masalah tertentu yang dialaminya. Intervensi berorientasi individual atau idiografik (Nelson dan Hayes, 1986). Terapis behavioral tidak menganggap perilaku bermasalah sebagai hal yang berdiri sendiri. Sebaliknya mereka juga melihat kondisi-kondisi yang memprediposisikannya atau memicunya maupun konsekuensi perilaku yang mempertahankan atau mengurangi frekuensi kemunculannya. Anlisi fungsional identivikasi pola-pola antesseden atau kejadian-kejadin yang mengaktifkan dan konsekuensi perilaku bermasalah mengarahkan perkembangan intervensi yang terinduvidualisasi dan evalusi terhadap efektivitasnya.[7]

Prinsip terapi behavioral lainnya adalah sifatnya yang berorientasi tujuan. Tujua-tujuan ditetapkan dan dioperasionalisasikan artinya, tujuan-tujuan itu dipecah menjadi komponen-komponen yang dapat diukur. Tujuan terapi seringkali membutuhkan kegiatan-kegiatan diluar setting terapi (misalnya pekerjaan rumah) dan biasanya membutuhkan partisivasi aktif dari klien yang diterapi. Terapi behavioral berusaha mengajari klien tentang cara menolong diri sendiri dengan menekankan tentang pentingnya membangun keterampilan-keterampilan yang berkesinambungan seumur hidup. Pendekatan behavioral bersifat “transparan” dalam arti bahwa proses dan kegiatannya didiskusikan secara terbuka dengan klien, dank lien secar aktif dilibatkan dalam proses-proses pengambilan keputusan klinis. Metode behavioral dapat digunakan dalam penanganan termasuk:

  1. Exposure-based methods seperti desensitisasi sistematik
  2. Operant methods seperti reinforcement, extinction, time out, dan token economies
  3. Modeling, atau belajar melalui bservasi
  4. Sel-control methods seperti self-observation dan self-reinforcement
  5. Cognitive methods

Terapi dengan pendekatan belajar dinamakan behavior therafy. Dalam orientasi belajar dalam spendekatan dan penyembuhan gangguan jiwa didasarkan atas teori-teori belajar, antara lain prinsip-prinsip kondisioning klasik, kondisioning operan, dan belajar social. Untuk pendekatan belajar dapat digunakan skema (dalam kanfer & Philips, dalam suwondo, 1980).[8]

S-O-R-K-C

S= stimulus

O= organisme

R= respons

C= concequnc, akibat

K= contingency, kedekatan

Dalam interviu, tidak perlu digali peristiwa-peristiwa di masa lampau dan konflik-konflik yang tidak disadari seperti halnya dalam pendekatan psikoananalisis. Pendekatan belajar tidak melihat adanya semua. Yang penting untuk memahami dan menyembuhkan suatu simtom tersebut. Suatu simtom hanya diperhatikan kuantitasnya, apakah berlebihan atau kekurangan.

Terapi tingkah laku bertolak dari asumsi bahwa semua tingkah laku terjadi sebagai respons terhadap stimulus, anternal atau eksternal. Tugas utama dari terapis tingkah laku adalah mengidentifikasikan stimulus-respons (S-R) yang mungkin terjadi untuk pasien. Bagian dari proses terapi ini disebut analisis behavioral atau fungsional. Berikut ini adalah ilustrasi dari hubungan S-R untuk seseorang yang mengalami ketakutan akan tempat-tempat yang tinggi, stimulus S untuk terbang dari pesawat kecil akan memberikan respons R kecemasan yang hebat dan berusah menghindari stimulus.

Selama analisis behavioral, terapis berusaha menentukan stimulus-stimulus yang ada hubungannya dengan respon-respon maladaptive. Melalui analisis ini, baik pasien maupun terapis mencapai pemahaman terhadap masalah itu dan perkembangan. Meskipun pemahaman itu tidak menghilangkan masalah tersebut, namun berguna karena pemahaman itu mereduksikan kecemasan pasien dan pasien tidak lagi merasa dikuasai oleh kekuatan-kekuatan misterius dan yang tidak diketahui.

Perlu diingat bahwa kesalahan-kesalahn mengenai dugaan hubungan S-R pada tahap diagnosis ini akan menghasilkan perawatan yang tidak efektif karena perawatan tersebut kemudian akan dipusatkan pada penghilangan hubungan S-R yang tidak digunakan untuk tetap mempertahankan tingkah laku madaptif.

Analisis behavioral dimulai oleh terapis yang mengambil sejarah terperinci mengenai masalah yang dialami oleh pasien sekarang, perkembangan dari masalah itu, dan terutama mengenai hubungan dari masalah itu dengan pengalaman-pengalaman pasien sekarang. Dalam membuat analisis tersebut adalah penting kalau terapis memperoleh hal-hal terperinci akan kongkret mengenai situasi-situasi dimana masalah sekarang itu muncul. Misalnya, bila seorang pasien merasa malu dalam beberapa situasi, maka terapis perlu mengidentifikasi interaksi-iteraksi khusus dimana pasien tidak asertif.

Selanjutnya terapis perlu juga menetapkan alasan-alasan mengapa pasien itu merasa malu. Apakah karena dia tidak mengetahui bagaimana mengungkapka dirinya, atau karena dia mengalami ketakutan-ketakutan tertentu. Perawatan yang dipilih tergantung pada imformasi seperti itu. Apabila pasien tidak mengetahui bagaimana mengungkapkan dirinya, maka suatu pendekatan “modeling” dengan bermain peran digunakan. Sebaliknya, bila pasien sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengadakan respons tetapi terhambat karena ketakuta-ketakutan tertentu, maka prosedur disensitisasi dapatdigunakan untuk mereduksikan ketakutan-ketakutan ini.

Terapi tingkah laku, berbeda sebagian besar besar pendekatan terapi lainnya, ditandai dengan:

  1. Pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tang tampak dan spesifik.
  2. Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment.
  3. Perumusan prosedur treatmen yang spesifik yang sesuai dengan masalah
  4. Penafsiran objektif atas hasil-hasil terapi

Pada dasarnya, terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuanmemperoleh tingkah laku baru.penghapusan tingkah laku maladaptive, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Pernyataan yang tepat tentang tujuan-tujuan treatment dispesifikasi, sedangkan pernyataan yang bersifat umum tetang tujuan ditolak. Klien diminta untuk menyatakan dengan cara-cara yang konkret jenis-jenis tingkah laku masalah yang dia ingin mengubahnya.

Karena tingkah laku yang dituju dispesifikasi dengan jelas, tujuan-tujuan treatment dirinci dan metode-metode terapeutik diterangkan, maka hasil-hasil terapi menjadi dapat dievaluasi. Terapi tingkah lakumemasukkan criteria yang didefenisikan dengan baik bagi perbaikan atau penyembuhan. Karena terapi tingkah laku menenkankan evalusasi atas keefektifan teknik-teknik yang digunakan, maka evolusia dan perbaikan yang berkesinambungan atas prosesdur-prosedur treatment menandai proses terapeutik.

Proses terapi behavioristik

Tujuan-tujuan psikoterapi menduduki suatu tempat yang sangat penting dalam terapi tingkah laku. Klien menyeleksi tujuan-tujuan terapi yang secara pesifik ditentukan pada permulaan proses terapeutik. Penaksiran terus-menerus dilakukan sepanjang terapi untuk menentukan sejauh mana tujuan-tujuan terapeutik itu secara efektif tercapai.

Tujuan utama terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotic learned, maka bisa unlearned(dihapus dari ingatan), dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh. Terapi tingkah laku pada hakikatnya terdiri atas penghapusan hasil belajar yang tidak adapatif dan pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang di dalamnya terdapat respon-respon yang layak, namun belum dipelajari.

Ada beberapa kesalahpahaman yang menyangkut masalah tentang tujuan-tujuan dalam terapi tingkah laku. Salah satu kesalah pahaman yang umum adalah bahwa terapi semata-mata menghilangkan gejala-gejala sautu gangguan tingkah laku dan bhawa setelah gejala-gejala itu terhapus, gejala-gejala baru akan muncul karena penyebab-penyebab yang mendasarinya tidak ditangani. Kesalahpahaman umum lainnya adalah bahwa tujuan-tujuan klien ditentukan dan dipaksakan oleh terapis tingkah laku. Tampaknya ada unsur kebenaran dalam anggapan tersebut, terutama jika menyinggung beberapa situasi, misalnya situasi di rumah sakit jiwa. Bagaimanapun, kecenderungan yang adadalam terapi tingkah laku modern bergerak kearah pelibatan klien dalam menyeleksi tujuan-tujuan dan memandang hubungan kerja yang baik antara terapis dan klien sebagai diperlukan (meski dipandang belum cukup) guna memperjelas tujuan-tujuan terapeutik dan bagi kerja yang kooperatif ke arah pencapaian tujuan-tujuan terapeutik tersebut.

Contoh Teknik untuk latah dalam behavioralistik.[9]

Salah satu sumbangan terapi tingkah laku adalah pengembangan prosedur-prosedur terapeutik yang spesifik yang memiliki kemungkinan untuk diperbaiki melalui motode ilmiah. Teknik-teknik tingkah laku harus menunjukkan keefektifan melalui alat-alat yang objektif dan ada usaha yang konstan untuk memperbaikinya.

Dalam terapi tingkah laku, teknik-teknik spesifik yang beragam bisa digunakan secara sistematis dan hasil-hasilnya bisa dievaluasi. Teknik-teknik ini bisa digunakan jika saatnya tepat untuk menggunakannya, dan banyak diantaranya yang bisa dimasukkan ke dalam praktek psikoterapi yang berlandaskan model-model lain. Teknik-teknik spesifik yang akan diuraikan di bawah ini bisa diterapkan pada terapi latah yang dimaksud diatas.

Teknik terapi behavioristik yang cocok untuk klien dengan perilaku latah adalah terapi Pengondisian Operan.

Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat.

Metode-metode Pengondisian Operan

A. Perkuatan Positif

Pemerkuat positif adalah stimulus apa saja yang bila diterpakan menyusuli suatu tingkah laku yang akan meningkatkan atau memperkuat tingkah laku. Daftar pemerkuat positif ini tidak terbilang jumblahnya dan sangat individual.[10]

Pembentukan pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Ini adalah suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku. Pemerkuat primer dan sekunder diberikan untuk rentang tingkah laku yang luas. Pemerkuat primer memuaskan kebutuhan fisiologis contohnya makan, minum atau isterahat. Pemerkuat sekunder memuaskan kebutuhan psikologis atau social, contohnya pujian, penghargaan, persetujuan atau senyuman.[11]

B. Pembentukan Respon

Dalam pembentukan respon, tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkuat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir. Klien yang latah yang ingin menghilangkan tingkah laku latahnya, diberikan perhatian dan persetujuan dengan keinginannya tersebut. Ini juga bisa diberikan pemerkuat primer dan sekunder.

C. Perkuatan Intermitten

Perkuatan intermitten adalah perkuatan dengan tingkah lakuyang telah terbentuk. Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat-pemerkuat, terapis harus memahami kondisi-kondisi umum dimana perkuatan-perkuatan muncul. Perkuatan-perkuatan terus menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul. Misalnya dalam beberapa hari terapi, klien dengan tingkah laku latah menunjukkan perilaku yang positif (latahnya berkurang dalam kondisi terkejut).

D. Penghapusan

Apabila suatu respon terus-menerus dibuat tanpa perkuatan, maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah sautu periode, cara untuk menghapus tingkah laku yang mal adaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang mal adaptif itu. Misal dalam tingkah laku latah, maka tidak boleh diberikan perkuatan misalnya pujian, kalau bisa perkuatan negatifnya yang diperbesar untuk membantu tingkah laku positif muncul.

E. Pencontohan

Dalam pencontohan, klien yang latah mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Bandura menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula diperoleh secara langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya.

F. Token Economy

Metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam token economy, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan-perkuatan yang bisa diraba (misal kepingan logam) yang nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini.

Token economy merupakan salah satu contoh dari perkuatan yang ekstrinsik, yang menjadikan orang-orang melakukan sesuatu untuk meraih “pemikat diujung tongkat”. Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsik. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang baru.

Pendekatan terhadap behavioristik ini yaitu:[12]

  1. Tipe pendekatan yang harus memetingkan tingkah laku atau gejala yang Nampak saja.
  2. Memperhatikan bagai mana hubungan antara gejala-gejala tersebut
  3. Melihat gejala psikologis hanya berdasarkan kumpulan dari gejala-gejala yang Nampak itu

Teknik terapi tingkah laku yaitu:[13]

1. Desensitisasi sistematik

Teknik ini adalah salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam terapi tingkah laku. Desensitisasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negative, dan iya menyertakan pemunculan tingkah lkau atau respon yang berlawanan dengan tingkah lkau yang hendak dihapuskan. Desensitisasi diarahkan pada mengajar klien untuk menampillkan suatu respon yang tidak konsisten dengan kecemasan.

Wolpe (1985, 1969), pengembnagan teknik desensitisasi, mengajukan argument bahwa segenap tingkah laku neurotic adalah ungkapan dari kecemasan dan bahwa respon kecemasan bisa dihapus oleh penemuan respon-respon yang secara inheren berlawanan dengan respon tersebut. Dengan pengondisisian klasik, kekuatan stimulus penghasil kecemasan bisa dilemahkan, dan gejala kecemasan bisa dikendalikan dan dihapus melalui penggantian stimulus.

Desensitisasi sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Klien dilatih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalamn-pengalaman pembnagkit kecemasan yang dibayangkan atau yang divisualisasi. Situasi-situasi dihadirkan dalam suatu rangkaian dari yang sangat tidak mengancam kepada yang sangat mengancam. Tingkatan stimulus-stimulus penghasil kecemasan dipasang secara berulang-ulang dengan stimulus-stimulus penghasil keadaan santai sampai kaitan antara stimulus-stimulus penghasil kecemasan itu terhapus. Dalam teknik ini, Wolpe telah mengembangkan suatu respons, yakni relaksasi, yang secara fisiologis bertentangan dengan kecemasan yang secara sistematis diasosiasikan dengan aspek-aspek dari situasi yang mengancam.

Prosedur model pengondisian balik ini adalah sebagai berikut:

a. Desensitisasisistematik dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang bisa membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu seperti penolakan, rasa iri, ketidak setujuan, atau suatu fobia.

b. Selama pertemuan-pertemuan terapeutik pertama klien diberi latihan relaksasi yang terdiri dari atas kontraksi, dan lambat laun pengenduran.

c. otot-otot yang berbeda sampi tercapai suatu keadaan santai penuh.

d. Proses desensitisasi melibatkan keadaan dimana klien se[enuhnya santai dengan mata tertutup. Terapis menceritakan serangkaian situasi dan meminta klien untuk membayangkan dirinya berada dalam setiap situasi yang diceritakan oleh terapis itu. Sittuasi yang netral diungkapkan, dank lien diminta untuk membayangkan dirinya berada di dalamnya.

Desensitisasi sistematik adalah teknik yang cock untuk menangani fobia-fobia. Tetapi keliru apabila menganggap teknik ini hanya bisa diterapkan pada penanganan ketakutan-ketakutan. Desensitisasi sitematik bisa diterapkan secra efektif pada berbagai situasi penghasilan kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan neurotic, serta imfotensi dan frigiditas seksual.

2. Terapi implosive dan pembajiran

Teknik ini berlandasan paradigm mengenai penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tampa pemberian perkuatan. Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubungan dengan teknik pembanjiran, yang disebut “terapi implosive” : seperti halnya dengan desensitisasi sistematik, terapi implosive berasumsi bahwa tingkah laku neurotic kecemasan.

Terapi implosive berbeda dengan desensitisasi sistematik dalam usaha terapis untuk menghadirkan luapan emosi yang massif. Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan terekdusi atau terhapus. Klien diarahkan untuk membayangkan situasi-situasi yang mengancam. Dengan secara berulang-ulang dan dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dan menakutkan tidak muncul, stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilkan kecemasannya, dan penghindaran neurotic pun terhapus.

Stampfl (1975) mencatat beberapa contoh bagaimana terapi implosive berlangsung. Ia melukiskan seorang klien yang mengalami kecenderungan-kecenderungan obsesif pada kebersihan. Klien mencuci tangannya lebih dari seratus kali sehari dan memiliki ketakutan yang berlebihan terhadapa kuman. Prosedur-produr penanganan klien mencakup:

a. Pencarian stimulus-stimulus yang memicu gejala-gejala

b. Menaksirkan bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejala-gejala itu membentuk tingkah laku klien.

c. Meminta kepada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang djabarkannya tanpa disertai celaan atas kepansan situasi yang dihadapinya.

d. Bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang di alami klien dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yan paling ingin dihindarinya

e. Mengulang prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.

3. Latihan Asertif

Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi intarpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang-orang:

a. Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung

b. Menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya

c. Memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”

d. Mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon-respon positif lainnya

e. Merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Latihan asertif menggunakan prosedur-prosedur permainan peran. Suatu masalah yang khas yang bisa dikemukakan sebagai contoh adalah kesulitan klien dalam menghadapi atasannya di kantor. Misalnya, klien mengeluh bahwa dia acap kali merasa ditekan oleh atasannya untuk melakukannya hal-hal yang menurut penilaiannya buruk dan merugikan serta mengalami hambatan untuk bersikap tegas dihadapan atasannya.

Tingkah laku menegaskan diri pertama-tama diperaktekkan dalam situasi permainan peran, dan dari sana diusahakan agar tingkah laku menegaskan diri itu diperaktekkan dalam situasi-situasi kehidupan nyata. Terapis memberikan bimbingan dengan memperlihatkan bagaimana dan bilamana klien bisa kembali kepada tingkah laku semula, tidak tegas, serta memberikan pedoman untuk memperkuat tingkah aku menegaskan diri yang baru diperolehnya.

Shaffer dan Galinsky (1974) menrangkan bagaimana kelompok-kelompok latihan asertif atau “latihan ekspresif” dibentuk dan berfungsi. Kelompok terdiri atas 8-10 anggota memiliki latar belakang yang sama, dan session terapi berlangsung selama dua jam. Terapis bertindak sebagai penyelenggara dan pengarah permainan peran, pemberi perkuatan, dan sebagai model peran. Dalam diskusi-diskusi kelompok, terapis bertindak sebagai seorang ahli, memberikan bimbnagan dalam situasi-situasi permainan peran, dan memberikan umpan balik kepada anggota.

Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pad kelompok dengan sasaran membantu individu-individu dalam menyumbangkan cara-cara brhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal. Fokusnya adalah mempraktekakan, melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh sehingga individu-individu diharapkan mampu mengatasi ketakmemadainya dan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan fikiran-fikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwamereka berhak untuk menunjukan reaksi-reaksi yang terbuka itu.

Didalam buku kesehatan mental pengarang dari Yustinus Semiun (2006: 525) bahwa langkah-langkah dalam arsetif adalah sebagai berikut:

- Periksalah interaksi anda

- Pilihlah interaksi-interaksi yang berguna bagi anda untuk menjadi lebih asertif

- Pusatkan perhatian anda pada suatu peristiwa khusus pada masa lampau

- Tulislah dan tinjau lagi respon-respon anda

- Amatilah satu atau dua model yang efektif

- Buatlah daftar tentang berbagai alternative pendekatan untuk menjadi lebih asertifp

- Pejamkanlah mata anda dan visualisasikan diri anda menggunakan setiap dari pendekatan alternative.

- Lakukan permainan peran tentang pendekatan tersebut dengan orang lain

- Ulangi langkah 7 dan 8 hingga anda mengembangkan suatu pendekatan asertif yang menurut anda akan berhasil paling baik bagi anda, dimana anda merasa nyaman dan anda yakini akan berhasil

- Gunakan pendekatan anda dalam situasi hidup sesungguhnya

- Fikirkan efektifitas dari usaha anda

- Harapkan beberapa keberhasilan, tetapi bukan kepuasan pribadi yang penuh dengan usaha-usaha awal anda.

4. Terapi Aversi

Teknik pengondisian aversi, yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus-stimulus aversi biasanya berapa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual. Kendali aversi biasa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau pengguanaan berbagai bentuk hukuman. Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat positif adalah mengabaikan ledakan kemarahan anak guna menghapus kebiasaan mengungkapkan ledakan kepada si anak.

Teknik-teknik aversi adalah metode-metode yang paling controversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode-metode untuk membawa orang-orang kepadatingkah laku yang didnginkan. Kondisi-kondisi yang diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharapkan dari mereka dalam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif.

Dalam teknik aversif, stimulus-stimulus yang menyakitkan atau aversif diberi secara berpasangan dengan respon-reson yang tidak dikehendaki, seperti merokok, alkoholisme, atau respon-respon seksual yang menyimpang. Misalnya para perokok berhasil dirawat dengan suatu bentuk teknik aversif, yang disebut rapid smoking, dimana kecepatan mengisap rokok meningkat samapai pada keadaan yang membahayakan.

Skinner (1948-1971) adalah salah seorang tokoh yang terang-terangan menentang penggunaan hukuman sebagai cara untuk mengendalikan hubungan-hubungan manusia ataupun untuk mencapai maksud-maksud lembaga masyarakat. Menurut Skinner, perkuatan positif jauh lebih efektif dalam mengendalikan tingkah laku karena hasil-hasilnya lebih dapat diramalkan serta kemungkinan timbulnya tingkah laku yang tidak diingikan akan lebih kecil. Skinner (1994) berpendapat bahwa hukuman adalah sesuatu yang buruk meskipun bisa menekan tingkah laku yang diinginkan, namun tidak melemahkan kecenderungan untuk merespon bahkan untuk sementara menekan tingkah laku tertentu.

Apabila hukuman digunakan, maka terdapat kemungkina terbentuknya efek-efek samping emosional tambahan seperti:

a. Tingkah laku yang tidak diingikan yang dihukum boleh jadi akan ditekan hanya apabila penghukum hadir

b. Jika tidak ada tingkah laku yang menjadi alternative bagi tingkah laku yang dihukum, maka individu ada kemungkinan menarik diri secara berlebihan

c. Pengaruh hukuman boleh jadi digeneralisasikan kepada tingkah laku lain yang berkaitan dengan tingkah laku yang dihukum.

5. Pengondisian Operan

Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi dilingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang paling berarti dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian, makan dengan alat-alat makan, bermain, dan sebagainya.

Menurut Skinner (1971), jika suatu tingkah laku diganjar, maka probalitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengondisian operan.

Metode-metode pengondisian operan adalah sebagai berikut:

a. Perkuatan positif

Pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul adalah suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku. Pemerkua-pemrkuat, baik primer maupun sekunder, diberikan untuk rintang tingkah laku yang luas. Pemerkuat-pemerkuat primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh pemerkuat primer adalah makanan dan tidur atau istirahat.

Perkuatan sekunderMemuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dan social, memiliki nilai karena berasosiasi dengan pemerkut-pemerkuat primer. Contoh-contoh pemerkuat sekunder yang bisa menjadi alat yang ampuh untuk membentuk tingkah laku yang diharapkan antara lain adalah senyuman, persetujuan, pujian, bintang-bintang emas, medali atau tanda penghargaan, uang, dan hadiah-hadiah.penerapan pemberian perkuatan positif dalam psikoterapi membutuhkan spesifikasi tingkah laku yang diharapkan, penemuan tentang apa agen yang memperkuat bagi individu, dan penggunaan perkuatan positif secara sistematis guna memunculkan tingkah laku yang diinginkan.

b. Pembentukan respons

Tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkuat unsure-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan baru berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir. Pembentukan respons bewujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat dalam pembendaharaantingkah laku indaividu.

c. Perkuatan intermiten

Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat, trapis harus memahami kondisi-kondisi umum diman perkuatan-perkuatan muncul. Oleh karenanya, jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Perkuatan terus-menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul.

d. Penghapusan

Apabila suatu respon terus-menerus dibuat tampa perkuatan, maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode, cara untuk menghapusan tingkah laku yang meladaftif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladaptive. Penghapusan dala kasus semacam ini boleh jadi berlansung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan intermiten dalam jangka waktu lama.

Ada pula penghapusan respon terhadap peransang, dengan demikian respon-respon yang baru akan dibentuk dengan menggunakan teknik yaitu:

· Teknik yang dilakukan mencakup:

- Shaping yaitu memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Penguatan ini hendaknya benar-benar kuat agar klien terdorong untuk mengubah tingkah lakunya, dilakukan secara sistematis, dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien.

- Extinction, mengurangi frekuensi belansungnya tingkah laku yang diingini.

- Reinforcement incompatible behavior, memberikan penguatan terhadap respon yang Akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang diingini.

- Imitative learning, member contoh atau model film, tape recorder, contoh nata/ lansung.

- Contracting, merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan.

- Cognitive learning, memberikan penjelasan lisan tentang berbagai hal

- Covert reinforcement, memberikan penguatan dengan jalan membayangkan hal-hal yang bersangkut paut dengan tingkah laku yang menjadi objek konseling.

e. Pencotohan

Dalam pencotohan, individu mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Bandura (1969) menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melaluipengalaman lansung bisa pla diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah lakuorang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya. Jadi, kecakapan-kecapan social tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan contoh tingkah laku model-model yang ada.

f. Token economy

Token adalah pemerkuat simbolis, sedangkan economy adalah system pertukaran yang menetapkan secara tepat untuk apa token ditukarkan, dan berapa banyak token digunakan untuk memperoleh hal-hal tertentu.

Metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam token economy, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan-perkuatan yang bisa diraba (tanda-tanda seperti kepingan logam) yang nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini.

Pengguna tanda-tanda sebagai pemerkuat-pemerkuat bagi tingkah laku yang layak memiliki beberapa keuntungan, yaitu:

· Tanda-tanda tidak kehilangan nilai insentifnya

· Tanda-tanda bisa mengurangi penundaan yang ada diantara tingkah laku yang layak dengan ganjarannya

· Tanda-tanda bisa digunakan sebagai pengukur yangkongkret bagi motivasi individu untuk mengubah tinngkah laku tertentu

· Tanda-tanda adalah bentuk perkuatan yang positif

· Individu memiliki kesempatan untuk memutuskan bagaimana menggunakan tanda-tanda yang diperolehnya

· Tanda-tanda cenderung menjembatani kesenjangan yang sering muncul diantara lembaga dan kehidupan sehari-hari

Dalam buku psikologi konseling mempunyai prosedur dalam koseling behavioristik yang bervariasi dan sistematis yang disengaja secara khusus untuk mengubah perilaku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama konselor dan klien. Tokoh aliran psikologi behavioral John D. Krumboltz dan Carl Thoresen menempatkan prosedur belajar dalam empat kategori, sebagai berikut: [14]

1. Belajar operan (operant learning), adalah belajar didasarkan atas perlunya pemberian ganjaran (reinforcement) untuk menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan. Ganjaran merupakan dalam bentuk dorongan dan penerimaan sebagai persetujuan, pembenaran atau perhatian konselor terhadap perilaku yang dilakukan klien.

2. Belajar mencotoh (imitative learning), yaitu cara dalam memberikan respon baru melalui menunjukan atau mengerjakan model-model perilaku yang diinginkan sehingga dapat dilakukan oleh klien.

3. Belajar kognitif (cognitive learning), yitu belajar memlihara respon yang diharapkan dan boleh mengadaptasi perilaku yang lebih melalui intruksi sederhana

4. Belajar emosi ( emotional learning) yaitu cara yang digunakan untuk mengganti respon-respon emosional klien yang tidak dapat diterima menjadi respon emosional yang dapat diterima sesuai dengan konteks classical conditioning,



[1] Amirah Diniaty, teori-teori konseing (pekanbaru: daulat riau. 2009) hlm105

[2] Donald Olding Hebb, psikologi (Surabaya:usaha nasional. 1986) hlm 16

[3] Sumadi Suryobroto, psikologi perkembnangan (yogyakarta: rake Sarasin. 1994) hlm 53

[4] Hamzah B. Uno, Orientasi baru dalam psikologi pembelajaran (Jakarta: bumi aksara. 2006) hlm 13

[5] Suprrapti Slamet I.S, dkk. Pengantar klinis (Jakarta: UI press.2003) hlm 70

[6] Nurman b. Sudhd berg psikologi klinis (Yogyakarta: pustaka pelajar. 2007) hlm 202

[7] Ibid hlm 203

[8] Lookcit Suprapti Slamet I.S hlm 68

[9] http://yusack.blogspot.com/2011/02/terapi-latah-dengan-pendekatan.html

[10] Yustinus semiun, Kesehatan mental (Yogyakarta: kanius. 2006) hlm 520

[11] Lookcip hlm Gerald Corey hlm 209

[12] http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_psikologi_proyektif/bab3-beberapa_pendekatan.pdf

[13] Gerald corey, teory dan praktek konseling dan psikoterapi (bandung: refika aditama. 2009) hlm 208

[14] Latipun, psikologi konseling ( malang: UMM press. 2008) hlm139

Tidak ada komentar:

Posting Komentar